Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Ketua Ma'arif NU: Pemimpin Perlu 'Ngopi' Hadapi Perubahan Zaman

Ketua Ma'arif NU: Pemimpin Perlu 'Ngopi' Hadapi Perubahan Zaman
Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, NU Online

Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif PBNU, H Zainal Arifin Junaidi mengingatkan ada satu prinsip yang menjadi pegangan bagi seorang pemimpin, yakni What is the right way to do and how to do it in the right way (Tahu apa yang terbaik untuk dilakukan dan tahu bagaimana melakukannya dengan baik). Prinsip tersebut menurutnya berlaku sepanjang masa.

 

Untuk menerapkan prinsip itu, menurutnya, seorang pemimpin harus melakukan beberapa hal. Kiai Arjun, sapaan akrabnya meringkasnya dengan Ngopi, Ngorak, Ngopil, dan Merokok.

 

"Ngopi maksudnya Ngolah Pikir baik literasi maupun numerasi. Ini memiliki dua pengertian. Pertama, mengisi, mengasah dan mengolah otak, baik otak sendiri maupun otak yang dipimpin," kata Kiai Arjun saat Webinar bertajuk Kepala Sekolah sebagai Chief Executife Officer (CEO) yang Andal, Hebat, dan Berdaya Saing, Selasa (29/6).

 

Seorang pemimpin juga harus berpikiran terbuka atau open minded. Karenanya itu perlu terus meningkatkan pengetahuan dan wawasan dirinya. "Untuk keberhasilan kepemimpinannya di masa kini dan yang akan datang, pemimpin pun harus meningkatkan pengetahuan dan wawasan yang dipimpinnya," kata Kiai Arjun.

 

​​​​​​​Mengikuti ngolah pikir, hal kedua yang harus dilakukan, kata Kiai Arjun, adalah melakukan pemusatan pikiran atau konsentrasi dalam melaksanakan amanat, tugas pokok dan fungsinya.


Selanjutnya, Kiai Arjun membeberkan istilah Ngorak yaitu Ngolah Karakter. Dalam konsep Ki Hajar Dewantara, kata dia, disebut sebagai olah karsa. Nilai karakter yang hendak dibangun pendidikan LP Ma'arif NU, yakni religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, juga harus terus diolah seorang pemimpin.

 

"Menurut Ki Hajar Dewantara, nantinya akan mengkristalisasi menjadi lima nilai utama karakter, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas," ungkapnya.


Langkah berikutnya melalui apa yang dimaksud Ngopil atau Ngolah Keterampilan. Seorang pemimpin, tegas dia, harus terus menerus meningkatkan kemampuan teknisnya yang tentu saja disesuaikan dengan jenjang kepemimpinannya.

 

"Meski pada jenjang kepemimpinan atas kemampuan teknis tak harus lebih besar dari kemampuan konseptual, sebagaimana kepemimpinan jenjang bawah, namun tetap saja kemampuan teknis tetap diperlukan," lanjutnya.


Tak kalah penting adalah ROKOK yang mencakup Rencana, Organisasi, Koordinasi, Operasionalisasi dan Kendali. "Artinya seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan manajerial," jelas Kiai Arjun.


Pemimpin di era Revolusi Industri 4.0
Kiai Arjun mengatakan saat ini masyarakat sudah berada pada era Revolusi Industri 4.0. Bahkan, di akhir 2019 Jepang sudah menyatakan memasuki era revolusi industri 5.0 yang sangat berbeda dengan sebelumnya.

 

Kiai Arjun berpandangan, manusia akan mendesain dunia dan mengubah realitas di sekitarnya dengan perubahan secara atom dan molekul, perubahan secara nanoteknologi ditambah dengan segala sesuatunya di dunia yang terkoneksi dengan internet.

 

"Kita melihat, di setiap fase, selalu ada hal baru yang muncul dan ada yang punah. Hanya yang terbaik yang akan bertahan," paparnya.

 

Karena itu, pemimpin dan organisasi yang tidak beradaptasi dengan cepat akan punah. Pemimpin harus bergerilya, terkoneksi, berkolaborasi, terus belajar, terbuka akan perubahan, memiliki tim yang bergairah dan semangat maju, serta memiliki dan mengadaptasi teknologi atau cara yang lebih baik.

 

"Pemimpin juga harus berani, mau menerima, mendorong, dan memotivasi tim untuk memberikan feedback terhadap kepemimpinannya demi kemajuan bersama. Akan lebih baik ketika pemimpin juga dapat menantang dirinya untuk keluar dari zona nyaman dengan melakukan coaching dan menerima feedback dari orang di luar organisasi," kata Kiai Arjuna.

 

Dengan itu, perubahan. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus menerus melakukan perubahan. Perubahan pada organisasi merupakan bagian dari pengembangan organisasi. Perubahan organisasi memerlukan peran kepemimpinan dan keterlibatan group decision, yakni kelompok yang sengaja dibentuk untuk suatu tugas tertentu dengan fungsi dan tugas, mengawali, mencari informasi, menentukan masalah, mencari wawasan, memberikan penilaian, dan menangani keputusan.

 

"Perubahan organisasi adalah berubahnya individu, lingkungan kerja, dan organisasi secara keseluruhan menjadi lebih baik," tegas Kiai Arjun.

 

Selain Kiai Arjun, hadir sebagai pembicara dalam webinar tersebut Rektor Unisma Prof Masykuri Bakri dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Wahid Wahyudi.

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Muhammad Faizin

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya