Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kiai Said Sebut Empat 'Perang Besar' yang Harus Dimenangi Warga NU

Kiai Said Sebut Empat 'Perang Besar' yang Harus Dimenangi Warga NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyebutkan beberapa perang besar yang harus dimenangkan warga NU. Perang yang dimaksud di sini bukanlah secara fisik namun perang untuk saling memberi pengaruh agar dapat merebut, menguasai, dan mengubah cara pikir masyarakat.


“Pada akhirnya suatu bangsa akan tunduk dan bergantung pada bangsa lain. Ini bukan perang fisik, tapi perang pengaruh. Lebih bahaya dari perang fisik,” tutur Kiai Said secara virtual dalam Peringatan Haul Emas ke-50 KH Abdul Wahab Chasbullah, Selasa (22/6) malam.


Pertama, perang kebudayaan pop. Sejak bangun hingga tidur, orang-orang saat ini dijejali konten-konten seperti film, musik, permainan, dan animasi dari berbagai kebudayaan di dunia. Sayangnya, banyak anak-anak muda yang terpengaruh oleh perang kebudayaan pop ini.


Kedua, perang digital. Disebutkan, semua negara di belahan dunia saat ini tengah berlomba-lomba memproduksi platform digital untuk menciptakan ketergantungan dan memotret perilaku bangsa lain agar selalu dalam kendali.


“Negara-negara besar ini bagaimana mengupayakan bisa menguasai segalanya, mengusai negara kecil, segalanya, termasuk database. Jangan dikira ini masalah kecil. Ini data kita yang 270 juta sudah bocor, sudah dikuasai luar negeri,” kata Pengasuh Pesantren Luhur Al Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan itu.


Dengan ketergantungan pada negara lain yang menguasai database, maka sebuah negara sudah tidak bisa mandiri lagi. Ia pun berharap hal tersebut tidak terjadi kepada bangsa Indonesia.


Ketiga, perang biologi. Kiai Said menyebutnya sebagai perang baru sejak ada pandemi Covid-19. Dicontohkan, negara-negara yang mampu memproduksi vaksin saat ini akan keluar sebagai pemenang dalam perang biologi ini. Sementara negara yang tidak mampu dan hanya bisa mengimpor, akan kalah.


Padahal lanjutnya, virus Covid-19 saat ini sudah muncul banyak varian yang lebih ganas. Salah satunya adalah varian Delta dari India yang lebih cepat menular daripada virus Covid-19 yang semula. Karena lebih ganas dan cepat menular maka membutuhkan vaksin yang lebih canggih lagi.


“Kita belum mampu membuat vaksin yang pertama, pandeminya sudah meningkat ke level yang ketiga. Ini akan ada terjadi perang vaksin. Amerika, Jerman, Tiongkok. Kita ini hanya penonton, bisanya hanya importir,” tegas Kiai Said.


Penguasa industri kesehatan akan menjadi panglima yang bisa mempengaruhi kebijakan suatu negara. Menurut Kiai Said, Indonesia akan didikte oleh negara lain yang mampu memproduksi vaksin.


“Mudah-mudahan tidak separah atau tidak sebahaya yang kita bayangkan. Tapi jelas kita akan didikte oleh negara yang punya vaksin,” harapnya.


Keempat adalah perang makanan, air, dan energi. Negara-negara yang memiliki sumber-sumber itu semua akan mampu menjadi penguasa global. Kiai Said menegaskan, Indonesia sebagai bangsa dan negara berdaulat harus mampu memperkokoh eksistensi bangsa.


Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan dan pengendalian serta pengolahan polusi sampah, terutama sampah plastik, harus segera dilakukan karena ancaman lingkungan menjadi ancaman kehidupan.


“Indonesia ini juara nomor dua sampah plastik, setelah China. Jadi juara tapi juara buang sampah plastik di laut. Itu akan merusak ekosistem laut dan akan merusak lingkungan,” kata Profesor Bidang Ilmu Tasawuf dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur ini.


Itulah perang-perang besar di era 5.0 yang harus dimenangkan warga NU. Kiai Said berharap, warga NU tidak tertinggal sehingga kalah dalam perang-perang besar itu. Ia mendorong para santri dan kader-kader NU untuk segera menguasai era digital.


“Kita tidak boleh ketinggalan dengan pihak lain. Kita harus bisa mewujudkan smart people yang bisa menjawab tantangan zaman, bukan hanya sebagai objek dan pasar dalam kompetisi global. Digital talent dan cyber army harus diperbanyak dan diperkuat agar mampu mewujudkan kedaulatan digital di Indonesia, terutama kita warga NU,” pungkas alumni Universitas Umm Al-Quro, Makkah, Arab Saudi itu.


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Muhammad Faizin

Posisi Bawah | Youtube NU Online