Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Yahya Ungkap Upaya Gus Dur agar RI Tidak Jadi Negara Introvert

Gus Yahya Ungkap Upaya Gus Dur agar RI Tidak Jadi Negara Introvert
Katib 'Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). (Foto: NU Online)
Katib 'Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Kelakar KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat menghadapi pernyataan ahli politik internasional yang menilai Indonesia sebagai negara introvert, adalah dengan mengatakan bahwa selain negara tirai besi dan bambu, ada juga negara tirai gombal, yaitu negara yang tidak aktif dan selalu menutup diri dalam pergaulan internasional. 


"Saya secara bercanda bilang, dulu itu ada negara tirai besi yaitu Uni Soviet. Ada juga negara tirai bambu yaitu China. Nah kita ini (Indonesia) negara tirai gombal. Karena kita menutup diri, tidak aktif (dalam pergaulan internasional)," Kata Katib Aam PBNU berseloroh dalam acara bertajuk Mencerna Politik ala Gus Dur di Republik Merdeka TV, Kamis (29/7).


Gus Yahya menjelaskan, itulah sebab, mengapa Gus Dur berusaha mengubah dan membawa Indonesia berperan aktif atau dengan kata lain adalah ekstrovert. Karena pada saat itu masih banyak negara-negara di bagian Eropa, bahkan Amerika tidak menyadari keberadaan negara Indonesia.


"Dan Indonesia, di era Gus Dur aktif berperan serta berkontribusi positif dalam tatanan internasional," jelas Kiai yang dimandatkan sebagai tenaga ahli perumus kebijakan Dewan Eksekutif Agama-agama di Amerika Serikat-Indonesia itu.


Lebih jauh, Gus Yahya juga mengungkapkan latar belakang gagasan Gus Dur menormalisasi hubungan antara Indonesia dengan Israel yang masih banyak dipertentangkan hingga kini, bertujuan agar dunia internasional mengakui dan memasukkan Israel ke dalam komunitasnya. 


"Jadi, bukan saja soal komunikasi publik, tapi juga ada political game yang dilakukan oleh Gus Dur. Sehingga kalaupun ada isu normalisasi dengan Israel, Gus Dur mengincar lebih dari itu," ungkap Gus Yahya.


Dijelaskannnya, upaya agar Israel diakui dan disintegrasikan ke dalam tatanan dunia baru, serta didefinisikan dengan jelas batas-batas teritorialnya, adalah supaya ke depan Israel tidak lagi semena-mena melanggar batas-batas yang sudah ditetapkan oleh dunia internasional. 


"Ini sebetulnya yang diinginkan oleh Gus Dur. Karena ia mengetahui bahwa pasca kejadian perang dunia kedua Israel belum masuk ke dalam bingkai tatanan dunia baru," ujar Juru Bicara (Jubir) Presiden Ke-4 itu.


Kemudian, ia menegaskan, mengingat isu ini sangat mendalam dan memerlukan proses panjang, oleh karena itu, melalui penormalisasian hubungan Indonesia-Israel Gus Dur mengajak masyarakat untuk lebih terbuka dalam mencerna diskusi-diskusi menyoal pentingnya melibatkan Israel dalam komunitas Internasional. 


"Pentingnya di mana, ya supaya Israel tidak terus-menerus melakukan ekspansi," tegas Gus Yahya. 


"Karena kita tidak ada pilihan selain bersama-sama membangun tatanan atas dasar hukum the rules based international order. Nah apapun yang terkait dengan Israel sekarang ini basisnya ada adu kekuatan militer," tandasnya. 


Jadi, tujuan prioritas Gus Dur adalah supaya Israel masuk ke dalam tatanan dunia baru dan mengikuti norma-norma di dalamnya, termasuk penghargaan kepada perbatasan-perbatasan wilayah setiap negara. Karena, sebagaimana diketahui sampai saat ini Israel masih seenaknya melakukan ekspansi terhadap negara-negara yang berdekatan dengannya. 


"Karena dia merasa belum menjadi bagian dari tatanan dunia baru," imbuh Kiai lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada itu. 


Kontributor: Syifa Arrahmah 

Editor: Fathoni Ahmad

Posisi Bawah | Youtube NU Online