Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Sila yang Belum dan Sudah Ditegakkan di Indonesia menurut Habib Ja'far

Sila yang Belum dan Sudah Ditegakkan di Indonesia menurut Habib Ja'far
Garuda Pancasila, lambang Negara Indonesia. (Foto: NU Online)
Garuda Pancasila, lambang Negara Indonesia. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online
Dari lima sila dalam Pancasila, yang paling berhasil diterapkan di Indonesia adalah sila kedua 'Kemanusiaan yang adil dan beradab'. Sementara sila yang masih belum diterapkan dengan maksimal adalah sila kelima yaitu 'Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'.

 

Habib Husein Ja’far Al-Hadar mengatakan hal itu saat acara Milad Satu Tahun Khazanah Gus Nadirsyah Hosen (GNH) yang dilaksanakan secara virtual, Sabtu (21/8/2021).

 

 

"Dari lima sila yang kita jadikan sebagai dasar ideologi bangsa, menurut saya yang paling mempersatukan kita adalah sila kemanusiaan. Sementara keadilan masih belum," jelas Habib Husein Ja’far Al-Hadar.

 

Menurut Habib Husein, sebagai bangsa yang majemuk, terdiri dari berbagai macam suku, ras, gama, bahkan yang tidak beragama sekalipun, Indonesia mampu untuk tetap bersatu. Dalam tradisi Nadhliyyin, hal ini sesuai dengan prinsip ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan atas dasar kemanusiaan).

 

"Artinya, mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan," tutur Habib Husein mengutip ungkapan Sayidina Ali.


Dalam acara bertajuk Tak Kenal Lelah Mencintai Indonesia tersebut, Habib Husein mengungkapkan, belum diterapkannya sila kelima, tercermin dalam suasana bermedsos masyarakat Indonesia saat ini. Buktinya, akun-akun provokatif lebih banyak mendapat followres dibanding akun yang berkompeten.

 

"Akun yang hanya menjual sensasi dan kontroversi, itu yang lebih banyak mendapat perhatian. Seharusnya yang paling populer di media sosial adalah orang-orang yang memiliki kompetensi, sekarang kan tidak," ungkap penulis buku Tuhan Ada di Hatimu itu.


Dijelaskan oleh Habib Husein, selama ini media sosial telah banyak menimbulkan banyak reduksi, termasuk reduksi kompetensi. Misal saja sedang ramai isu Afganistan, tiba-tiba muncul para ahli Afganistan, muncul ahli politik soal Taliban. Padahal, mereka tidak mengerti apa-apa.

 

"Sementara mereka yang pakar di bidangnya, justru kurang mendapat panggung di medsos,” papar pria kelahiran Bondowoso, Jawa Timur itu.


Kalau mengikuti teori Nabi Muhammad saw, lanjut Habi Husein, seharusnya mereka yang lebih banyak mendapat perhatian adalah mereka yang lebih banyak menebar manfaat. Bukan mudarat.

 

Selain ketidakadilan di media sosial, dalam pandangan Habib Husein, kita juga masih belum mampu menegakkan keadilan hukum. "Banyak kasus-kasus besar semisal korupsi, tapi belum ditangani dengan baik," pungkasnya.

 

Kontributor: Muhamad Abror
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya