IMG-LOGO
Warta

PBNU Bahas Pembajakan Kitab Sirajut Thalibin, Hari ini

Senin 7 September 2009 12:1 WIB
Bagikan:
PBNU Bahas Pembajakan Kitab Sirajut Thalibin, Hari ini
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hari ini, Senin (7/9) akan mengadakan rapat khusus membahas kasus pembajakan kitab Sirajut Thalibin karya Syekh Ihsan bin Dahlan Jampes Kediri oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon.

Rapat dihadiri oleh keluarga Syekh Ihsan dari Kediri, Jawa Timur, mantan Duta Besar RI Beirut Lebanon H Abdullah Syarwani, perwakilan penerbit Darul Fikr di Indonesia Ahmad Al-Idrus, perwakilan Departemen Agama RI, pengurus syuriyah dan tanfidyiyah PBNU, dan beberapa lembaga NU terkait seperti Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) NU dan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU.<>

Rapat yang dirangkai dengan acara buka puasa bersama akan mengumpulkan informasi dari berbagai pihak terkait kasus ini dan merumuskan langkah penyelesaiannya.

Rais Syuriyah PBNU KH Hafidz Utsman kepada NU Online menyatakan, pihak keluarga dan ahli waris Syekh Ihsan telah memberikan mandat kepada PBNU untuk membantu menyelesaikan persoalan ini.

Mantan Dubes RI di Lebanon H Abdullah Syarwani beberapa waktu lalu meminta PBNU melakukan klarifikasi atau tabayyun terhadap berbagai isu terkait dugaan pembajakan.

”Tabayyun itu adalah cara penyelesaian yang khas NU. Sikap atau cara mengatasi suatu masalah haruslah didahului dengan mempelajari duduk perkara secara cermat. Tabayyun seperti itu adalah cara demokratis di lingkungan kaum Nahdliyyin yang seharusnya tumbuh subur sebagai tradisi,” katanya.

Rapat membahas kasus pembajakan bertema “Pelestarian Kitab Ulama Nusantara” ini kemungkinan akan meluas pada berbagai kasus pembajakan dan pelanggaran lain yang dilakukan oleh beberapa penerbit di Timur Tengah.

Ahmad Al-Idrus dari penerbit Darul Fikr ketika dihubungi NU Online menyatakan akan mempresentasikan beberapa temuan pelanggaran yang dilakukan oleh penerbit di Lebanon dan Saudi Arabia.

Beberapa penerbit beraliran Wahabi di Saudi Arabia, katanya, menerbitkan kitab-kitab lama dengan membuang pembahasan yang tidak sesuai dengan ajaran mereka, yang justru diamalkan oleh umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU. (nam)
Bagikan:
Senin 7 September 2009 17:50 WIB
MUI Jatim: DPR Paling Bertanggung Jawab atas Bencana
MUI Jatim: DPR Paling Bertanggung Jawab atas Bencana
Surabaya, NU Online
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Abdushomad Bukhori, merasa prihatin dengan bencana bertubi-tubi yang menimpa bangsa Indonesia. Menurutnya bencana ini terjadi bukan datang tiba-tiba tanpa sebab, melainkan karena kemaksiatan dan kebathilan telah merajalela di negara yang mayoritas berpenduduk muslim ini.

"Yang paling bertanggungjawab adalah pemerintah termasuk DPR sebagai wakil rakyat. Mestinya pemerintahan harus sudah mengambil langkah membicarakan bencana ini dengan para ulama dan kyai yang sampai saat ini tidak pernah diajak berbicara," kata KH Abdushomad Bukhori di Surabaya, Ahad (6/7).<>

Menurt Abdhushomad, saat ini bencana yang sudah tidak terhitung berapa kali meluluh lantakan kehidupan masyarakat Indonesia ini hanya diselesaikan dengan memberi bantuan dan kunjungan pejabat untuk ikut berbelasungkawa. Sedangkan penyebabnya tidak pernah dibicarakan dengan ulama yang mestinya ikut berperan menyelesikan persoalan bangsa.

"Bangsa ini sudah dikuasai perzinaan dan kebatilan pada fase yang menghawatirkan yang nota bene adalah berpenduduk masyoritas Muslim. Bencana tidak cukup diselesaikan hanya dengan memberikan sumbangan. Sumbangan selesai bencana datang lagi karena kemaksiatan tetap terjadi bahkan semakin merajalela," tegasnya. (min)
Senin 7 September 2009 17:5 WIB
PBNU Pertanyakan Penangkapan Pemberi Sumbangan ke Pengemis
PBNU Pertanyakan Penangkapan Pemberi Sumbangan ke Pengemis
Jakarta, NU Online
Rais syuriyah PBNU KH Hafidz Utsman mempertanyakan tindakan yang dilakukan oleh pasukan trantib DKI Jakarta yang melakukan penangkapan pada para pemberi sumbangan kepada pengemis.

Upaya yang harus dilakukan menurutnya bukan menangkap para pemberi, tetapi melakuan investigasi motif pengemis karena diduga terdapat upaya terkoordinasi untuk mengemis, padahal di kampungnya, mereka tergolong makmur.<>

“Itu dulu yang harus dilakukan, jaringannya dideteksi dan mencegahnya agar tidak terjadi,” katanya kepada NU Online, Senin (7/9).

Ia melihat pola-pola mengemis seperti ini sudah berjalan lama. Mereka mengemis secara bergerombol yang terdiri dari 3-5 orang, yang terjadi terutama di kota besar. Pola ini berbeda dengan pengemis asli yang biasanya ada di kota kecil yang beroperasi secara individual.

Secara pribadi ketua MUI Jawa Barat ini juga lebih suka memberi sumbangan kepada orang yang jelas kebutuhannya, atau jika pengemis, benar-benar cacat karena manfaatnya bagi penerima jelas, tidak ada perasaan dibodohi oleh sindikat pengemis. (mkf)
Senin 7 September 2009 16:32 WIB
Tolak Dianggap Tak Beri Kontribusi, PKB Dukung Program NU dalam Tiga Level
Tolak Dianggap Tak Beri Kontribusi, PKB Dukung Program NU dalam Tiga Level
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menolak anggapan PKB selama ini kurang mendukung program-program yang menjadi kepentingan warga NU. Menurutnya, ada tiga level dukungan yang sudah diberikan kepada warga NU.
“Kalau mau tahu program dukungan PKB dan NU ada tiga level, pertama, pada tingkat pembuatan UU, program pemerintahanan dan anggaran dan ketiga dalam menumbuhkembangkan kinerja NU,” katanya kepada NU Online, Ahad (6/9).
<>
Untuk dukungan dan sumbangan rutin yang diberikan PKB kepada PBNU, Muhaimin menjelaskan, yang diberikan memang tidak besar, tetapi kontribusi tak hanya berwujud uang. Untuk di tingkat pusat, kontribusi yang diberikan lebih pada upaya membangun kebijakan yang lebih pro warga NU dan penguatan institusi NU dan PKB di level bawah.

“Kalau di tingkat cabang, kita sudah sinergi. Di luar Jawa kita bahkan sudah menghidupi NU. Yang disebut kurang kontribusi mungkin pada wilayah individual kali. Kalau di Jakarta, apa coba yang mau dibantu. Program PKB misalnya mendorong APBN untuk pesantren, mendorong untuk APBD. Ya mungkin di PBNU yang terpenting adalah koordinasi,” terangnya.

Bertekad Tanpa Konflik

Wakil Ketua DPR RI ini juga menjelaskan, pengalaman konflik yang telah menurunkan suara PKB menjadi pelajaran besar “Makanya PKB bertekat menjadi partai yang rasional, modern dan tidak ada konflik. Tapi Alhamdulillah, selagi kita bekerja keras masih bisa kita atasi,” ujarnya. (mkf)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG