IMG-LOGO
Warta

Air Tanah di Jakarta Tidak Aman Dikonsumsi

Jumat 30 Juli 2004 11:18 WIB
Bagikan:
Air Tanah di Jakarta Tidak Aman Dikonsumsi

Jakarta, NU Online
Masyarakat  Ibukota Jakarta patut prihatin. Sebab, berdasarkan penelitian terakhir, kondisi air tanah seluruh Jakarta kualitasnya makin menurun dan tidak layak konsumsi, demikian dikatakan P. Raja Siregar, dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Nasional, di Jakarta.

Dari data Pemda dan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2002 diketahui bahwa air tanah di Jakarta antara lain telah tercemar Ecoli, dan intrusi air laut yang hingga kini telah sampai ke daerah Slipi, Jakarta Barat.

<>

"Sekitar 50 persen warga Jakarta mengonsumsi air tercemar yang diambil dari sumur mereka, karena hanya 50 persen warga yang tersambung oleh pipa PAM,"jelasnya, kemarin. Raja Siregar mengatakan, di daerah Rawamangun, Jakarta Timur, airnya bahkan tidak layak lagi digunakan untuk mandi, karena berminyak, berwarna coklat dan licin.

Sementara itu, warga Kelurahan Tomang Jakarta Barat mengaku lebih banyak memilih menggunakan air dari Perusahaan Air Minum (PAM) daripada air tanah. "Air tanah di sini sudah tidak bisa dipakai lagi," kata Ny. Ibrahim, warga Jalan Rawa Kepa Kelurahan Tomang.

Menurut dia, air tanah hasil sedotan dari mesin pemompa air (jetpump) akan berwarna kuning dan kadang-kadang ada sedikit lapisan seperti minyak, dan baju akan dekil jika dicuci dengan air tersebut.

Bahkan Eman, salah seorang Ketua Rukun Tetangga (RT) di Kelurahan Tomang, mengatakan bahwa ember yang digunakan untuk menampung air hasil sedotan ’jetpump’ pun akan ikut berwarna kuning dan tidak bisa dihilangkan. "Saat ini, jika ingin memperoleh air tanah dengan kondisi yang jernih, sangat sulit," katanya.

Menurut dia, jika tetap ingin menggunakan ’jetpump’, harus dilakukan pengeboran hingga kedalaman lebih dari 30 meter, baru bisa diperoleh air tanah yang jernih dan bisa dikonsumsi. Dan jika pengeboran tidak mencapai lebih dari 30 meter, air yang dihasilkan akan berwarna kuning karena mengandung banyak zat besi.

Sekretaris kelurahan setempat, Riyanto, mengatakan bahwa warganya lebih memilih menggunakan air PAM daripada air tanah. "Airnya lebih jernih dan tidak berbau, meskipun jika siang hari alirannya sangat kecil dan baru pada malam hari alirannya deras," katanya.

Dengan semakin banyaknya warga yang menggunakan fasilitas air ledeng (PAM), maka rezeki pada penjual air keliling di kawasan Tomang pun cenderung menurun. Walau demikian, penjual air keliling di wilayah Jakarta Utara masih tetap bertahan, karena air tanah di daerah ini sudah lama terintrusi air laut.

"Memang tidak seramai dulu, tapi sampai sekarang kita masih bisa jualan. Untuk makan sehari-hari cukuplah," ujar Wartono, pegawai pangkalan air Saron yang berlokasi di Jalan Ancol Selatan I No. 47, Sunter Agung, Jakarta Utara.

Mereka sekarang mengaku hanya menjual air ke warung-warung di pinggir jalan yang sudah menjadi pelanggan tetap. Tanpa pelanggan tetap, tidak mungkin bagi penjual air bisa bertahan. "Kita punya langganan tetap, kalau enggak punya langganan siapa yang mau beli," ujar Marto, penjual air keliling yang sudah berjualan sejak 1981.

Oleh karena itu, kata Marto, sebagian besar penjual air keliling di sana telah beroperasi sejak 1980-an. Ia bahkan mengaku mempunyai sejumlah pelanggan tetap selama 15 tahun. Sementara itu, bisnis penjualan air dalam tangki di Gudang Air, Kramat Jati, Jakarta Timur, juga merosot 50 persen sejak pemilihan umum (Pemilu) April lalu, sebab konsumen terbesar dari kalangan pabrikan menunggu situasi politik setelah pemerintahan baru terbentuk menyusul pemilihan presiden September 2004.

"Bisnis penjualan air kami biasanya per minggu bisa 30 sampai 40 tangki, tapi sekarang hanya 15 sampai 20 tangki," kata Iman, seorang pengusaha air tangki. Situasi pengambilan air di Gudang Air terlihat lima truk tangki air menunggu order.

