Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Tekad PP JQH NU Jadikan MTQ Ajang Silaturahim dan Kompetisi Syiar

Tekad PP JQH NU Jadikan MTQ Ajang Silaturahim dan Kompetisi Syiar
Ketua Umum Pengurus Pusat Jamiyyatul Qurro Walhuffadz  Nahdlatul Ulama (PP JQH NU), KH Saifullah Ma’sum
Ketua Umum Pengurus Pusat Jamiyyatul Qurro Walhuffadz  Nahdlatul Ulama (PP JQH NU), KH Saifullah Ma’sum

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Pusat Jamiyyatul Qurro Walhuffadz  Nahdlatul Ulama (PP JQH NU), KH Saifullah Ma’sum Al-Hafidz berkomitmen menjadikan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) sebagai ajang silaturahim dan kompetisi syiar dalam menyebarluaskan ajaran Islam yang bersifat universal.


“Kiranya kaderisasi melalui MTQ bisa menyemarakkan dakwah secara universal di berbagai penjuru dunia,” ujar Kiai Saifullah dalam sambutannya pada acara Penutupan MTQ Virtual Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan, Selasa (10/8) malam.


Dia menuturkan, dalam MTQ, keterlibatan masyarakat Muslim secara khusus hanya pada perlombaan saja. Sementara kegiatan seremonial lainnya juga melibatkan semua kalangan masyarakat dan agama. “Sebab semangat dari MTQ ini adalah semangat silaturahim, jadi acuan semua suku bangsa untuk terlibat,” tutur dia.


Diungkapkan, dalam memahami Al-Qur’an tidak bisa dengan sekedar mengetahui secara harfiah saja, tetapi juga memahami sebab-sebab dan konteks diturunkannya suatu ayat hingga makna dari satu kata yang dipakai di dalamnya. Sebab, Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman untuk menjalani berbagai macam aspek kehidupan.


“Oleh karena itu, kita perlu sekali mendesain dan merencanakan sebuah dakwah Al-Qur’an yang bagus dan serapi mungkin,” ungkap Kiai Saifullah.


“Bahkan kita juga perlu mempertimbangkan tentang dimensi waktu, tempat dan audiens karena dakwah saat ini tidak mudah,” sambungnya.


Saat ini, lanjut dia, keadaan umat muslim sudah terpisah jauh dalam jarak dan waktu dengan generasi pertama pendengar dan pembaca Al-Qur’an, maka seharusnya mereka bisa memanfaatkan keilmuan para alim ulama yang memepelajarinya terlebih dahulu untuk memahami dan mengamalkannya.


“Ini saya kira tantangan bagi kita semua, bagaimana cara menyampaikan berbagai macam hal kepada umat,” lanjut dia.


Dia juga mengapresiasi kiat PCINU Sudan atas MTQ yang diselenggarakan, dan berharap jejaknya diikuti oleh PCINU lain di berbagai penjuru dunia dengan menghadirkan pagelaran yang lebih variatif lagi, seperti Musabaqah Syarhil Qur’an dan inovasi baru bidang Tilawah. Hal demikian agar umat Islam tanah air tertarik dan terinspirasi untuk mengembangkan di masa mendatang.


“Kita tidak ingin mengalami kejumudan dalam hal ini, apalagi di tengah perkembangan teknologi yang kian masif dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.


Dia percaya, di tangan kader-kader Muslim Nusantara, inovasi-inovasi teranyar dalam dunia permusabaqahan akan tercipta. Berebagai macam langgam, lahjah (dialek), atau nadham dari berbagai suku di tanah air bisa melahirkan irama-irama baru Al-Qur’an yang tak kalah indah dari maqamat (variasi) di negara lain.


“Yaitu maqamat-maqamat baru yang khas Nusantara, misalnya,” kata kiai kelahiran Malang, Jawa Timur 61 tahun yang lalu itu.


Disebutkan Ketua PCINU Sudan Ustadz Moch Hibatullah Zain, MTQ virtual ini diikuti oleh empat belas peserta dari sebelas negara dan satu kontingen dari Keluarga Besar Nahdlattul Ulama (KBNU) Qatar. Jumlah itu menunjukan 50 persen dari PCINU dunia turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. 


“Tentu semua ini tujuannya tidak lain adalah memperkenalkan NU ke kancah internasional, dan juga sebagai ladang dakwah diaspora Nahdliyin atau warga NU yang ada di luar negeri,” kata dia.


Kontributor: Syifa Arrahmah
Editor: Syakir NF

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya