IMG-LOGO
Warta

Penting, Kontekstualisasi Fikih


Kamis 19 Februari 2009 17:53 WIB
Bagikan:
Penting, Kontekstualisasi Fikih
Yogyakarta, NU Online
Fikih merupakan cabang ilmu Islam yang paling berlimpah referensinya. Kajian Fikih juga paling lengkap diantara ilmu-ilmu keislaman lainnya. Tak heran, peradaban Islam sangat identik dengan peradaban fikih. Upaya kontekstualisasi fikih sangat penting agar tetap mampu menjawab tantangan zaman.

Pandangan ini mengemuka dalam bedah buku karya Prof Yudian Wahyudi PhD bertajuk “Hasbi’s Theory of Ijtihad in The Contexs of Indonesian Fiqh” dengan narasumber Ratno Lukito, MA, DCL dan Dr Munawar Ahmad yang dilakukan di Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (18/2).<>

Prof Yudian sendiri merupakan pengasuh pesantren Nawesea dan salah satu wakil rais syuriyah PWNU DIY. Saat ini ia menjabat sebagai dekan fakultas syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam bukunya, Yudian menjelaskan, pintu ijtihad selalu terbuka untuk menjawab segala problematika yang dihadapi masyarakat. Ijtihad memungkinkan ruh keilmuan terus hidup dan berkembang. Ia melakukan kajian atas upaya ijtihad yang dilakukan oleh Hasbi as-Siddiqy karena kepeloporannya dalam menggagas lahirnya Fikih Indonesia dengan menghargai kondisi dan situasi lokal.
 
Ratno berpendapat Fikih Indonesia yang digagas Hasbi merupakan bentuk dari “living law”, yakni hukum selalu hidup untuk menjawab problematika aktual umat. Ada tiga hal yang menjadi metode gagasan Hasbi, yakni ijtihad yang tidak tertutup, talfiq (kombinasi mazhab) yang diperbolehkan, dan pentingnya kajian perbandingan hukum.

“Gerakan intelektualisme yang dilakukan Hasbi menjadi tonggak penting dalam kajian fikih di Indonesia. Dialah yang membangkitkan etos penalaran kritis bagi Fak. Syariah di UIN Sunan Kalijaga dan di perguruan tinggi Islam Indonesia secara umum. Semangat Hasbi untuk terus berijtihad sangat penting waktu itu untuk kontekstualisasi fikih. Terlebih pentingnya kajian perbandingan hukum,” tutur Ratno Lukito yang menyelesaikan doktoralnya dalam bidang Comparative Law di McGill University, Montreal, Kanada.

Sementara Dr Munawar Ahmad, dosen Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, membaca buku ini sebagai potret penelitian untuk rekonstruksi epistemologi, yakni upaya membaca jejak atau pola pembangunan pengetahuan dan logika yang dilakukan oleh Hasbi.
 
“Tulisan buku ini mampu mengkritisi bangunan pemikiran Hasbi secara komprehensif dalam perspektif epistemologi ushul fikih. Oleh karena itu, karya ini dapat digolongkan sebagai satu karya yang inspiratif bagi pembangunan pengetahuan ilmu fikih kontekstual dalam dunia kontemporer,” jelasnya dengan semangat.

Munawar, yang menulis disertai doktoralnya tentang pemikiran politik Gus Dur di Indonesia, menilai buku ini merupakan bentuk kegelisahan ilmiah Yudian, karena para ulama menempatkan fikih sebagai ideologi-mistis, tidak menempatkan fikih sebagai dasar etis-sosial.
 
“Ini adalah azam (kemauan yang keras) dari Prof Yudian untuk mengembangkan dan mengenalkan keindahan ushul fikih di Indonesia dan dunia internasional. Terlebih, buku ini dan buku karya Prof Yudian yang lain memang sengaja ditulis dengan bahasa asing (Inggris.red). Tak lain, agar Islam Indonesia tidak terkesan jumud dan mandeg,” jelasnya dengan mantap.   

Di akhir diskusi Ratno memotivasi mahasiswa perguruan tinggi Islam untuk belajar bahasa asing dengan baik. Khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dengan bahasa asing yang baik, mahasiswa bisa melakukan petualangan keilmuan menjelajah berbagai pusat kajian Islamic studies di dunia.

“Petualang ilmiah inilah yang harus dilakukan. Mencontoh para ulama klasik Islam di masa keemasan. Ini juga telah dilakukan Prof Yudian,” paparnya mengakhiri diskusi. (mhd)
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG