Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Madrasah di Buntet Mulai Terapkan PTM Terbatas

Madrasah di Buntet Mulai Terapkan PTM Terbatas
Penerapan PTM terbatas dilakukan karena sudah ada izin dari pemerintah mengingat Kabupaten Cirebon, khususnya Kecamatan Astanajapura. (Foto: NU Online/Syakir NF)
Penerapan PTM terbatas dilakukan karena sudah ada izin dari pemerintah mengingat Kabupaten Cirebon, khususnya Kecamatan Astanajapura. (Foto: NU Online/Syakir NF)

Jakarta, NU Online

Madrasah-madrasah di lingkungan Pondok Buntet Pesantren Cirebon mulai menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas. PTM dibatasi maksimal 30 persen dari total keseluruhan siswa, sedangkan dalam satu kelas maksimal 50 persen.

 

Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Fahad A Sadat menyampaikan penerapan PTM terbatas dilakukan karena sudah ada izin dari pemerintah mengingat Kabupaten Cirebon, khususnya Kecamatan Astanajapura, tempat Buntet Pesantren berada sudah memasuki zona hijau dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah berada di level 3.

 

“Memang, setelah melihat situasi dan juga kondisi kabupaten Cirebon sudah masuk dalam zona hijau, akhirnya rapat bidang Pendidikan memutuskan tatap muka terbatas. Di sini, kita, jumlah siswa (yang masuk) 50 persen dari dalam satu kelas. Yang masuk 30 persen secara total,” ujarnya kepada NU Online pada Senin (6/9/2021).

 

Ia menjelaskan dalam satu hari, hanya ada satu angkatan saja yang masuk ke sekolah secara luring, sedangkan lainnya daring. Artinya, hanya 30 persen dari total keseluruhan. Selanjutnya, dalam satu angkatan itu, dibagi lagi perkelas 50 persen. Ia mencontohkan, kelas 1 Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra satu angkatan berjumlah enam kelas. Pada praktiknya saat PTM terbatas, kelas dibagi menjadi 12.

 

“Jadi, satu kelas dipisah atau kelasnya dibagi dua,” ujar doktor manajemen pendidikan dari Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung itu.

 

PTM terbatas bertahap

Lebih lanjut, Kiai Fahad menyampaikan bahwa Buntet Pesantren menerapkan PTM terbatas secara bertahap. Pada mulanya, para siswa diperintahkan untuk datang ke sekolah untuk mengambil dan menyerahkan tugas dengan tidak menggunakan seragam. 

 

Pada pekan lalu, PTM terbatas belum langsung dilakukan pembelajaran. Namun, hanya ada proses pengenalan lebih jauh antarsiswa dan dengan wali kelas masing-masing. Momen ini juga menjadi waktu untuk validasi data siswa mengingat adanya kekurangan dari beberapa siswa saat pendaftaran secara daring.

 

“Kesempatan wali kelas mendata dan pengenalan sistem pembelajarannya. Matsama atau pengenalan akademik sekolah melalui daring semua. Ini (PTM terbatas) lebih mengenal lingkungan dan teman dalam satu pekan ini. Pekan depan baru mulai pembelajaran,” ujarnya.

 

Proses PTM terbatas ini juga tidak secara penuh dilaksanakan, melainkan maksimal tiga jam, dari pukul 08.00 pagi sampai 11.00 siang. Dalam rentang waktu tersebut, hanya dua sampai tiga mata pelajaran yang dipelajari.

 

Penerapan PTM terbatas secara bertahap ini dilakukan karena harus ada penyesuaian dari seluruh sivitas akademika, bukan hanya muridnya, tetapi juga gurunya yang harus beradaptasi.

 

Kiai Fahad menekankan bahwa Pondok Buntet Pesantren selalu mengikuti apa yang sudah ditetapkan pemerintah. Dalam waktu satu setengah tahun ini, pembelajaran dilakukan daring secara penuh. Ketika kesempatan ada untuk offline, Pondok Buntet Pesantren pun mengikutinya. “Itu pun tidak langsung. Kami bertahap. Insyaallah mudah-mudahan akan kembali normal,” katanya.

 

Selain PTM terbatas, ia juga mengatakan bahwa ekstrakurikuler sudah mulai kembali berjalan. Masing-masing ekstrakurikuler tidak berbarengan dalam pelaksanaannya. “Misalnya, hari ini Pramuka, tidak ada lainnya. Hanya satu. Itu pun terbatas,” ujarnya.


Prokes

Kiai Fahad juga menyampaikan bahwa PTM terbatas dilakukan dengan sangat memperhatikan prokes dengan menjaga jarak, menggunakan masker, pengukuran suhu saat masuk, dan sudah divaksin. Guru yang boleh mengajar yang sudah vaksin. "Alhamdulillah 99 persen guru dan staf akademik sudah vaksin," ujar Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren itu.

 

Ke depannya, lanjutnya, siswa juga harus vaksin. Pada Selasa (7/9/2021) ini, seluruh santri dan siswa Pondok Buntet Pesantren akan mengaikuti program vaksin serentak.

 

PTM terbatas ini juga dilakukan atas seizin orang tua atau wali, dalam hal ini pengasuh masing-masing pondok. “Ini juga kami memohon izin orang tua dalam hal ini wali santri dalam hal ini pengasuh. Bagi yang tidak juga tidak masalah karena tetap ada pembelajaran online,” katanya.

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya