Nahdliyyin Rindukan Lahirnya Tokoh Nasional dari Partai Berbasis NU

Nahdliyyin Rindukan Lahirnya Tokoh Nasional dari Partai Berbasis NU
Jakarta, NU Online
Sebagai sebuah komunitas besar dengan jumlah pengikut yang mencapai puluhan juta, kalangan nahdliyyin kini merindukan munculnya tokoh nasional yang berasal dari partai-partai berbasis NU sebagai saluran aspirasi kepentingan mereka sebagaimana periode sebelumnya.

“Warga NU menginginkan munculnya tokoh nasional yang berasal dari partai berbasis NU seperti PKB, PPP ataupun PKNU,” kata Ketua PBNU Masykuri Abdillah kepada NU Online, Ahad (1/3).<>

Para masa awal reformasi, partai berbasis NU sangat diperhitungkan dalam kepemimpinan nasional. Tercatat Gus Dur yang berasal dari PKB pernah menjadi presiden sedangkan Hamzah Haz pernah menduduki posisi sebagai wakil presiden.

Sayangnya dalam pergulatan kepemimpinan nasional saat ini, partai-partai berbasis NU tersebut tak mampu menawarkan tokohnya menjadi kandidat presiden maupun wakil presiden pada pemilu 2009-2014. Mereka hanya menjadi pengikut atau pendorong kepentingan fihak lain.

Tercatat PKB masih menjagokan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden sedangkan PPP masih belum menentukan sikap, tetapi juga menunjukkan kecenderungan untuk mengusung calon dari partai lain sementara PKNU sebagai partai baru masih berjuang untuk menunjukkan eksistensinya.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai ada dua faktor yang menyebabkan minimnya kepemimpinan nasional dari kalangan partai berbasis NU. “Ada dua kemungkinan, stok kepemimpinan memang terbatas dan proses pemunculan pimpinan partai tidak melalui proses yang alamiah. Sebenarnya belum saatnya, tapi ia langsung menduduki posisi strategis di partai, orang bisa membaca sendiri,” terangnya.

Tetapi ia lebih menekankan terjadinya kegagalan ini disebabkan oleh proses rekrutmen yang kurang alamiah ketika pimpinan partai “diangkat” bukan dipilih. “Jika kita mampu melakukan pemilihan, stoknya pasti ada,” tandasnya.

Situasi seperti ini tentu sangat merugikan warga NU yang mengharapkan lahirnya para pemimpin dari kalangan sendiri yang mampu memperjuangkan aspirasinya, apalagi NU dikenal dekat dengan dunia politik.

“Kita sering membanggakan, NU tak bisa dilepaskan dari politik, tapi kini mengalami keterbatasan dalam rekrutmen kepemimpinan nasional, sementara dalam aspek lain, NU seperti dalam dunia pendidikan tinggi dan bisnis, NU juga ketinggalan. Kita sedih kalau melihat hal ini,” paparnya.

Upaya evaluasi terhadap masalah langkanya tokoh NU dalam kepemimpinan nasional ini akan dibahas dalam Muktamar ke-32 NU yang akan berlangsung di Makassar awal 2010 mendatang agar tokoh NU mampu berkiprah lebih banyak. “Temanya meningkatkan khitmah nahdliyyah, bagiamana pelayanan dan pengabdian NU kepada bangsa,” tandasnya. (mkf)
BNI Mobile