Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Aswaja Materialis, Perspektif Baru Atasi Problem Alienasi Kaum Lemah

Aswaja Materialis, Perspektif Baru Atasi Problem Alienasi Kaum Lemah
Buku Menuju Aswaja Materialis. (Foto: Istimewa)
Buku Menuju Aswaja Materialis. (Foto: Istimewa)

Malang, NU Online
Penyusunan buku ‘Menuju Aswaja-Materialis: Aswaja, Sains Marxisme dan Post-Moderatisme Islam’ dilandasi kegelisahan atas banyaknya problem yang terus bermunculan. Misalnya, problematika alienasi kaum mustadh’afin (kaum lemah).


Sedangkan pemikiran aswaja yang ada saat ini seolah kehilangan nilai progresif dan emansipatifnya. Oleh karena itu, Aswaja Materialis hadir sebagai tawaran perspektif baru yang lebih segar dalam melihat dan menghadapi problematika akibat kapitalisme.


Hal tersebut disampaikan penulis buku, Moh Roychan Fajar, saat didaulat berbicara dalam forum bedah buku yang diinisiasi Pusat Studi Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat (PSP2M) Universitas Brawijaya Malang, Selasa (6/7).


Forum bedah buku hasil kerja sama dengan Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyin ini menghadirkan dua orang pembedah, yaitu Ketua PSP2M Unibraw Mohamad Anas, dan penulis buku ‘Ontosofi Ibnu Arabi’ Fahmy Farid Purnama. 


Menanggapi buku karya Moh Roychan tersebut, Mohamad Anas menyampaikan beberapa catatan. Bagi dia, pembaharuan pemikiran Aswaja sebelumnya secara substansial telah dilakukan para pemimpin NU pada zamannya.


“Contoh, KH Ahmad Shiddiq mengenai prinsip pergaulan hidup bermasyarakat dan bernegara. Fiqih Sosial yang diusung KH MA Sahal Mahfudh. Gus Dur dengan Fiqih sebagai etika sosial. Puncaknya, KH Said Aqil Siroj mendorong Aswaja sebagai manhaj al-fikr,” paparnya.


“Maka, hal ini bukanlah tafsir aswaja yang baru. Sebab, sebelumnya sudah banyak dilakukan. Hanya saja, buku ini melengkapi Tafsir Aswaja Progresif yang sudah ada sebelumnya dengan menggunakan pendekatan materialisme,” sambung Anas.


Namun, lanjut dia, Moh Roychan sangat terlihat jiwa muda yang menggebu-gebu dalam penyusunan bukunya. Hal ini sejalan dengan tanggapan yang disampaikan pembedah kedua, Fahmy Farid Purnama. 


Mendobrak normativitas
Kendati demikian, penulis buku ‘Ontosofi Ibnu Arabi’ ini tetap mengapresiasi keberanian Roychan dalam mendobrak normativitas atau hal-hal yang biasanya dianggap normatif. 


“Kegelisahan yang muncul dari problematika alienasi kaum mustadh’afin tersebut kemudian ditanggapi penulis dengan kacamata sains marxis,” lanjut Fahmy. 


Pegiat LSF Nahdliyyin ini juga menyebutkan beberapa catatannya. Antara lain ia merasa penafsiran Aswaja Materialisme masih terasa kurang halus. “Ada beberapa penafsiran yang kurang jernih,” ujar Fahmy.


Menurut dia, akan lebih halus misalnya jika menyebutkan respons dakwah kenabian dalam menghadapi alienasi kaum mustadh’afin. Dakwah kenabian di Makkah sukses karena membawa nilai-nilai pondasi pembebasan kaum lemah tersebut.


“Kemudian, penolakan dari kaum Quraisy muncul karena memang dakwah kenabian membawa pesan-pesan kesetaraan dan kemanusiaan yang tentu menyalahi hegemoni ekonomi masyarakat Quraisy,” jelasnya. 


Pantauan NU Online, bedah buku yang dimoderatori Syaiful Anam ini berlangsung panas sekaligus seru. Pertanyaan, kritik, dan sanggahan disampaikan secara ilmiah membedah hipotesis-hipotesis yang ditulis Moh Roychan ini.  


Kontributor: Nila Zuhriah
Editor: Musthofa Asrori

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya