IMG-LOGO
Warta

Konferensi Petani Sedunia Ditutup dengan Pembacaan “Deklarasi Maputo”


Jumat 24 Oktober 2008 10:58 WIB
Bagikan:
Konferensi Petani Sedunia Ditutup dengan Pembacaan “Deklarasi Maputo”
Maputo, NU Online
Konfrenasi Petani Sedunia yang tergabung dalam La Via Campesina di Maputo, Mozambik, Afrika, semenjak sepekan lalu secara resmi telah ditutup setelah dibacakan deklarasi Maputo yang disebut Open Letter from Maputo, Kamis (23/10).

Deklarasi teresebut menegaskan kembali bahwa krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini, sejak dari krisis ekonomi, ekologi, krisis kemanusiaan, semuanya disebabkan oleh sistem ekonomi kapitalis yang telah mengubah pandangan hidup yang penuh solidaritas menjadi kehidupan yang saling bersaing berdasarkan kepentingan materi.<>

Pangan yang selama ini menjadi kebutuhan pokok masyarakat yang bersifat sosial diubah semata menjadi komoditi, dan karena hal itu duijalankan oleh korporasi besar yang berorientasi ekspor. Sistem ini telah merusak ekonomi dan pertanian rakyat baik di negara maju maupun di negara berkembang yang kebanjiran barang ekspor. Hal itu juga berimplikasi terhadap konsumsi masyarakat karena ikut diseragamkan, sehingga memusnahkan makanan tradisional di seluruh dunia.

Ekspor bahan makanan antar pulau dan antar benua itu dengan sendirinya juga membutuhkan energi yang besar, sehingga berpotensi merusak lingkungan yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global.

Selanjutnya deklarasi itu juga mengindikasikan bahwa pembukaan lahan oleh pengusaha besar, selalu menggusur lahan dan kesempatan rakyat untuk bertani. Penerapan benih hasil rekayasa jenetika yang mereka lakukan telah mencemari bibit lokal yang alami, sehingga bibit asli menjadi hilang, baik karena dimusnahkan oleh perusahaan besar, maupun tercemari oleh bibit rekayasa genetika.

Pengembangan pertanian berdasarkan prinsip nasionalitas dan lokalitas dengan sendirinya akan mengurangi penggunaaan energi fosil yang mencemari. Demikian juga akan melestarikan keamanan dan keaslian bibit lokal, dan yang penting lagi setiap petani kecil di berbagai negara bisa mengembangkan pertaniannya sendiri tanpa khawatir direbut oleh perusahaan multi nasional. Langkah ini juga akan mengurangi terjadinya pemanasan global sebesar 40 % yang diakibatkan oleh pertanian kimiawi, sementara pertanian alami menyejukkan bumi.

Para delegasi sepakat bahwa untuk mendorong perkembangan pertanian di kawasan Afrika. Para delegasi dari berbagai belahan benua mengusulkan agar sekretariat internasional dipindahkan dari Jakarta ke kawasan Afrika dengan harapan bisa lebih mendorong dinamika pertanian di benua hitam yang masih sering dilanda kelaparan itu.

Indonesia sendiri sebagaimana dikatakan Tejo Pramono, Sekretaris Pelaksanan Komite Intrenasional Campesina, memang sangat penting mendorong kemajuan pertanian Afrika yang, masih tertinggal. Tetapi hal itu perlu persiapan. Apalagi tantangan terbesar bukan tidak ada dana, justru karena kelebihan dana.

“Selama ini negara maju merasa kurang hebat kalau tidak membantu negara Afrika dalam menyediakan uang dan pangan. Tetapi itu tetaplah dalam bentuk hutang yang penuh ikatan sehingga menjerat mereka. Demikian juga kalangan LSM, juga telah terbiasa dengan dana proyek, dan sangat tergantung pada dana, sehingga mereka tidak terbiasa dengan kerja sukarela bersama petani,” katanya kepada NU Online.

Padahal yang harus dilakukan Campesia adalah mengorganisi petani dan membuat mereka mandiri. Masih dibutuhkan waktu lama untuk persiapan itu, bisa dua tiga tahun lagi. Artinya sekretariat tetap di Jakarta, sampai Afrika siap.

Pernyataan itu dibenarkan oleh Lino dan Cruz Vasco salah seorang aktivis Uniao Nacional De Camponeses (Unac) atau Serikat Petani Mozambik, karena itu hingga saaat ini Afrika belum melakuakn sidang regional untuk menerima atau tidak tawaran tersebut, baru setelah musyawarah akan diambil keputusan, termasuk akan ditempatkan di negara mana sekretarian tersebut. Memang berbagai problem dan karakter Afrika mesti diperhatikan dalam menempatkan sekretariat ini, sebab afrika memiliki problem yang cukup khas.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Presiden Muzambiq itu ditutp dengan sangat sederhana tetapi hikmat yang dipuncaki dengan sambutan dari Henry Saragih, yang masih terus dipercaya untuk memimpin La Via Campesina hingga empat tahun mendatang.

Penutupan dilakukan dengan renungan yang menampilkan berbagai kesenian tradisional Afrika, yang dihayati oleh para delegasi dengun penuh hikmat dengan penuh militansi dan rasa persaudaraan. Perlawanan terhadap gerakan ekonomi neoliberal, sebagai termanifestasi dalam WTO, IMF dan Bank Dunia, tetap menjadi agenda perjuangan La Via Campesina ke depan. (Abdul Mun’im DZ)
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG