Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ngaji Suluk Maleman, Gus Mus: Kita Harus Berterima Kasih Masih Ditegur

Ngaji Suluk Maleman, Gus Mus: Kita Harus Berterima Kasih Masih Ditegur
KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. (Foto: dok. NU Online)
KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. (Foto: dok. NU Online)

Jakarta, NU Online

KH Ahmad Mustofa Bisri memberi pesan saat menjadi salah satu pengisi dalam Suluk Maleman edisi ke-115. Pria yang karib disapa Gus Mus itu mengingatkan jika pandemi ini merupakan wabah kemanusiaan, bukan persoalan antaretnis, organisasi maupun keagamaan. Ia juga mengungkapkan bahwa manusia seharusnya berterima kasih masih ditegur.


Sebagai pembukanya, Gus Mus menjelaskan betapa Tuhan begitu memuliakan manusia yang bahkan diangkat dari hamba menjadi penguasa di bumi ini. Hanya saja seringkali manusia terlalu sadar sebagai penguasa sehingga membuat lupa pada kehambaannya.


“Hal itulah yang seringkali membuat kesalahan menumpuk-numpuk. Sehingga dengan semakin banyaknya kesalahan manusia kita akhirnya disetrap oleh Rabb atau yang bisa disebut Sang Pendidik,” ujar Gus Mus akhir pekan lalu.


Hubungan sosial yang dulu terjalin dengan baik sekarang ini dirasakannya hampir sudah tidak ada lagi. Banyak yang melupakan persaudaraan antarmanusia, bahkan melupakan bahwa semuanya bersaudara dari Nabi Adam.

 


“Namun sekarang ini sesama orang Islam, bahkan banyak ulama yang lupa dawuhnya Kanjeng Nabi, pemimpin kita sendiri, jika kita ini bersaudara,” ujar Gus Mus.


Dawuh Gus Mus, dengan pandemi ini manusia tengah diperingatkan jika dunia yang dikuasainya memang enak tapi begitu menipu. Kalaupun senang dengan dunia diharapkan jangan terlalu akrab dan harus berjarak. 


“Kita semua sibuk dengan urusan dunia. Tak berjarak dengan dunia ini. Tapi dengan keluarga, anak, bahkan dengan Allah justru berjarak sangat jauh. Tidak jarang shalat justru jadi sembilan,” terangnya.


Oleh karena itu, Gus Mus menyebut sudah seharusnya saat ini umat Muslim justru berterima kasih atas kondisi yang tengah terjadi. Ini menjadi bentuk teguran dari Allah.


“Kita harus berterima kasih karena Allah masih ngeman, kita masih ditegur. Salah satu caranya ingatlah jika kita semua ini masih bersaudara,” ungkap Gus Mus.


Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang itu juga berharap banyaknya kesalahan yang dilakukan umat manusia bisa terbebaskan dengan pandemi kali ini.

 


“Karena kalau dalam pemahaman Islam, sakit itu, ketidaknyamanan itu akan menjadi kafarat atau menjadi pembebasan dari kesalahan yang telah dilakukan,” harapnya.


Rais ‘Aam PBNU 2014-2015 itu juga berharap dengan kondisi seperti sekarang ini harusnya setiap manusia dapat menghentikan narasi kebencian. Baik dari para pemimpin, ustadz dan kiai maupun seluruh umat manusia. 


“Jangan sekali-kali orang yang menjadi tokoh dan didengarkan orang banyak justru mengeluarkan ujaran kebencian. Jangan menyalahkan orang lain, siapa yang mau menangani masalah yang berat ini?” ujarnya.


Dia pun meminta agar segala persoalan diserahkan pada ahlinya masing-masing. Persoalan kesehatan biarkan dokter dan ahli kesehatan sementara persoalan ekonomi harus diserahkan pada ekonom.


“Jangan sampai orang yang tanpa latar belakang yang jelas bicara persoalan dunia, bicara dunia hingga akhirat. Bahkan berfatwa soal surga dan neraka. 


Sementara itu, Habib Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Ngaji NgAllah Suluk Maleman menyebut tema Sembuh, Indonesia Sembuh yang diangkat kali ini memang bukan sekadar judul melainkan doa bersama agar bangsa ini bisa segera diberi kesembuhan. Tak hanya fisik tapi keseluruhan.

 


“Lewat pandemi mari tingkatkan gotong royong. Itulah kekuatan kita. Warga bantu warga,” ajaknya. 


Dikatakan Habib Anis, paling penting saat masa pandemi seperti sekarang ini adalah membangun kegotongroyongan. Yakni mulai ditingkat terkecil seperti RT maupun RW bahkan desa. Hal itulah yang nantinya akan membantu masyarakat untuk bangkit kembali.


“Saat ini ada pelajaran besar. Pandemi membuka betapa banyak kekurangan yang dimiliki manusia,” imbuhnya.


Dalam kesempatan itu Gus Mus juga turut membacakan doa dan puisinya. Ngaji NgAllah yang digelar secara streaming itu juga turut menghadirkan Prof Saratri, Dr Darwito, serta Dr Rimawan Pradiptyo, penggagas gerakan Sonjo, gerakan gotong royong warga menghadapi pandemi yang berbasis di Yogyakarta dan kini berkembang di banyak tempat.


Ribuan penonton tampak menyaksikan siaran langsung dari berbagai media sosial Suluk Maleman official yang juga diramaikan koleksi lagu dari Sampak GusUran.


Pewarta: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

Posisi Bawah | Youtube NU Online