Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Simposium Internasional Kosmopolitanisme Islam Nusantara Diluncurkan

Simposium Internasional Kosmopolitanisme Islam Nusantara Diluncurkan
Kosmopolitanisme Islam Nusantara: Jejak Spiritual dan Jejaring Intelektual Nusantara di Jalur Rempah
Kosmopolitanisme Islam Nusantara: Jejak Spiritual dan Jejaring Intelektual Nusantara di Jalur Rempah

Jakarta, NU Online
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemenristekdikti) Hilmar Farid meluncurkan secara resmi Simposium Internasional bertema Kosmopolitanisme Islam Nusantara: Jejak Spiritual dan Jejaring Intelektual Nusantara di Jalur Rempah yang digelar oleh Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).


Dalam sambutannya, Hilmar menjelaskan bahwa selama ini, Jalur Rempah yang diungkapkan hanya perihal cerita Eropa. Padahal, jalur ini sebetulnya sudah terbentuk sejak ribuan tahun yang lalu, menghubungkan bangsa Indonesia dengan yang lain sebelum ada negara bahkan kerajaan.


“Kosmopolitanisme itu sesuatu yang nyata. Jalur rempah ini juga jalur komunikasi lintas budaya,” katanya pada peluncuran simposium tersebut pada Kamis (22/7).


Hilmar menegaskan bahwa simposium ini hendak mempertemukan berbagai macam sumber dan kalangan mengenai kosmopolitanisme dan rempah-rempah dari luar Tiongkok, India, dan Eropa. Sebab pada mulanya, cerita kosmopolitanisme itu hanya berkutat pada kerajaan, padahal banyak cerita dari orang biasa.


Ia mengungkapkan bahwa ada Jalur Sutra Maritim yang diinisiasi Tiongkok dalam rangka merajai pembangunan dunia, one belt one route. Pasalnya, Tiongkok memang imperium besar di masa lalu. Bedanya dengan Jalur Rempah, Tiongkok berambisi menjadi imperium, sedangkan Nusantara yang kini Indonesia hendak menjadi sebuah jaringan.

 

“Tidak saling mengalahkan, tetapi jaringan. Mengumpulkan banyak informasi dari jaringan yang berbeda-beda ini,” katanya.


Memang, katanya, kosmopolitanisme itu berpikir melampaui kampungnya sendiri tanpa meninggalkan akarnya. “Narasi ini bisa memperkaya pemahaman kita tetapi juga kenyataan hidup sekarang ini. Kalau punya manfaat 1.000 tahun lalu, mestinya juga bermanfaat sekarang ini,” tegas Hilmar.


Ia juga menginginkan agar rempah-rempah juga dapat menjadi solusi di tengah pandemi seperti saat ini. Sebab, 20 persen industri farmasi, menurutnya, berasal dari pengetahuan lokal.


Rempah-rempah adalah sumbernya. Pengetahuan masyarakat mengenai rempah-rempah ini sudah saatnya dibawa ke muka membawa solusi di tengah pandemi ini.


“Harapannya ini akan menjadi tonggak dalam perjalanan kita memperkuat jalur Rempah. Rempah tidak bakal jadi rempah kalau tidak ada pengetahuan masyarakat mengenainya,” katanya.


Ia mendapat informasi mengenai obat daya tahan tubuh yang berasal dari Azerbaijan. Karenanya, ia sangsi jika di Indonesia tidak ditemukan obat serupa.

 

Jalur Rempah dan Jejak Spiritual
Sementara itu, Dekan Fakultas Islam Nusantara Ahmad Suaedy menekankan pada jejak spiritual dan jaringan intelektual di Jalur Rempah. Ini sejak awal dari Kemendikbudristek bahwa riset teman-teman di Kemendikbud lebih ke fisikal, material, seperti arkeologi. “Kami melengkapi dengan non-material dengan spiritual dan intelektual,” katanya.


Hal ini juga mencakup tentang ramuan, baik untuk kesehatan, kosmetik, hingga masakan. Ilmu mengenai hal demikian, menurutnya, sudah banyak diserap bangsa lain, tetapi bangsa ini tidak menyadarinya.


“Kita ingin mengundang peneliti, akademisi, aktivis, bukan hanya orang kampus, untuk turut serta berkontribusi,” kata peneliti wilayah Asia Tenggara itu.


Ia menjelaskan bahwa, laut di masa silam merupakan penghubung, bukan pemisah. Namun, adanya ‘daratisasi’ yang dibentuk bangsa kolonial mengubahnya hingga kesadaran mengenai laut atau maritim dari bangsa ini hampir hilang, pun kesadaran mengenai sungai. Ia mencontohkan adanya pembangunan jalan oleh Daendels.


“Sebenarnya, kita punya tradisi dalam spiritual dan kepercayaan. Jadi bukan semata dari luar. Itu titik temu kebudayaan. Saya menyebutnya sintesis,” katanya.


Adapun topik yang dibicarakan dalam simposium ini adalah sebagai berikut:
1.    Perempuan Nusantara dan Jalur Rempah
2.    Jaringan Spiritual dan Intelektual di Jalur Rempah
3.    Bandar, Pelabuhan, dan Muara Sungai sebagai Nadi Jalur Rempah
4.    Manuskrip Rempah-rempah Nusantara di Eropa dan Timur Tengah
5.    Dialog antara Islam dan Sistem Kepercayaan Lain
6.    Pola Perubahan Pendidikan Islam
7.    Manuskrip dan Negosiasi Budaya di Jalur Rempah
8.    Membangun Metodologi Kreatif dalam Keilmuan Sosial dan Humaniora
9.    Transmisi Tradisi Oral dalam Masyarakat Nusantara di Jalur Rempah


Terkait linimasa simposium tersebut adalah sebagai berikut:

  • Pengiriman abstrak (maksimal 500 kata) dapat dilakukan mulai 21 Juni - 25 Juli 2021.
  • Seleksi abstrak dari 25 Juli sampai 30 Juli 2021.
  • Pengumuman penerimaan abstrak 31 Juli 2021.
  • Artikel penuh dan salindia presentasi dapat dikirimkan paling lambat tanggal 20 Agustus 2021.
  • Simposium internasional pada 30-31 Agustus 2021.


Selain mengundang pembicara dari kalangan akademisi, aktivis, pendakwah, dan sebagainya dengan membuat abstraksi tulisan, kegiatan ini juga mengundang pembicara-pembicara utama sebagai berikut:
1.    KH Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU)
2.    Nadiem Anwar Makarim (Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
3.    H Maksoem Machfudz (Rektor Unusia)
4.    Ahmad Suaedy (Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia)
5.    R Michael Feneer (Guru Besar Humaniora di Pusat Studi Asia Tenggara Universitas Kyoto, Jepang)
6.    Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE (Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
7.    Dr. Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud Ristek)
8.    Prof. Peter (P.B.R.) Carey (Pengajar Sejarah di Universitas Indonesia)
9.    Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum (Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
10.    Dr. Elaine van Dalen (Universitas Columbia, Amerika Serikat)
11.    Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.A. (Departemen Sejarah Universitas Indonesia)
12.    Sonny Chr Wibisono (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)
    

Informasi selengkapnya, dapat berkunjung ke situsweb resmi Simposium Islam Nusantara Unusia berikut di https://symposium.unusia.ac.id/ .


Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhammad Faizin

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya