Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Childfree, Tren Populasi Dunia, dan Beragam Tantangannya

Childfree, Tren Populasi Dunia, dan Beragam Tantangannya
Mau memiliki jumlah anak berapa atau bahkan pilihan tidak punya anak, bukan sekadar urusan pribadi, seperti dampaknya pada karier, waktu luang pribadi, kesejahtaran, dan lainnya.
Mau memiliki jumlah anak berapa atau bahkan pilihan tidak punya anak, bukan sekadar urusan pribadi, seperti dampaknya pada karier, waktu luang pribadi, kesejahtaran, dan lainnya.

Terdapat dua kutub ekstrem di kalangan umat Islam terkait kepemilikan anak. Pada satu titik ekstrem, ada kelompok yang berpendapat bahwa umat Islam sebaiknya terus memiliki banyak anak, bahkan tanpa perlu membatasi jumlah anak yang akan dilahirkan. Golongan ini sangat anti-KB. Di sisi lain, kini berkembang satu pandangan baru bahwa pasangan menikah memiliki pilihan untuk tidak memiliki anak, yang populer dengan istilah childfree. Masing-masing pilihan memiliki dalil agamanya sendiri-sendiri.

 

Persoalan jumlah anak bukan sekadar menjadi urusan pribadi, yang mana asal mampu menghidupi, maka boleh-boleh saja memiliki anak berapa pun jumlahnya. Jumlah populasi di dunia mempengaruhi kelangsungan hidup alam ini, seperti daya dukung lingkungan, problematika sosial ekonomi, dan lainnya. Ada tanggung jawab moral yang perlu diperhatikan. Namun, jika banyak perempuan tidak mau memiliki anak, sebagaimana yang terjadi di banyak negara maju, ada masalah lain yang muncul.

 

Masalah dunia yang kelebihan populasi pernah menjadi kekhawatiran Thomas Malthus pada era 1800-an. Menurutnya, peningkatan jumlah populasi yang terus menerus pada titik tertentu akan menyebabkan terjadinya kelangkaan makanan. Ramalan tentang pertumbuhan jumlah penduduk benar terjadi, namun kekurangan makanan tidak terjadi karena terdapat perkembangan teknologi dalam banyak bidang. Namun, banyak persoalan kependudukan yang belum terselesaikan seperti masalah kerusakan lingkungan, ketersediaan pekerjaan, perumahan, energi, pendidikan, hak asasi manusia, ketimpangan pendapatan, dan lainnya.

 

Jika dilihat sejak tahun 1800, jumlah penduduk dunia mengalami pertumbuhan berlipat ganda. Pada tahun tersebut, populasi dunia baru mencapai 1 miliar manusia. Kini pada 2021, sudah mencapai 7,8 miliar. Hanya dalam dua ratus tahun, penduduk dunia meningkat tujuh kali lipat.

 

Meskipun jumlah penghuni bumi semakin banyak, tetapi jika dilihat dari tingkat pertumbuhan, telah terjadi tren penurunan dari puncaknya pada tahun 1960-an yang mencapai tingkat 2,2 persen per tahun. Saat ini pertumbuhan penduduk berkisar 1,1 persen per tahun. Bank Dunia memproyeksikan pada 2100 tingkat pertumbuhan dunia tinggal 0,1 persen dengan total populasi dunia 11,2 miliar.

 

Terdapat korelasi negatif antara indeks pembangunan manusia (IPM) dengan tingkat kelahiran. Semakin maju sebuah negara, maka semakin kecil tingkat kelahirannya. Dengan demikian, tingkat pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang semakin baik mendorong orang memiliki semakin sedikit anak. Masih berdasarkan data dari Bank Dunia, tingkat kelahiran per perempuan di Singapura adalah 1,14, di Jepang 1,42, sedangkan yang paling rendah di Korea Selatan 0,98. Artinya negara-negara tersebut mengalami masalah populasi di masa depan.

 

Pakar ekonomi David Foot dari University of Toronto berpendapat kecenderungan childfree berkorelasi dengan pendidikan perempuan. Semakin tinggi pendidikan, maka semakin besar keinginan untuk tidak punya anak atau membatasi jumlah anak. Mereka biasanya tinggal di daerah urban; bekerja di bidang manajemen atau menjadi profesional; dan memiliki pola hubungan gender yang tidak konvensional; serta kurang religius.

 

Perempuan yang semakin tinggi pendidikannya menghabiskan waktu semakin lama di sekolah. Mereka juga cenderung mengejar karier. Hal ini akhirnya menyebabkan usia menikahnya menjadi lambat atau bahkan memutuskan tidak menikah. Sebagian yang tidak menikah pun memilih tidak punya anak dengan berbagai alasan, seperti kekhawatiran karier yang terhambat atau tidak mau repot. Dalam sensus 2015, yang dikutip dari BBC, kurang dari seperempat (23%) wanita Korea Selatan berusia 25 hingga 29 tahun yang mengatakan mereka sudah menikah, turun tajam dari sebanyak 90% dibanding tahun 1970.

 

Di negara-negara yang populasinya menurun, beban keuangan negara semakin berat karena generasi muda yang jumlahnya sedikit harus membiayai para lansia yang umurnya semakin panjang dan jumlahnya semakin banyak. Untuk mendorong tingkat kelahiran, mereka memberi insentif khusus supaya para perempuan punya anak lebih banyak.

 

Di Jepang, pada 2017, penduduknya berusia 65 tahun ke atas berjumlah 27,7 persen sementara hanya 12,3 persen yang berusia di bawah 14 tahun. Artinya jumlah lansia jauh lebih banyak dibandingkan anak-anak. Situasi serupa terjadi di banyak negara yang menimbulkan kekhawatiran soal populasi penduduknya di masa depan.

 

Di Indonesia, pertumbuhan penduduk juga mengalami penurunan secara signifikan sejak diluncurkannya program Keluarga Berencana (KB). Dari data Bank Dunia rata-rata perempuan Indonesia melahirkan 5,67 anak pada tahun 1960-an. Dengan program KB yang berjalan mulai tahun 1970-an, maka pada 2018, tingkat kelahiran per perempuan tinggal 2,31. Indonesia saat ini masih berada dalam posisi bonus demografi, artinya jumlah tenaga kerja produktif lebih banyak dibandingkan dengan jumlah usia lansia. Namun, tren yang sama akan dihadapi ketika jumlah orang tua lebih banyak dibandingkan kelompok produktif.

 

Idealnya tingkat kelahiran per perempuan adalah 2,1. Artinya, setiap jumlah generasi yang dilahirkan sama dengan generasi yang meninggal, sedangkan angka 0,1 untuk mengantisipasi anak yang meninggal sebelum dewasa. Pada kondisi seperti ini, populasi dunia berada dalam kondisi stabil.

 

Islam menganjurkan umatnya untuk menikah dan memiliki keturunan yang saleh atau salehah karena mereka akan mendoakan orang tuanya ketika sudah meninggal. Terdapat dua fungsi pernikahan, yaitu prokreasi yaitu menghasilkan keturunan untuk meneruskan peran manusia sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Kedua, fungsi rekreasi untuk berkasih sayang antara suami istri dalam berbagai ekspresi.

 

Salah satu fungsi keberadaan anak adalah untuk mempererat hubungan suami istri. Anak adalah pengikat yang erat bagi sebuah pasangan. Anak menjadi motivasi bagi orang tua untuk bekerja lebih keras, untuk terus memperbaiki dirinya. Anak menjadi peredam konflik bahwa ada tanggung jawab bersama atas anak yang dihasilkan berdua. Ada banyak dampak positif yang besar dengan memiliki keturunan.

 

Keberadaan anak juga dapat mengurangi kesepian di masa mendatang ketika pasangan sudah tua ketika aktivitas publik sudah menurun pascapensiun atau sudah tidak bekerja. Hubungan yang kuat dapat meningkatkan kualitas kesehatan. Merupakan fenomena umum di mana orang tua ingin segera anaknya punya cucu setelah menikah sebagai pelipur lara.

 

Terdapat perdebatan antara penganut childfree dan penentangnya. Para penentang berpendapat, mereka yang melakoni hidup childfree adalah orang yang egois karena tidak mau menghasilkan keturunan baru. Tapi tuduhan tersebut dibalas, bahwa manusia saat ini sudah sangat egois dengan memikirkan dirinya sendiri ketika banyak anak-anak terlantar.

 

Mau memiliki jumlah anak berapa atau bahkan pilihan tidak punya anak, bukan sekadar urusan pribadi, seperti dampaknya pada karier, waktu luang pribadi, kesejahtaraan, dan lainnya. Terdapat tanggung jawab moral terkait dengan populasi dunia secara keseluruhan dalam hubungannya dengan lingkungan, sosial, ekonomi, atau yang lainnya. Sesungguhnya, Islam mengajarkan kita untuk mengambil sikap jalan tengah dengan punya keturunan dua atau tiga cukup ideal. (Achmad Mukafi Niam)

Posisi Bawah | Youtube NU Online