Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Haul Ki Ageng Gribig dan Tradisi 'Saparan' di Jatinom Klaten

Haul Ki Ageng Gribig dan Tradisi 'Saparan'  di Jatinom Klaten
Komplek Makam Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten. (Foto: Ajie Najmuddin)
Komplek Makam Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten. (Foto: Ajie Najmuddin)

Klaten, NU Online
Setiap setahun sekali, masyarakat di daerah Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menyelenggarakan tradisi Saparan. Sebutan ini mengacu kepada bulan pelaksanaannya, yakni di bulan Safar. Tradisi Saparan di Jatinom dihelat dengan beberapa rangkaian acara, dan puncaknya yakni dengan penyebaran kue apem.

 

Menurut pemerhati sejarah di Klaten, Agus Tiyanto, tradisi Saparan yang ditandai dengan penyebaran kue apem ini merupakan peninggalan dari seorang tokoh penyebar Islam yang dikenal masyarakat setempat dengan nama Ki Ageng Gribig (Ada pula yang menyebutnya sebagai Syaikh Maulana Maghribi).

 

“Kisahnya, ketika itu sepulang dari Tanah Suci Makkah, Ki Ageng Gribig membawa oleh-oleh makanan untuk dibagikan kepada saudara, murid, maupun tetangga. Tapi karena (oleh-olehnya) tidak cukup, kemudian Ki Ageng Gribig dan istri membuat kue. Kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat,” terang Agus Tiyanto, kepada NU Online, Selasa (21/9).

 

Sembari membagikan kue-kue ini, Ki Ageng Gribig juga mengucapkan kalimat “Ya Qowiyyu” dan seterusnya, sebagai doa untuk meminta kekuatan kepada Allah. Oleh masyarakat, kue ini kemudian dikenal dengan nama kue apem, saduran dari Bahasa Arab, Affan, yang memiliki makna dan filosofi sebagai permohonan ampunan kepada Allah.

 

Tradisi pembagian kue apem inilah yang kemudian secara rutin dilaksanakan Ki Ageng Gribig, dan kemudian dilanjutkan pula oleh para muridnya dan masyarakat Jatinom sampai sekarang. Dari penyebutan kata “Ya Qowiyyu” ini pula, tradisi Saparan di Jatinom juga disebut masyarakat dengan nama tradisi “Ya Qowiyyu”.

 

Peringatan Haul
Pada momen Saparan ini pula, kemudian pada perkembangannya sekaligus dilaksanakan beberapa rangkaian kegiatan seperti kirab budaya, lomba panahan, dan peringatan haul Ki Ageng Gribig.

 

“Biasanya rangkaian kegiatan berlangsung selama sepekan. Puncaknya pada hari Jumat, setelah Jumatan, itu kan ada tradisi pembagian atau sebar apem. Nah, pada malam harinya (Kamis malam) terlebih dahulu diselenggarakan peringatan haul Ki Ageng Gribig, dengan kegiatan khataman Al-Qur’an, kemudian juga ada pengajian dan sholawatan,” terang salah satu panitia Haul Kiai Ageng Gribig, Muhammad Munip, yang ditemui NU Online di Pondok Pesantren Ki Ageng Gribig, Bonyokan, Jatinom, Rabu (22/9).

 

Munip menerangkan, penyelenggaraan haul di masa pandemi ini diselenggarakan dengan jumlah pengunjung yang terbatas. “Untuk haul tahun ini tetap diselenggarakan, namun dengan jumlah peserta yang terbatas. Insyallah akan diisi dengan acara pengajian dan pembacaan sholawat bersama Habib Umar al Muthohar dan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf,” tutur Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Jatinom itu.

 

Ditambahkan Munip, acara haul pada hari Kamis (23/9) pukul 19.00 sampai selesai akan dipusatkan di Kompleks makam Ki Ageng Gribig Jatinom dan disiarkan secara langsung via Channel Youtube Majelis Ahlul Hidayah. Turut direncanakan hadir dalam acara tersebut Menko Perekonomian RI, H Airlangga Hartanto, pemimpin Majelis Ahlul Hidayah H Nusron Wahid, dan sejumlah tokoh ulama di wilayah Klaten dan sekitarnya.

 

Kontributor: Ajie Najmuddin
Editor: Zunus Muhammad
 

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya