Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Konsep Hijrah Lahir Batin ala Habib Abdurrahman Asad Al-Habsyi

Konsep Hijrah Lahir Batin ala Habib Abdurrahman Asad Al-Habsyi
Ilustrasi: Hijrah memang berdasarkan peristiwa pindahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Muslim saat ini harus memahami hijrah yang harus dilakukan lahir dan batin.
Ilustrasi: Hijrah memang berdasarkan peristiwa pindahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Muslim saat ini harus memahami hijrah yang harus dilakukan lahir dan batin.

Jakarta, NU Online

Ketua Majelis Taklim dan Dzikir Baitul Muhibbin Habib Abdurrahman Asad Al-Habsyi menjelaskan konsep hijrah lahir batin. Menurutnya, Islam tidak menginginkan seseorang hanya melakukan hijrah sebatas kemasan. 

 

"Hijrah secara packaging itu bungkusannya hijrah, tetapi hatinya tidak hijrah. Hijrah yang diinginkan oleh Islam adalah hijrah yang lahir batin," ujar Habib Abdurrahman saat mengisi Pesantren Digital Majelis Telkomsel Taqwa (MTT), Kamis (12/8/2021). 

 

Ia mengutip sabda Rasulullah yang diriwatkan oleh Imam Bukhari. Disampaikan bahwa orang-orang yang berhijrah adalah mereka yang mampu meninggalkan semua larangan Allah. Bahkan, ulama salafusshalih membagi hijrah menjadi dua macam yakni hijrah bil jasad (hijrah fisik) dan hijrah fil qalbi (hijrah hati).

 

"Dalam Al-Qur’an, hijrah itu berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dalam makna lain, hijrah juga dapat diartikan meninggalkan sesuatu yang tercela kepada sesuatu yang lebih baik," lanjut Habib Abdurrahman.

 

Istilah hijrah secara etimologi berarti memutuskan, meninggalkan, dan menjauhi. Sedangkan kata hijrah secara terminologi memiliki arti sebuah proses peralihan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah. 

 

Habib Abdurrahman lantas mengutip firman Allah mengenai hijrah yang terdapat di dalam Al-Qur'an. Pertama, pada surat Al-Baqarah ayat 218. Artinya, sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad atau bersungguh-sungguh di jalan Allah adalah hamba-hamba Allah yang berharap rahmat Allah. Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. 

 

"Orang yang berhijrah itu adalah orang yang pasti memiliki bobot keimanan paling sempurna dan paripurna. Walaupun dia seribu kali mengucapkan kata hijrah, tetapi di dalam dirinya tidak memiliki nilai keimanan maka dia belum sungguh-sungguh berhijrah. Jadi hijrah akan dianggap sempurna jika dia menggunakan kendaraan keimanannya," terang Habib Abdurrahman.

 

Ditegaskan, orang-orang yang benar-benar melakukan hijrah adalah mereka yang senantiasa bersungguh-sungguh di jalan Allah. Poin akhirnya, orang-orang yang berhijrah dengan keimanannya mereka pasti kehidupannya mendapatkan rahmat Allah.

 

"Jadi kalau ada orang mengatakan dia sudah berhijrah, tetapi hidupnya tidak berubah dan keberkahan tidak menaungi kehidupannya maka pertama kali yang harus diperiksa adalah apakah dia hijrah yang imani atau tidak, orientasi hijrahnya itu benar-benar Allah dan rasul-Nya atau bukan," ujar Habib Abdurrahman.

 

"Kalau hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka pasti keimanan senantiasa bersamanya, dan pasti dia akan mendapatkan rahmat Allah," tambahnya.

 

Firman Allah kedua mengenai hijrah terdapat dalam Surat Al-Hasyr ayat 9. Di sini, Allah mengisahkan romantika kisah cinta yang sangat indah antara dua kelompok yakni orang-orang Anshar dan Muhajirin. 

 

"Kalau di Jakarta ini, orang-orang Anshar itu orang Betawi, orang Muhajirin para perantau atau pendatang. Orang-orang dari Mekkah itu datang ke Madinah. Orang penduduk asli Kota  Madinah, menunggu kedatangan Nabi Muhammad. Mereka telah berjanji jika Nabi sampai ke tempat mereka, mereka akan melindungi Nabi Muhammad. Mereka saling mencintai," terang Habib Abdurrahman. 

 

Dijelaskan, kedua kelompok tersebut tidak pernah saling bertemu sebelumnya. Namun ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, bersama-sama orang-orang Anshar sudah layaknya seperti saudara sendiri. 

 

Orang-orang Muhajirin, oleh kaum Anshar, diberikan rumah, barang dagangan, dan bahkan pasar. Lalu Allah mengatakan bahwa kaum Anshar sama sekali tidak menaruh keinginan di hati mereka dari berbagai sesuatu yang telah diberikan kepada orang-orang Muhajirin.

 

"Orang-orang Anshar tidak menaruh keinginan di dalam hati mereka terhadap apa yang telah berikan kepada orang-orang Muhajirin. Mereka (Anshar) mengutamakan orang-orang Muhajirin atas mereka diri sendiri, sekalipun mereka itu kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikirannya maka dia orang yang beruntung," tutur Habib Abdurrahman. 

 

Lantaran menolong kelompok yang berhijrah itu dan dipelihara dari sifat kekikiran maka orang-orang Anshar mendapat keberuntungan besar, yakni Nabi Muhammad yang hingga akhir hayatnya tinggal bersama mereka.

 

"Itu keberuntungan orang-orang Anshar. Nabi lahir, memulai dakwah, dan mendapat risalah wahyu ilahiah, 13 tahun berdakwah di Kota Mekkah, tapi setelah hijrah ke Madinah, orang-orang Anshar mendapatkan hadiah istimewa yaitu Nabi bersama mereka," jelas Habib Abdurrahman. 

 

Saat Fathu Makkah, orang-orang Anshar sempat cemburu karena Nabi Muhammad hanya membagikan harta rampasan perang kepada orang-orang yang baru memeluk Islam. Orang-orang Anshar bahkan menganggap Nabi Muhammad sudah tidak adil, tidak sayang, dan sudah tidak ingat lagi dengan jasa-jasa kaum Anshar. 

 

"Tetapi Nabi Muhammad justru bertanya, Kalian mau harta-harta itu atau aku pulang bersama kalian kembali ke Madinah. Mendengar itu, orang-orang Anshar menangis dan berderai air mata. Mereka berkata, kami tidak mau harta-harta itu, kami lebih ingin engkau pulang bersama kami. Itulah hadiah terbesar yang didapatkan orang-orang Anshar," pungkas Habib Abdurrahman.

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya