IMG-LOGO
Fragmen

Istikharah Politik

Selasa 11 November 2008 10:13 WIB
Bagikan:
Istikharah Politik
Untuk memasuki era Demokrasi Terpimpin bukan perkara mudah buat para pemimpin NU. Walaupun organisasi para ulama itu setuju dengan Manifesto politik dan kembali ke UUD 1945, tetapi ketika hendak masuk di Kabinet dan DPRGR menjadi masalah soalnya ada dua aliran. Kiai Wahab menghendaki NU masuk dalam sistem itu, sementara Kiai Bisri Sansuri melarangnya.

Dengan argumen yang kuat akhirnya pendapat Kiai Wahab yang diterima secara resmi, sehingga  NU masuk ke dalam sistem Demokrasi Terpimpin. Agar bisa mengendalikan politik dari tarikan PKI ke kiri. Sambil berkelakar sang kiai mengatakan bahwa yang penting masuk dulu, nanti keluarnya gampang.<>

Tetapi tetap tidak mudah bagi para pimpinan NU yang hendak masuk DPR, karena secara pribadi bebas memilih ikut atau tidak. Diantara Kiai yang bimbang adalah KH Masykur, termasuk Nyai Sholihah Wahid (ibu Gus Dur), yang harus berat memilih ikut Kiai Wahab sebagai garis resmi NU atau ikut ayahnya Kiai Bisri.

Untuk mengatasi kegamangan itu maka Kiai Masykur melakukan sembahyang istikharah, memohon petunjuk agar diberi pilihan yang tepat dan maslahat.

Dalam melakukan sembahyang ia membuat dua tulisan ikut dan tidak ikut dalam DPRGR yang dilipat dan ditaruh di bawah sajadah. Ketika Nyai Sholihah datang  untuk mendiskusikan sikapnya terhadap tawaran menjadi Anggota DPRGR, pertanyaan itu tidak dijawab tetapi Sang Nyai diminta mengambil salah satu lipatan kertas di bawah sajadah, karena  di situlah jawabannya.  Tetapi dipesan tidak boleh dibaca, karena nanti nanti ada orang lain yang lebih tepat untuk  membacakannya biar lebih obyektif.

Suatu ketika ada pertemuan pimpinan NU di rumah Nyai Sholihah di Matraman Jakarta beberapa kiai datang, termasuk Kiai Bisri yang menentang NU terlibat dalam demokrasi terpimpin. Justru saat itu Kiai Masykur menyuruh nyai Sholihah untuk menyerahkan tulisan itu kepada sang Kiai untuk dibacakannya.

Ketika lipatan kertas itu dibuka dan dibaca oleh Kiai Bisri ternyata berbunyi ikut DPRGR, akhirnya keduanya dengan yakin ikut menjadi anggota DPRGR yang dibentuk oleh Bung Karno. Walaupun Kiai bisiri secara pribadi tetap menolak terlibat, tetapi membiarkan anak dan Kiai Masykur masuk menjadi anggota DPRGR.

Pilihan politik yang berbeda tidak membuat mereka renggang, ketika ada tujuan besar yang hendak diraih bersama, yaitu cita-cita kejayaan Islam dan kaum Muslimin dan seluruh bangsa Indonesia (Abdul Mun’im DZ)
Bagikan:
Senin 6 Oktober 2008 3:33 WIB
Peci Mubaligh NU Menjadi Identitas Bung Karno
Peci Mubaligh NU Menjadi Identitas Bung Karno
Di sela-sela sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada September 1959 Bung Karno menyatakan bahwa dia sebenarnya kurang nyaman dengan segala pakaian dinas kebesaran, tetapi semua ini dipakai untuk menjaga kebesaran Bangsa Indonesia.

“Seandainya saya adalah Idham Cholid yang ketua Partai NU atau Seperti Suwiryo, ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas,” kata Bung Karno sambil melihat respon hadirin.<>

“Tetapi soal peci hitam ini, tidak akan saya tinggalkan. Soalnya, kata orang, saya lebih gagah dengan mengenakan songkok hitam ini, benar enggak Kiai Wahab ?” tanya Bung Karno pada Rois Am NU yang juga anggota DPA itu.

“Memang betul, saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan peci hitam itu, saudara tampak lebih gagah seperti para muballigh NU,” jawab Kiai Wahab Chasbullah. Pernyataan Kyai Wahab ini menyulut gelak tawa seluruh anggota DPA.

“Dengan peci itu saudara telah mendapat banyak berkah, karena itu ketika berkunjung ke Timur Tengah, saudara mendapat tambahan nama Ahmad,” seloroh Kiai Wahab.

“Betul,” sahut Bung Karno. ”Ketika saya ke Saudi, Raja Su’ud memberi gelar Ahmad kepada saya.  Presiden Gamal Abdel Naser di Mesir dan Presiden Ben Bella di Aljazair serta kalangan pers seluruh Timur Tengah juga memberi nama tamabahan Ahmad kepada saya.”

”Ketahuilah olehmu Nasution, Ruslan Abdul Gani Nama Nabi kita itu banyak, ada Muhammad, Ahmad, Musthofa dan sebagainya. Dan kau Leimena, walaupun beragama Kristen, kau harus tahu bahwa nama Nabi Muhammad itu juga Ahmad.” Sementara mengucapkan kata-kata ini, para hadirin yang mengikuti sidang DPA pun manggut-manggut dalam suasana akrab. Lalu sidang DPA pun segera dimulai.

Bung karno, selain menjabat presiden, juga sekaligus menjabat ketua DPA. Karena itu, sidang-sidang DPA, Bung Karno-lah yang selalu memimpin.

Dengan gayanya yang informal, berbagai persoalan besar dan serius dibicarakan dalam forum ini. Walaupun disertai perdebatan seru, tetapi tetap berlangsaung dalam suasana kekeluargaan, saling menghargaai dan saling percaya.

Hal ini dikarenakan sidang-sidang DPA telah terarah pada satu tujuan, yaitu kebesaran bangsa Indonesia. Dan pecipun semakin kukuh menjadi identitas  nasional bangsa Indonesia. (Abdul Mun’im DZ)

Diangkat dari Buku Saifuddin Zuhri, Berangkat Dari Pesantren,
Gunung Agung, Jakarta, 1987.
Rabu 24 September 2008 15:4 WIB
Strategi Konsolidasi Politik Kiai Wahab
Strategi  Konsolidasi Politik Kiai Wahab
Setelah NU berdiri menjadi partai para pimpinan perlu kembali mengubah NU dari paradigma ormas menjadi paradigma partai politik. Ini sebuah pekerjaan besar sehingga para pimpinan partai tertinggi NU seperti Kiai Wahab Chasbullah dan KH Idham Cholid sendiri yang melakukan turba untuk konsolidasi partai NU ke Jawa Tengah, pada 1953. Langkah ini penting untuk menghadapi Pemilu 1955.

Namun, walaupun keduanya telah mengirim telegram tetapi tidak satupun aktivis partai yang menjemput mereka ke stasiun kereta api. Kebetulan ketua NU setempat adalah pegawai Departemen Agama, sementara Menteri Agamanya adalah Fakih Usman dari Masyumi. Ketua NU itu ketakutan karena terancam posisinya di Depag akan digeser.<>

Saat itu mengaku NU memang masih riskan karena setelah organisasi ini keluar dari Masyumi langsung dituduh memecah belah ukhuwah Islamiyah. Padahal di Masyumi NU tidak pernah dihargai, hanya dijadikan pendulang suara. Sementara ketika PSII keluar dari Masyumi tidak pernah dituduh demikian. Maka banyak orang NU di Masyumi yang belum berani menunjukan identitas ke-NU-annya.

Setelah mereka berdua berputar-putar ke kota, Idham Cholid menawarkan pada kiai Wahab untuk beristirahat di losmen. Sang kiai menolak; lebih baik kita sembahyang dulu ke masjid. Ternya ke masjid tidak hanya untuk sembahyang, kesempatan itu digunakan Kiai Wahab untuk menyelidiki keadaan. Kiai itu menanyakan pada jemaah tentang kondisi NU dan Masyumi di daerah itu. Akhirnya semua kejanggalan itu terkuak, ternyata para tokoh NU yang kebetulan menjadi pemimpin di Depag setempat telah pergi ke luar daerah, untuk mengindari pertemuan dengan para pimpinan NU itu.

Menghadapi situasi ini Kiai Wahab tidak kalut, dengan tenang ia berusaha mengontak satu persatu para pimpinan NU tadi. Setelah berhasil mengkoordinasi mereka, lalu direncanakan mengadakan rapat kerja dengan para tokoh NU setempat termasuk dengan pejabat Depag yang menghindar tadi.

Pertemuan itu dirahasiakan, hanya dihadiri sembilan orang tetapi dianggap cukup banyak oleh kiai Wahab. Walaupun hanya dihadiri sembilan orang, tetapi karena pidato Kiai Wahab yang berapi-api itu melahirkan suasananya heroik, sehingga terasa terasa dihadiri oleh sembilan ribu orang. Demikian menurut kesaksian KH Idham Cholid, sambil berujar, “yang banyak belum tentu baik, tetapi yang baik selalu banyak berarti”.

Setelah para aktivis NU mendapat brifing dari Kiai Wahab, sejak saat itu mereka tidak lagi canggung mendukung partai NU. Dengan jaminan pribadi dari Kiai Wahab. Mereka tidak khawatir lagi diintimidasi oleh Masyumi, bahkan telah siap tempur menghadapi Pemilu 1955. Di situlah letak kesuksesan NU dalama mengelola politik, di mana para kiai langsung bersentuhan dengan masyarakat bawah, sehingga rakyat termotivasi dan selalu optimis, sehingga menghasilkan kemenangan besar. (Mun’im DZ)

Disadur dari buku Biografi KH Idham Cholid,
Pustaka Indonesia Satu, 2008
Senin 8 September 2008 5:0 WIB
Kesulitan PKI Menghadapi NU
Kesulitan PKI Menghadapi NU
Para politisi dan akademisi sering melihat NU secara simplistik, sehingga membuat kesimpulan salah: oportunis, konservatif dan sebagainya. Dalam kenyataannya NU cukup lihai dalam berpolitik. Sikap politik yang rasional, lugas model PSI-Masyumi dengan mudah dilibas Bung Karno dan PKI.

Politik NU yang terpola menurut kaidah fiqhiyah justru berjalan lebih lentur, lihai dan lebih strategis. Karena itu walaupun masuk dalam lingkaran pemerintahan Presiden Soekarno, tetapi dalam masalah prinsip NU berani melawan pemimpin Besar itu.<>

Misalnya dalam penerapan kabinet kaki empat yang melibatkan PKI. Secara demokratis mestinya PKI harus diikutkan sebagai partai empat besar dalam Pemilu 1955, tetapi menurut pertimbangan agama dan politik hal itu akan menyulitkan, maka demokrasi dikesampingkan dan agama dan politik dimenangkan.

Tidak hanya menolak, tapi pada tahun 1957 NU mengusulkan solusi, sebagai jalan tengah dengan membentuk Dewan Nasional yang berfungsi sebagai penasehat untuk Dewan Menteri, juga membentuk Dewan Perencanaan Nasional, yang bertugas menggerakkan pembangunan. Akhirnya Bung Karno mengalah, dan mengikuti saran dari partai NU tersebut.

Demikian juga PKI yang dikenal sangat garang menghadapi lawan politiknya, terutama PSI dan Masyumi, sangat kesulitan dalam menghadapi NU. Selama sidang Konstituante PKI sangat salut dengan pikiran para politisi NU, tetapi partai ini juga gigih melawan langkah PKI.

Karena itu dalam pernyataannya Nyono tokoh PKI mengatakan bahwa NU sangat menyulitkan PKI. Dikatakan reaksioner, NU gigih melawan kapitalis, dikatakan burjuis tetapi sangat gigih membela buruh tani hingga dicintai rakyat. Apalagi dengan politiknya yang lentur, NU sangat disukai Bung Karno, sehingga banyak memberi nasehat politik pada Presiden dan menjadi pesaing PKI di istana.

NU ikut dalam Demokrasi Terpimpin Bung Karno tetapi dalam kekuasaan itu tidak bertopang dagu dan menikmati kekayaan, tetapi di sana berjuang keras, sendirian pula melawan hegemoni PKI. Ketika Masyumi telah pergi, sementara yang ada tinggal partai kecil, hanya NU yang besar dan berani mengambil langkah kritis kontroversial. (Abdul Mun’im DZ)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG