Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Prof Azra Sebut Dua Tema Diplomasi Indonesia untuk Dunia

Prof Azra Sebut Dua Tema Diplomasi Indonesia untuk Dunia
Prof Azyumardi Azra. (Foto: Istimewa)
Prof Azyumardi Azra. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Azyumardi Azra menuturkan, ada dua tema pokok yang menjadi diplomasi Indonesia di dunia internasional. Pertama, demokrasi yang sukses menjadikan Indonesia sebagai showcase keberhasilan demokrasi di negara berpenduduk Muslim terbanyak.


“Indonesia adalah betul-betul menjadi kisah sukses sebagaimana demokrasi itu kompatibel dengan Islam, kaum Muslimin Indonesia menerima dan berpartisipasi dalam proses-proses demokrasi,” tuturnya dalam sebuah diskusi bertajuk Sikap Indonesia untuk Perlindungan Perempuan di Afghanistan; Perspektif Perempuan, belum lama ini.


Sebagai pembanding, ia mencontohkan proses demokratisasi peristiwa Arab Spring di Timur Tengah pada 2010-2011 silam. Peristiwa itu, memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memainkan peran dalam menyebarkan demokrasi ke negara-negara Muslim lainnya, khususnya melalui Bali Democracy Forum.


“Itu juga dilakukan lewat kunjungan-kunjungan diskusi dengan mengirimkan delegasi ke berbagas negara, baik di Eropa, Amerika Latin, dan Timur Tengah dalam rangka memperkenalkan dan menyebarkan bagaimana kompatibilitas demokrasi dengan Islam di Indonesia,” terangnya.


Selain memberi kesempatan penyebaran demokrasi, Arab Spring juga memberi keuntungan bagi sektor perekonomian Indonesia. Data Kemenlu menyebutkan, hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah yang bergolak meningkat, terutama di sektor ekonomi. 


Pasca revolusi Tunisia, nilai perdagangan Indonesia-Tunisia tahun 2011 surplus sebesar USD 88,7 juta atau sekitar Rp 887 miliar. Total pedagangan Indonesia-Tunisia tahun 2011 mencapai USD 106,7 juta atau sekitar Rp 1,06 triliun. Adapun di Mesir, tren total perdagangan dengan Indonesia mengalami kenaikan rata-rata 20,79 persen selama lima tahun terakhir. Angka tersebut termasuk saat revolusi Mesir pecah tahun 2011 lalu. 


Tema pokok kedua, kata dia, Islam Wasathiyah yang dalam bahasa Inggris sering diartikan sebagai Justly Balanced Islam ini juga memiliki pengaruh besar dalam perjalanan diplomasi Indonesia ke kancah internasional. Karena karakter moderat, seimbang, adil, dan toleransı yang dimilikinya.


“Jadi, Islam Wasathiyah itu adalah Islam yang toleran, inklusif, dan akomodatif. Dan Indonesia memiliki sejarah yang panjang dalam tradisi wasathiyah itu,” kata anggota Selection Committee of Southeast Asian Regional Exchange Program (SEASREP) itu.


Sebab, menurut dia, pembentukan dan pengembangan Islam Wasathiyah itu berkaitan erat dengan budaya-budaya suku di Indonesia yang memiliki karakteristik tersebut. Karakter itulah yang melatarbelakangi ketiadaan konflik antarsuku atau sektarian di Indonesia.


“Ini juga yang kemudian menjadikan Islam Wasathiyah memang berakar kuat sekali di Indonesia,” tutur Profesor yang memperoleh gelar Master of Philosophy (MPhil) dari Departemen Sejarah, Columbia University itu.


Oleh karena itu, ia mengungkapkan, keterbukaan masyarakat dunia tentang perlunya mewujudkan perdamaian dan kerja sama melalui dialog antaragama, antarbudaya, dan antarperadaban sangatlah penting untuk menghindari konflik di masing-masing negaranya. 


Peristiwa Arab Spring
Sebagai informasi, Arab Spring merupakan sebuah istilah politik yang menggambarkan gelombang gerakan revolusioner di sejumlah negara Timur Tengah pada tahun 2011.


Rakyat Arab sendiri menyebut Arab Spring sebagai al-Tsaurat al-Arabiyah, yaitu revolusi yang akan mengubah tatanan masyarakat dan pemerintahan Arab menuju ke arah ideal.


Dalam jurnal Agama dan Demokrasi: Munculnya Kekuatan Politik Islam di Tunisia, Mesir dan Libya (2014) karya Muhammad Fakhry Ghafur, kemunculan fenomena Arab Spring disebabkan oleh krisis politik,ekonomi dan pemerintahan di beberapa negara Timur Tengah.


Setidaknya ada empat faktor yang menjadi latar belakang Arab Spring. Pertama, rezim otoriter yang berlangsung selama puluhan tahun di negara-negara Timur Tengah. Kedua, tingginya tingkat kesenjangan sosial dan ekonomi di negara-negara Timur Tengah.


Ketiga, keinginan masyarakat Arab untuk memperbaiki sistem sosial, politik, ekonomi dan pemerintahan. Keempat, kemunduran dalam hal hak-hak politik dan kebebasan sipil di beberapa negara Timur Tengah.


Secara umum, gelombang revolusi Arab Spring bertujuan untuk meruntuhkan rezim yang otoriter dan ketidakadlilan di beberapa negara Timur Tengah. Selain itu, masyarakat Arab juga berkeinginan untuk menerapkan sistem demokrasi di Timur Tengah. 


Kontributor: Syifa Arrahmah
Editor: Musthofa Asrori

Posisi Bawah | Youtube NU Online