Ma’ruf Amin Dipromosikan Mendapat Doktor Honoris Causa

Ma’ruf Amin Dipromosikan Mendapat Doktor Honoris Causa
Jakarta, NU Online
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin dipromosikan mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Indonesia (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hal tersebut disampaikan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Prof DR Fathurrahman Djamil dan Prof DR Masykuri Abdillah dalam acara peluncuran buku ”Fatwa dalam Sistem Hukum Islam” karya KH Ma’ruf Amin, di Hotel Millennium Jakarta, Rabu (10/9).<>

Ketua MUI yang membidangi masalah fatwa dan hukum Islam itu dinilai telah pantas menerima gelar kehormatan tersebut. ”Sudah ada pembicaraan di lingkungan UIN Jakarta,” kata Fathurrahman dalam acara peluncuran buku yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin organisasi Islam, MUI, dan para tokoh politik nasional.
.
“Pak Kiai Ma’ruf dinilai pantas untuk mendapatkan gelar itu. Di sini juga sudah banyak guru besar UIN yang hadir dan secara tidak langsung telah setuju. Pak Kiai juga telah menerbitkan beberapa buku karena di Jakarta untuk mendapatkan gelar itu harus sudah menerbitkan buku,” katanya.

Maskuri Abdillah menambahkan, rencana pemberian gelar kehormatan kepada KH Ma’ruf Mamin sejak 3 tahun di lingkungan guru besar UIN Jakarta.

Kiai Ma’ruf Amin lahir di Tangerang pada 11 Maret 1943. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Sekolah Rakyat dan Madrasah Ibtidaiyah di kampung halamannya. Setelah itu ia belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, dan beberapa pesantren di Banten. Ia sempat mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Chaldun.

Ma’ruf Amin awalnya lebih dikenal sebagai seorang politisi. Ia pernah menjabat ketua fraksi di DPRD Jakarta, anggota MPR RI, ketua dewan syuro DPP PKB, dan saat ini membidani pendirian PKNU.

Aktivitasnya di MUI dimulai sejak 1990 dan selanjutnya terus menonjol terutama di bidang fatwa. Puncaknya adalah selama menjabat Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat selama 7 tahun, 2000-2007, dan memunculkan banyak fatwa keagamaan.

”Saya memang aktif di politik. Tapi habitat saya adalah habitat fatwa. Sampai-sampai orang bilang muka saya ini muka fatwa,” katanya dalam peluncuran buku disambut tawa hadiri.

Cucu Syeikh Nawawi Al-Bantani ini juga mengabdi di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sejak usia muda. Ia pernah menjadi Ketua GP Ansor Tanjung Priok, Ketua PWNU DKI Jakarta, Ketua Lembaga Dakwah PBNU, Katib Aam Syuriah PBNU hingga sekarang menjabat Rais Syuriah PBNU. (nam)
BNI Mobile