IMG-LOGO
Warta

Liberalisme Anak Muda NU Perlu Disikapi Hati-hati


Senin 27 Oktober 2008 11:01 WIB
Bagikan:
Liberalisme Anak Muda NU Perlu Disikapi Hati-hati
Bogor, NU Online
Gejala liberalisme yang tengah tumbuh subur di kalangan sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU), terutama di kalangan anak muda, perlu disikapi dengan hati-hati dan tepat. Pasalnya tradisi tersebut cenderung hanya mengedepankan rasio.

Demikian disampaikan mantan Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Inggris Dr Aji Hermawan MM saat mengikuti Halal Bihalal Komunitas NU Institut Pertanian Bogor (IPB) di Masjid Al-Huriyyah kampus IPB Darmaga, Bogor, Ahad (26/10).<>

Kegiatan yang digagas Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Pascasarjana IPB ini dihadiri pula oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr Cecep Kusmana MS, dan mahasiswa NU di lingkungan IPB, yakni dari jenjang Diploma, S1 hingga S3.

Menurut Aji Hermawan, budaya liberalisme yang dikembangkan kalangan muda NU sejatinya kurang sesuai dengan tradisi Islam Indonesia, karena budaya tersebut berbasis dari Barat yang sumbernya berasal dari etika Protestan. Selain itu, gagagan yang oleh anak NU dianggap baru dan sangat digandrungi itu merupakan sesuatu yang oleh masyarakat Barat sendiri justru dianggap telah usang.

“Semangat untuk menampilkan Islam dalam wajah yang lebih baik, jangan malah membuat kita ambivalen dan terjebak dalam kebuntuan, karena budaya liberalisme sama dengan budaya Arab, yaitu sama-sama budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Nusantara,” terang Aji.

Karena itu, lanjut Direktur Recognition and Mentoring Program (RAMP) IPB tersebut, kalau menyampaikan kritik perlu dibarengi dengan solusi dan alternatif yang lebih baik, sehingga harapan menyegarkan pemikiran Islam maupun mewujudkan Islam dalam wajah baru yang lebih baik akan terwujud.

Aji menilai budaya liberalisme berkecambah di kalangan anak muda NU antara lain dipengaruhi oleh minat mendalami ilmu pengetahuan yang pada umumnya hanya mengedepankan rasio. Pada saat bersamaan mereka mulai melupakan hati, karena menganggap sesuatu yang berbasis pada hati kurang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Seharusnya mendalamu ilmu pengetahuan jangan malah meninggalkan hati, karena NU memiliki tradisi menghargai hati dan rasio sekaligus.”

Prof Cecep Kusmana mebambahkan, orang NU perlu terus mengembangkan tradisi yang ada dengan baik, namun pada saat bersamaan perlu menyesuaikan dengan perkembangan yang ada agar tidak ketinggalan.

“Tradisi yang menjadi identitas NU perlu dipertahankan dan dikembangkan di tengah masyarakat, termasuk di kalangan masyarakat kampus yang sangat heterogen,” paparnya.

Ketua Panitia Mardiyah Sofy menimpali, arus liberalisme di kalangan anak muda NU perlu disikapi dengan bijaksana, agar tidak menimbulkan gesekan dan konflik.

“Saya kira tidak semua tradisi itu negatif, karena ada yang positif dan perlu dipertahankan. Begitu pula sebaliknya tidak semua yang baru selalu positif, perlu dilihat sejauhmana maslahatnya untuk NU. Perlu dilihat apakah mendatangkan maslahat lebih besar.”  (hir)
Bagikan:
IMG
IMG