Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Lantik PCINU Mesir, Rais 'Aam PBNU: Kepengurusan di NU sebagai Khidmah

Lantik PCINU Mesir, Rais 'Aam PBNU: Kepengurusan di NU sebagai Khidmah
Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama pengurus PCINU Mesir. (Foto: dok istimewa)
Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama pengurus PCINU Mesir. (Foto: dok istimewa)

Jakarta, NU Online

Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa menjadi pengurus dalam Nahdlatul Ulama adalah bentuk khidmah. Hal ini disampaikan saat memberikan taujihat pada pelantikan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir di Kairo, Rabu (4/8/2021).

 

Karenanya, pengurus harus mengikuti arahan dan petunjuk para kiai dalam menjalankan roda organisasi.

 

Selain itu, mengingat sebagai khidmat, pengurus juga tidak boleh merasa telah melakukan perjuangan besar bagi NU. Sebab, perasaan demikian membuka ambang kehancuran bagi sebuah organisasi. Kiai Miftach menyampaikan bahwa ada dua hal yang banyak manusia tertipu karenanya, yakni kemampuan dan kesempatan. "Kemapanan, merasa mapan itu penyakit," kata Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur itu.

 

Kiai Miftach dengan segala kerendahan hati mengaku belum bisa berbuat apa-apa untuk NU, bahkan malu untuk menyebut membesarkan NU. Sebab, sejatinya, pengurus sendiri yang dibesarkan oleh NU karena NU sudah besar mengingat ajarannya yang sudah diterima lapisan masyarakat. Hal tersebut tidak lepas dari moderatisme yang menjadi dasar prinsip di dalam perjuangan dan perjalanan NU. Prinsip dasar itu memang sudah tersedia sejak para walisongo dalam perjalanan dakwahnya.

 

Namun, kebesaran NU ini, menurutnya, perlu ditunjang dengan upaya pengurusnya dalam mengembangkan organisasi ke arah yang lebih sistemik. Kebesaran anggota yang dalam beberapa survei dan penelitian mencapai ratusan juta, mestinya harus diikuti dengan kebesaran produk dan lainnya.

 

Sebab, kebesaran NU sementara ini masih menjadi sebuah bacaan bagi para pemerhati, entah karena cinta dan senang atau hanya karena kepentingan lima tahunan. "Semua memperhatikan kita. Semua organisasi memperhatikan kita, ada yang karena cinta dan senang, karena NU ada upaya untuk memposisikan diri sebagai miniatur Islam, ada yang memperhatikan karena punya kepentingan, dan kepentingan itu muncul tiap lima tahun sekali, ada juga yang memperhatikan gilirannya," katanya.

 

Di akhir sambutannya, Kiai Miftach berharap agar PCINU Mesir dapat menjadi teladan bagi PCINU-PCINU lainnya di dunia.

 

Selain melantik kepengurusan PCINU Mesir, Kiai Miftach juga melantik PCI Pencak Silat Pagar Nusa, dan meresmikan Sekretariat PCINU Mesir ditandai dengan penandatanganan prasasti.

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online