Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Warek UI Sebut Tiga Makna Penting Sejarah Jalur Rempah

Warek UI Sebut Tiga Makna Penting Sejarah Jalur Rempah
Warek I UI, Prof Abdul Haris, saat berbicara dalam Simposium Internasional 2021 yang dihelat Unusia. (Foto: tangkapan layar YouTube TVNU)
Warek I UI, Prof Abdul Haris, saat berbicara dalam Simposium Internasional 2021 yang dihelat Unusia. (Foto: tangkapan layar YouTube TVNU)

Jakarta, NU Online
Wakil Rektor (Warek) I Universitas Indonesia (UI), Prof Abdul Haris, mengatakan terdapat tiga makna penting sejarah jalur rempah di Nusantara yang benar-benar harus digarisbawahi. 


Hal tersebut diungkapkannya saat memberikan sambutan dalam acara Simposium Internasional 2021 bertema Kosmopolitanisme Islam Nusantara: Jejak Spiritual dan Intelektual Nusantara di Jalur Rempah yang digelar oleh Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Senin (30/8/2021).


“Pertama, jalur rempah merupakan bukti bagaimana bangsa nusantara memiliki kemampuan menjelajah dunia dan menjadi bagian dari masyarakat dunia,” ungkap Guru Besar Ilmu Geofisika UI tersebut.


Beberapa data menunjukkan, rempah nusantara sudah dikenal dan digunakan oleh orang-orang di kawasan Afrika Timur, Timur Tengah, bahkan Eropa, jauh sebelum bangsa Barat menemukan Nusantara.


“Artinya, rempah Nusantara memiliki kualitas terbaik. Dan itu dibawa langsung oleh bangsa Nusantara ke pusat-pusat perdagangan dunia yang ada di kawasan Teluk Persia di Timur Tengah dan Teluk Benggala di wilayah India,” ungkapnya.


Sebagaimana diberitakan NU Online, Kamis (22/7), Filolog muda Islam Nusantara, Ahmad Ginanjar Sya’ban, menjelaskan fakta autentik mengenai sejarah rempah. Terdapat satu buku kuliner yang disusun pada tahun 1239, hanya beberapa tahun sebelum jatuhnya Baghdad diserang Mongol. Di Nusantara, saat itu berada pada era Kerajaan Singasari, belum memasuku era Majapahit.


Kitab tersebut berjudul Kitabatut Thabikh karya Muhammad Hasan al-Baghdadi. Dalam kitab itu, terdapat banyak variasi rempah Nusantara yang dijadikan bahan masakan di masa Abbasiyah. Ia mencontohkan satu masakan bernama Hamadiyah. Masakan daging tersebut ditaburi rempah berupa jahe, lada, cengkeh, hingga kayu manis.


Ada pula ensiklopedi pengobatan terlengkap masa sebelum kolonial, yakni al-jami’il al-udwiyyah wal al-ughdiyah karya Ibn al-Baythar. Di kitab tersebut dijelaskan secara rinci mengenai bentuk pohon cengkeh hingga cara memanennya. Kitab ini perlu dilakukan suntingan terhadap teks tua, lalu dianotasi, kemudian diterjemahkan.


Jalur kebudayaan
Kedua, lanjut Prof Abdul Haris, jalur rempah tidak hanya berbicara tentang jalur ekonomi dan perdagangan. Akan tetapi sudah memasuki jalur kebudayaan. Karena melalui jalur rempah terjadi interaksi dan dialog antarbudaya sehingga tercipta proses saling mengisi dan saling membentuk budaya antar bangsa. 


“Pengalaman interaksi dengan berbagai kelompok masyarakat dunia barangkali menjadi penjelasan mengapa bangsa kita terlatih bersikap toleran dan menghargai keberagaman. Keberadaan jalur rempah juga menjadi lintasan transfer ilmu, nilai, norma, dan teknologi yang turut membangun peradaban Nusantara hingga saat ini,” tutur lelaki asal Pemalang ini.


Ketiga, jalur rempah menjadi jalan terbentuknya jejaring spiritual dan intelektual Nusantara dengan bangsa lainnya. Jalur ini memungkinkan adanya diskursus keilmuan dan keyakinan antar penduduk nusantara dengan peradaban lain sehingga ilmu pengetahuan di Nusantara terus tumbuh dan berkembang.


Keberadaan jalur rempah, kata Prof Haris, telah secara signifikan memengaruhi pola pikir tradisi, spiritual, budaya akademi, tradisi, dan membentuk peradaban Indonesia saat ini.


“Sayangnya, hal tersebut belum tergali secara maksimal oleh sejarawan, antropolog, dan ilmuan nusantara. Dalam memahami Indonesia kita masih mengacu sumber-sumber dari Barat, khususnya Cina dan India untuk mendeskripsikan jalur rempah tersebut.


“Oleh karena itu, simposium internasional yang mengundang lebih dari 24 narasumber, 11 moderator, dan 15 fasilitator nasional diharapkan dapat memperkuat perspektif para intelektual untuk memperkaya referensi, menumbuhkan motifasi kalangan akademisi dan peneliti, sehingga bisa memahami sejarah Nusantara secara mendalam,” pungkasnya.


Simposium Internasional ini dilaksanakan secara hybrid, yakni perpaduan antara daring dan luring. Acara luring dilaksanakan di Auditorium MAC, sedangkan secara daring digelar melalui zoom meeting dan kanal YouTube TVNU pada 30-31 Agustus 2021.


Kontributor: A Rachmi Fauziah
Editor: Musthofa Asrori

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya