Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Internasional Keislaman Risalah Redaksi English Opini Obituari Video Tokoh Hikmah Arsip

Melihat Perkembangan PCINU Belgia

Melihat Perkembangan PCINU Belgia
Sebagian anggota dan pengurus PCINU Belgia usai Konfercab pada 24 Juli 2021. (Foto: PCINU Belgia)
Sebagian anggota dan pengurus PCINU Belgia usai Konfercab pada 24 Juli 2021. (Foto: PCINU Belgia)

Jakarta, NU Online

Terbentuk pada 4 Juni 2016 lalu, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belgia terus melakukan pengembangan organisasi. Saat ini, Ketua PCINU Belgia terpilih Miftahul Huda memperkirakan anggotanya berjumlah 100 orang. Hal itu berdasarkan rekapitulasi melalui penyebaran formulir daring sebelum pelaksanaan Konfercab pada 24 Juli 2021 lalu. 

 

"Kami memperoleh data bahwa terdapat 40 KK yang menyatakan diri sebagai warga Nahdlatul Ulama. Dengan rata-rata setiap KK terdiri dari 2-3 orang, maka dapat diestimasi bahwa jumlah anggota Nahdlatul Ulama di Belgia saat ini telah mencapai 100 orang," kata Miftah kepada NU Online pada Selasa (27/07/2021).

 

Jumlah ini, jelasnya, terlihat ‘hanya’ setara dengan anggota NU tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) di kecamatan atau bahkan ranting di desa yang ada di Indonesia. Namun, hal ini menjadi luar biasa untuk sebuah organisasi lintas negara, terlebih di Belgia yang penduduk Muslimnya hanya berjumlah 7 persen di antara 12 juta penduduk keseluruhannya.

 

Meskipun demikian, jumlah tersebut sudah lebih banyak dari awal pembentukannya, yakni 48 orang. Meskipun demikian, jumlah ini telah memenuhi syarat minimal pembentukan Pengurus Cabang Istimewa menurut Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama Pasal 11 Ayat 1 yang mensyaratkan minimal 40 orang anggota.

 

Miftah mengakui bahwa pertumbuhan jumlah anggota PCINU Belgia dalam lima tahun terakhir memang tidak begitu pesat karena tingkat kedatangan dan kepulangan WNI di Negeri Coklat ini juga cukup tinggi, seperti di perguruan tinggi dan kedutaan. Akibatnya, data mengenai jumlah faktual warga Nahdlatul Ulama di kalangan mahasiswa dan pegawai kedutaan yang tinggal di Belgia hanya dalam waktu satu hingga dua tahun saja, misalnya, sangat sulit didapatkan.

 

"Dengan demikian, kita dapat mengasumsikan bahwa jumlah warga Nahdlatul Ulama di Belgia sebenarnya lebih dari 100 orang," kata dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur itu.

 

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penjaringan dan pendampingan kader dengan melakukan beragam promosi beasiswa studi di Belgia bagi Nahdliyin di Indonesia, khususnya, dan di mancanegara guna memperkuat penyemaian nilai-nilai NU di Benua Biru pada umumnya, dan khususnya bagi Belgia.

 

Lebih lanjut, Miftah menjelaskan bahwa jumlah anggota PCINU Belgia tersebar di sejumlah daerah. Sebagian besar di kawasan Flanders yang berbahasa Belanda, seperti di Provinsi Antwerp, Limburg, East Flanders, dll. Ada pula yang tinggal di kawasan Walonia yang berbahasa Prancis, seperti di Provinsi Walloon Brabant, Namur, dan Luxembourg. Sebagian kecil lainnya tinggal di komunitas DG yang berbahasa Jerman, seperti di bagian timur Provinsi Liége.

 

Di antara yang sudah terdaftar, mayoritas adalah masyarakat Muslim diaspora yang sudah tinggal, berkeluarga, dan bekerja di Belgia selama beberapa tahun. Ibu Ann Djuzman yang menjadi tuan rumah Konfercab, misalnya, adalah perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di bidang pertanian dari perguruan tinggi di Belgia pada akhir tahun 1970-an. Anggota PCINU ini sudah tinggal di Belgia selama lebih dari empat dekade.

 

Sebagai organisasi yang masih relatif muda dengan mayoritas anggota adalah masyarakat muslim diaspora, fokus kegiatan PCINU Belgia selama ini adalah pada penguatan aspek ideologi (aqidah) dan ibadah (fiqih) melalui pengajian, istighasah, atau kajian rutin keislaman yang memang tidak mudah didapatkan di negeri yang minoritas Muslim.

 

Ada pula kegiatan insidentil semacam seminar, road show Islam Nusantara, pesantren kilat, dan peringatan hari besar Islam yang dilaksanakan dalam rentang 2016-2019. Namun, sejak awal 2020 hingga medio 2021, akibat lockdown pandemi Covid-19, kegiatan-kegiatan PCINU mengalami kevakuman.

 

"Insyaallah akan diaktivasi kembali seiring terbentuknya kepengurusan baru periode 2021-2023," kata mahasiswa doktor bidang linguistik dan sastra di Universitas Antwerpen itu.

 

PCINU Belgia secara formal baru terbentuk lima tahun silam, bertepatan dengan terselenggaranya Konfercab pertama pada tanggal 4 Juni 2016. Kepengurusan PCINU Belgia tahun 2021-2023 saat ini merupakan angkatan keempat setelah sebelumnya berada di bawah kepemimpinan H Baktiar Hasan dan Ustadz Nanang Suprayogi (2016-2017), H Baktiar Hasan dan Ustadz Arief Wibowo (2017-2019), serta H Baktiar Hasan dan Ustadz Singgih Cahyono (2019-2021).

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya