Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tips Mengejar Ketertinggalan Pemahaman Siswa selama Pembelajaran Daring 

Tips Mengejar Ketertinggalan Pemahaman Siswa selama Pembelajaran Daring 
Ilustrasi: Ketika menjumpai murid yang terlihat mengalami kendala selama pembelajaran daring, guru harus bisa menelaah lebih lanjut terkait penyebab ketertinggalan pemahaman siswa. 
Ilustrasi: Ketika menjumpai murid yang terlihat mengalami kendala selama pembelajaran daring, guru harus bisa menelaah lebih lanjut terkait penyebab ketertinggalan pemahaman siswa. 

Jakarta, NU Online
Pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) baru-baru ini merupakan angin segar bagi dunia pendidikan, terkhusus para siswa setelah setahun lebih harus melakukan pembelajaran daring. Tak hanya dirasa jenuh bagi para siswa, pembelajaran daring juga kerap dianggap kurang efektif.

 

Berdasarkan data dari Journal of Integrated Elementary Education, tingkat keefektifan pembelajaran daring bagi siswa sekolah dasar cukup rendah, yakni berada di angka 39,6 persen selama pandemi sekarang ini.  Berangkat dari data tersebut, pembelajaran daring menjadi dirasa kurang efektif. Hal ini cukup krusial, mengingat lamanya durasi pemberlakuan belajar daring yang tidak sebentar, namun di sisi lain pandemi belum juga usai. 

 

Menanggapi hal ini, Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA)  Widya Rahmawati, mengatakan bahwa guru harus bisa meninjau secara detail mengenai informasi siswa. Ketika menjumpai murid yang terlihat mengalami kendala selama pembelajaran daring, guru harus bisa menelaah lebih lanjut terkait penyebab ketertinggalan pemahaman siswa. 

 

"Hal yang wajib dilakukan oleh guru adalah cross check ke teman sebaya siswa (teman kelas), barangkali mereka tahu sebab kenapa si siswa ini kok lower (rendah) nilainya. Kemudian, komunikasi aktif dengan wali murid. Komunikasi ini penting dilakukan guna memantau bagaimana perkembangan siswa belajar di rumah, karena yang memonitor siswa di rumah adalah orang tua," jelas Widya kepada NU Online, Rabu (15/9/2021).

 

Widya menambahkan, kreativitas guru dalam menyusun metode pembelajaran sangatlah penting. "Terakhir, yang dilakukan guru setelah mengumpulkan informasi tentang penyebab masalah maka modifikasi metode mengajar dan media yang digunakan harus dilakukan untuk mengkaver tujuan pembelajaran," imbuhnya.

 

Tiga aspek penilaian 
Widya mengatakan bahwa penilaian murid dalam proses pembelajaran tak terkecuali daring, bisa ditinjau dari tiga aspek yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan siswa harus dinilai berdasarkan tiga aspek tersebut. Tidak bisa menilai tertinggalnya siswa berhenti pada aspek kognitif yaitu menguasai materi, paham materi, mampu menyelesaikan soal.

 

"Penilaian tidak hanya aspek kognitif (memahami materi), tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik," ujarnya. 

 

Aspek afektif ini berkaitan dengan sikap siswa selama pembelajaran. Bisa dilihat dari ketepatan siswa bergabung di pembelajaran, tepat waktu mengumpulkan tugas, dan kesopanan dalam melontarkan pertanyaan ketika pembelajaran. 

 

"Penilaian aspek psikomotorik berkaitan dengan gerak fisik. Bisa dilihat dari foto ketika siswa sedang mempraktekkan gerakan tertentu yang diajarkan guru. "Bisa dilihat dari aktivitas siswa dalam menggunakan alat belajar, misalnya keterampilan dalam menggunakan jangka sorong, atau busur derajat," papar Widya.

 

Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online