Menurut Wandi, kalau orderan banyak, antrean mobil truk tangki memanjang hingga Pasar Induk Kramat Jati yang jaraknya sekitar 400 meter dari Gudang Air. Meskipun sepi, namun Iman yakin penjualan air ini tetap akan bertahan, karena air bersih merupakan kebutuhan penting. "PAM juga tidak bisa melayani seluruh masyarakat, alternatifnya membeli per air per tangki," ujar Iman. (MA/an)

 

 

Bagikan:
Jumat 30 Juli 2004 22:8 WIB
Kemampuan Diplomasi Ekonomi Indonesia Masih Diragukan
Kemampuan Diplomasi Ekonomi Indonesia Masih Diragukan

Jakarta, NU Online
Ngototnya negara-negara maju dalam mempertahankan kebijakan subsidi   sektor pertanian mereka telah  membuktikan, bahwa WTO hanya menjadi alat   untuk membuka secara paksa pasar negara berkembang bagi produk-produk mereka.    

Padahal, baik negara – negara berkembang, maupun negara-negara maju memiliki saling ketergantungan dalam bidang ekonomi. Karena negara-negara maju menolak tuntutan negara – negara berkembang agar menghapus semua bentuk bantuan  kepada para petani mereka. Maka negara-negara berkembang yang harus memikirkan pemasaran produk-produk dari para petani mereka pun  bangkit “melawan”.

<>

Seperti dalam pertemuan WTO di Cancun, Meksiko, September 2003 lalu, negara-negara maju menuntut agar negara-negara berkembang menghapus semua tarif pertanian mereka. Tuntutan ini serta merta ditolak para perwakilan negara-negara berkembang.  Jika pertemuan WTO di Cancun berakhir dengan kemacetan,  pada pertemuan WTO sampai hari ketiga, Kamis (29/7) di Geneva, negara-negara berkembang masih bertahan pada tuntutan semula.

Meskipun demikian,  pada pertemuan kecil antara kelima  negara kunci WTO (AS, Australia, Uni Eropa, India, dan Brasil) di Geneva telah menunjukkan tanda-tanda akan dicapainya “kesepakatan”. Para pengambil kebijakan di Indonesia  seharusnya  dapat belajar dari kegigihan  diplomasi negara-negara berkembang lainnya di  WTO dalam menuntut pencabutan subsidi sektor pertanian negara-negara maju. 

“Tanpa belajar membangun kemampuan dalam diplomasi ekonomi, Indonesia hanya akan menjadi bulan-bulanan negara-negara maju. Buktinya, WTO yang seharusnya membangun hubungan perdagangan dengan prinsip kesetaraan, kenyataannya digunakan negara-negara maju sebagai forum yang membebaskan mereka untuk menjajah negara berkembang,”kata Direktur Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan Universitas Gadjah Mada (PSPK-UGM) Mochammad Maksum kepada NU Online, Jumat (30/7).

Maksum yang juga ketua PWNU DI Yogyakarta ini mengemukakan, bahwa dibandingkan negara-negara berkembang lainnya, diplomasi ekonomi Indonesia bisa dikatakan jeblok. Maksum pun memberikan bukti, bahwa pada saat forum APEC di Bogor tahun 1994,  di mana dalam pembuatan kesepakatan multilateral untuk ditandatangani negara-negara Asia, kehebatan diplomasi Malaysia ditunjukkan dengan menolak kesepakatan itu. Baru setelah beberapa lama kesepakatan itu dibuat, Malaysia bersedia menandatangani kesepakatan itu setelah terlebih dahulu dilakukan revisi atas draft perjanjiannya. 

“Bertolak belakang dengan Malaysia, pada saat itu, Presiden Soeharto malah membebaskan tarif impor gula dan beras. Jebloknya diplomasi itu telah  memperparah kemiskinan masyarakat di sektor pertanian padi, dan industri gula,”tandas Maksum

Salah satu kecanggihan diplomasi memang ada pada kekuatan manajemen informasi. Maksum pun mengambil konsep Indonesian Summit Sustainable Developtment sebagai contoh betapa lemahnya penggunaan data sebagai pertimbangan pengambilan keputusan. Ujung-ujungnya dalam konsep itu disebutkan illegal logging (penebangan/pencurian kayu liar) akan mampu diselesaikan pemberantasannya pada tahun 2020. Tidak hanya itu, pada tahun 2007 dicanangkan swasembada gula.

“Dengan  jumlah impor gula mencapai 1,5 juta ton pada 2004 berarti dalam waktu tiga tahun yang akan datang, Indonesia harus mampu meningkatkan  produksi gula nasional sebanyak dua kali produksi pada tahun ini,”papar Maksum.  Karena lemahnya manajemen informasi itu, Maksum pun melihat semua konsep yang dibuat di atas terkesan mengada-ada.

Senada dengan Maksum, Ahli Ekonomi Politik dan Analis Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia Andrinof A. Chaniago  mengemukakan, bahwa masa depan sektor pertanian nasional sangat tergantung dari kemampuan pemerintah dalam membangun kecanggihan diplomasi. Apalagi ketergantungan Indonesia terhadap pasar di negara-negara maju sangat tinggi.

 “50 persen pasar kita bergantung kepada Amerika Serikat, sisanya Jepang, Uni Eropa, dan China,”ungkap dosen PPS UI yang akrab dipanggil dengan Andrinof ini.

Menurut Andrinof, tanpa kecanggihan diplomasi di bidang ekonomi, sulit bagi Indonesia melindungi sektor pertaniannya. Karena dalam mempertahankan atau memperluas pemasaran bagi produk-produk pertanian Indonesia di AS, Uni Eropa, dan negara lainnya diperlukan kecanggihan dalam diplomasi, termasuk melindungi sektor pertanian dan pasar dalam negeri dari serbuan produk-produk negara maju.

Andrinof pun mengambil contoh atas penolakan AS terhadap mangga dari Indonesia dengan alasan tidak higienis atau kurang memenuhi standar kesehatan. “Padahal AS bersedia menerima mangga dari Philipina yang kualitasnya sama dengan mangga

Jumat 30 Juli 2004 19:41 WIB
Persiapan Konfercab III PCI-NU Mesir Matang
Persiapan Konfercab III PCI-NU Mesir Matang

Mesir, NU Online
Tidak lama lagi, sejarah NU akan diukir lagi. Ya, Wisma Nusantara, bangunan setengah baya itu akan kembali menjadi saksi bisu atas peristiwa monumental yang akan ditorehkan NU. Bangunan itu akan kembali menjadi tempat bersejarah untuk yang kesekian kalinya bagi warga NU Mesir. Karena tak lama lagi, tepatnya 07/08/2004, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Mesir akan menggelar Konferensi Cabang III di sana.

Pada saat itu dan ditempat itulah nasib NU Mesir dua tahun kedepan akan ditentukan, apakah ia akan tetap eksis atau sebaliknya?. Sebuah pertanyaan yang tidak perlu kita jawab dengan kata-kata tentunya, namun tindakan kongkritlah jawaban yang bijaksana. Mari kita tunggu tanggal mainnya!. Tapi yang jelas, demi kesuksesan acara tersebut, NU telah melakukan persiapan sejak dini, baik yang bersifat tehnis maupun praktis. Hal itu terlihat, misalhya, dari gigih dan getolnya panitia dalam melaksanakan tugasnya.

<>

Warso Winata, ketua pelaksana acara ini, saat ditanya mengenai sejauh mana persiapan panitia Konfercab III, dengan santai nan pasti dia menjawab, “Berkat kekompakan teman-teman, alhamdulillah persiapan sudah mencapai 50 persen. Ya, insyaAllah sisanya akan kita tuntaskan lima hari kedepan”, jawabnya sambil tersenyum simpul. Sementara itu, M. Ulinnuha, sang sekretaris, saat ditanya mengenai persiapan administrasi, dengan nada serupa ia menjawab, “Alhamdulillah masalah administrasi tidak ada gangguan apapun, ya kira-kira sembilan puluh persen sudah siap sedia”, ucapnya berwibawa.

Panitia Konfercab III yang dibentuk pada awal bulan juli lalu talah berhasil melaksanakan rapat koordinasi dua kali. Pertama, pada tanggal 07/07/’04 lalu yang membahas tentang pembagian kerja dan timming.Rapat kedua dilaksanakan pada 28/07/2004, rapat kali ini membicarakan tentang laporan tiap bagian (seksi), evaluasi dan persiapan kerja panitia kedepan. Seksi acara misalnya, telah berhasil menghubungi para petugas yang akan tampil pada acara Konfercab III nanti, jadwal acara pun telah berhasil disusun. Sementara itu, bagian persidangan juga telah melaksanakan tugasnya, mencetak cover booklet Konfercab, membuat sticker dan pamflet. Adapun peralatan persidangan akan diselesaikan pada tanggal 02/08/’04 nanti.

