IMG-LOGO
Warta

Pembaharuan Anak Muda NU Kurang Berpijak pada Tradisi


Senin 15 September 2008 15:10 WIB
Bagikan:
Pembaharuan Anak Muda NU Kurang Berpijak pada Tradisi
Yogyakarta, NU Online
Berbagai kalangan menyayangkan gejolak pembaharuan pemikiran yang digelontorkan anak muda muda Nahdlatul Ulama (NU) tidak banyak berbasis pada kultur pesantren. Sehingga pembaharuan itu tidak banyak diterima.

Demikian dalam bedah buku ”Pergolakan di Jantung Tradisi; NU yang Saya Amati” karya As’ad Said Ali di University Club (UC) UGM, Yogyakarta, Ahad (14/9) kemarin. Hadir dalam diskusi tersebut Gaffar Karim (dosen ilmu pemerintah Fisipol UGM), Ahmad Baso (PP Lajnah Ta’lief wan Nasyr/LTN NU ), Dr St Sunardi (direktur program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Darma, Yogyakarta), dan Drs. H A Zuhdli Mudlor, M.Hum (sekretaris PWNU DI Yogyakarta).<>

Ahmad Baso mengungkapkan, gejolak pemikiran dan gerak kaum muda NU diawali oleh Gus Dur tahun 84, yang kemudian banyak menjadi inspirisai kaum muda NU. Keadaan ini ditopang oleh arus gelombang neoliberal tahun 80 hingga 90-an, yang kemudian melahirkan banyak gerakan kaum muda terutama pada jalur NGO (Non-Governance Organization) atau LSM.

“Perjumpaan dengan pemikiran-pemikiran Barat, melalui lembaga donor banyak melahirkan pemikiran baru bagi kalangan nahdliyin. Meskipun tajdid (pembaharuan) juga terjadi dalam NU, namun kalangan muda melesat jauh,” katanya.

Sayangnya semangat pemikiran kaum muda ini banyak yang tidak berbasis pada kultur mereka (pesantren). Sehingga mereka kini tidak lagi banyak diterima di kalangan pesantren.

“Tradisi mereka habisi, yang semestimnya dijadikan pijakan menjemput modernitas, bukan sebaliknya modernitas dikenal untuk ‘menghabisi’ tradisi. Jika demikian yang terjadi maka mereka akan kehilangan karakter,” kata Baso.

Dr St Sunardi juga melihat anggapan yang sama dengan Baso. Fiqh yang menjadi basis kesadaran berfikir dan bertindak kaum Nahdliyin nampaknya juga luntur, padahal hal demikian sangat esensial. Inilah yang sebenarnya mengakibatkan gejolak dalam tubuh NU.

“Jangan-jangan kebebasan kuam muda hanya sebatas qauli (ucapan/wacana), tidak pernah menyentuh jatung dari liberalisme itu sendiri,” ungkap Dr Sunardi bernada tanya.

Sementara HA Zuhdi Muhdlor mengungkapkan hal yang berbeda. Menurutnya saat ini anak muda NU tidak hanya liberal, liberlisme pemikiran mulai meredup. Para muda NU dan santri-santri mulai menggandrungi pemikirian-pemikiran Islam Kanan dengan paham politik salafi.

“Mungkin kita terlalu sibuk dan banyak diam dengan persoalan ini. Hal ini yang semetinya dipikirkan oleh kuam nahdliyin, baik mereka yang mengaku sebagai penjaga gawang tradisi NU ataupun pengurus,” ungkap Zuhdli.

Lemahnya perhatian banyak pihak dan terus berpolemiknya tokoh-tokoh NU, hanya akan mengakibatkan NU semakin ditinggalkan umatnya. “Saatnya NU kembali pada garis perjuangannya,” pungkasnya. (ron)
Bagikan:
IMG
IMG