Tak mau kalah, humas dengan jurus handalnya telah berhasil menyebarkan buletin yang disiapkan oleh bagian pers dan akses kandidat ke seluruh penjuru Masisir. Demikian halnya dengan bagian-bagian lain, konsumsi, dekorasi dan dokumentasi serta pers dan akses kandidat, telah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Rapat yang akan dilaksnakan panitia tinggal dua kali lagi, final cheking, akan digelar pada 04/08/’04 dan rapat terakhir adalah LPJ panitia yang menurut rencana akan dilaksanakan empat hari pasca acara konfercab III nanti.

Hari-hari ini Sekretariat PCI-NU sangat disibukkan dengan sederetan acara yang akan digelar menjelang Konfercab III. Perdebatan antara liberalis dan konserfatif tidak terdengar lagi. Tidak seperti biasanya, perdebatan yang terjadi pada hari-hari ini hanya berkisar soal persiapan acara pra Konfercab NU, Konfercab III, seputar bagaimana mengakses kandidat, pemesanan catering, dan seterusnya. Namun demikian, kita tetap berharap semoga semangat kebersamaan, persatuan dan dedikasi tetap terjalin. Dan mudah-mudahan semua agenda acara yang telah direncanakan dengan matang ini dapat terlaksana dengan baik dan tanpa ada halangan yang merintanginya.(Kontributor Mesir : MuN)

Jumat 30 Juli 2004 18:35 WIB
Tim Media Centre Siap Sukseskan Muktamar
Tim Media Centre Siap Sukseskan Muktamar

Jakarta, NU Online
Tim Media Centre Muktamar ke-31 sudah menyiapkan semua kebutuhan untuk muktamar, dari kebutuhan hardware, software, pemilihan ruangan juga termasuk melakukan pendekatan ke Indosat sebagai penyedia jasa koneksi internet. Persiapan jauh-jauh hari ini dikarenakan urgensitas media centre sangat penting, terlebih di arena muktamar tidak tersedia koneksi internet yang memadai.

Demikian disampaikan oleh Manajer Tekhnologi Informasi NU Online, Ir. Intar Isworo, setelah melakukan survey ke lapangan 21 Juli lalu. Pada saat survey, lelaki asli Jogjakarta ini juga telah melihat lokasi muktamar termasuk penempatan ruang media centre yang strategis untuk mengcover kebutuhan internet bagi pers dalam dan luar negeri.

<>

Ruangan yang diusulkan berada di ruang Selasar lt II gedung utama. Alasan dipilihnya ruangan ini, lanjut Intar karena ruangan ini berada di lantai II yang hanya memiliki satu tangga pintu utama, sehingga tidak mudah dimasuki oleh orang yang tidak berkepentingan, selain pers dan panitia kesekretariataan. "Cukup menempatkan 2 orang petugas keamanan dari Banser untuk mengontrol lalu lintas pengunjung yang masuk," tegasnya.

Selain itu dari sisi tekhnis, pemilihan ruang sangat memudahkan untuk peletakan micro wave (internet radio) perangkat yang digunakan untuk mensupport koneksi internet dari Indosat. Ventilasi udara yang terbuka, sehingga tidak diperlukan pendingin ruangan, cukup dengan kipas angin. "Tempatnya strategis mudah dijangkau pers, karena dekat ruang sidang utama," tambah Intar.

Disamping persiapan tekhnis dan strategi, Manajer IT juga melakukan koordinasi lapangan dengan pengelola gedung, berkaitan dengan daya listrik, telpon, dan pengerjaan sipil. Ini untuk mengetahui sejauh mana kapasitas yang dimiliki Asrama Haji Donohudan. "Kita tidak ingin ada hal yang tidak kompatible dengan kebutuhan muktamar, jadi jauh-jauh hari kita sudah siapkan," tegas lelaki berkaca mata ini.

Khusus untuk persiapan komputer dan jaringan internet, kata Intar, dirinya sudah menghubungi vendor lokal penyedia komputer di Jogja dan Solo waktu survey 21 Juli lalu. Menurutnya berdasarkan keputusan panitia, kebutuhan komputer untuk mensupport muktamar sekitar 75 unit. 50 unit untuk media centre yang 24 jam terkoneksi internet untuk para wartawan dan 25 unitnya untuk kebutuhan kesekretariatan.

"Semua sudah disiapkan, Indosat pun sudah Ok, tinggal kesepakatan harga dan untuk bandwith yang digunakan sekitar 128-256 MB. Dan rencananya akan menggunakan transmisi radio 3,3 Gg antara Asrama Haji dengan Hotel Diamond Tempat BTS Indosat di Solo," imbuhnya mengakhiri pembicaraan. (cih)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG