IMG-LOGO
Warta

JIL bukan Pembaharu Pemikiran Islam

Kamis 10 September 2009 15:19 WIB
Bagikan:
JIL bukan Pembaharu Pemikiran Islam
Jakarta, NU Online
Kepala Badan Litbang Depag, Prof Dr Atho Mudzhar, menegaskan bahwa liberalisasi pemikiran Islam berbeda dengan pembaharuan pemikiran Islam.

''Dalam pembaharuan, yang ada adalah reformulasi pemikiran Islam terhadap teks-teks suci (nash) yang ada. Sedangkan dalam liberalisasi terkandung makna keberanjakan atau departure dari teks suci (nash). Dengan kata lain, dalam liberalisme ada unsur meninggalkan nash, dan inilah yang ditentang Majelis Ulama Indonesia,'' tegas Atho dalam makalahnya pada seminar internasional Tajdid Pemikiran Islam bertajuk 'Ahlus sunnah wal jamaah di era liberalisasi pemikiran Islam' di Jakarta, Kamis (10/9).<>

Dijelaskan Atho di antara pendapat-pendapat kaum pendukung Islam liberal adalah bahwa Alquran adalah teks dan harus dikaji dengan hermeneutika.

''Menurut mereka, kitab-kitab tafsir klasik itu tidak diperlukan lagi. Juga seperti mahar dalam perkawinan boleh dibayar oleh suami atau istri serta mereka berpendapat bahwa pernikahan untuk jangka waktu tertentu boleh hukumnya,'' tegas Atho seperti dilansir republika.co.id.

''Jika pendapat-pendapat tersebut dicermati, maka akan nampak sejumlah kesimpangsiuran cara berpikir JIL dan kecenderungan melonggar-longgarkan aturan agama. Seperti hendak melihatnya seperti aturan buatan manusia,'' tambah dia.

Diakui Atho bahwa sebagian kelompok masyarakat Islam menganggap bahwa pemikiran JIL dianggap dapat merusak akidah umat Islam. Karenanya, menurut Atho, mereka menentang keberadaan JIL.

Atho juga menilai bahwa Islam Liberal ini berkembang melalui media massa. ''Surat kabar utama yang menjadi corong pemikiran Islam Liberal adalah Jawa Pos yang terbit di Surabaya, Tempo di Jakarta dan Radio Kantor Berita 68 H, Utan Kayu Jakarta. Melalui media tersebut disebarkan gagasan-gagasan dan penafsiran liberal,'' tandas Atho.

Lebih lanjut Atho berharap bahwa agar perdebatan pemikiran lebih sehat, sebaiknya JIL merumuskan kerangka berpikirnya secara metodologis.

''Sebaiknya mereka yang mengumandangkan pembaharuan atau liberalisasi atau apapun namanya, merumuskan secara cermat dan menyeluruh kerangka berpikir metodologis mereka. Sehingga tidak sekadar menimbulkan kontroversi yang sesungguhnhya sia-sia dan tidak berujung,'' kata Atho. (mad)
Bagikan:
Kamis 10 September 2009 20:37 WIB
NUZULUL QUR’AN
Nikmati Al-Qur’an 100 Persen
Nikmati Al-Qur’an 100 Persen
Brebes, NU Online
Al-Qur’an menjadi petunjuk, obat, peraturan, dan kabar gembira bagi manusia. Segala urusan di muka bumi bisa dicarikan solusinya melalui Al-Qur’an.

“Problem remaja misalnya, tentang percintaan bisa dicarikan jawabannya lewat Al-Qur’an,” ujar Ustadz Agus Safari saat menyampaikan tausiyah pada peringatan Nuzulul Qur’an 1430 di SMP Negeri 7 Brebes, Kamis (10/9) di sekolah setempat.<>

Pergaulan bebas dan narkoba, lanjutnya,  adalah hal-hal yang menyeret remaja pada hal-hal negatif. “Sesuai dengan fase perkembangan, anak-anak seusia SMP dan SMA sangat labil, sehingga rentan terhadap persoalan remaja,” lanjutnya.

Contoh kecil, urainya, pada tahun 2008 Komnas HAM Anak meneliti 4500 siswi SMP di 12 kota secara acak, menyatakan 62,7 % ternyata sudah bergaul bebas dan 92% sudah melakukan ciuman, seks oral. Dalam sebuah penelitian lain, pada 1992 Mahasiswa UII 90% telah bergaul bebas. Sedangkan BKKBN mencatat, 2,5 juta SMA dan Mahasiswa telah melakukan aborsi selama kurun waktu 1 tahun.

Untuk itu, selain solusi dirunutkan pada ahli psikologi, sambungnya, harus pula dikembalikan pada nilai-nilai Qur’ani lewat konsultasi pada para ulama. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Sudah dijelaskan secara nyata dalam Al-Qur’an tentang tata cara pergaulan.

“Jangan dekati zina karena perbuatan keji dan seburuk-buruknya perbuatan,” ujarnya seraya menukil ayat Al-Qur’an.

Ia menyarankan kalau diera modernisasi telah bermunculan ajaran-ajaran yang ingin merubah Al-Qur’an dengan dalih pembaharuan. Padahal, Al-Qur’an sebagai penyempurna bagi seluruh aturan untuk kehidupan manusia baik dunia maupun akherat. Maka perlulah kita mengimani, membaca, menghafalkan, memahami, mengamalkan Al-Qur’an. “Jalan terbaiknya, perlu aktualisasi dengan menikmati Al-Qur’an 100 persen,” tandasnya.

Sementara, Kepala SMP N 7 Brebes Safrudin SPd menyampaikan peringatan Nuzulul Qur’an digelar dengan harapan bisa mengubah pola tingkah laku anak didik. Antara lain melalui kegiatan keagaaman.

“Dengan seringnya mendapatkan sentuhan ayat-ayat Qur’an, diharapkan bisa menjadi generasi yang Qur’ani,” terangnya.

Nuzul Qur’an yang diikuti 570 siswa dan puluhan guru itu, berlangsung gayeng. Jok-jok yang dilontarkan Ustadz Agus Safari menjadikan pengunjung kerap terpingkal-pingkal sehingga tidak terasa kalau waktu telah habis. (was)
Kamis 10 September 2009 19:14 WIB
JELANG MUKTAMAR
Hasyim: Makin Banyak Orang Berkepentingan Pada NU
Hasyim: Makin Banyak Orang Berkepentingan Pada NU
Jakarta, NU Online
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, keberadaan NU mempengaruhi seluruh aspek kehidupan di Indonesia. Karena itu, menjelang muktamar ini, semakin banyak fihak yang berkepentingan pada NU.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan, terdapat tiga kelompok yang berkepentingan dengan NU, yaitu mereka yang memaknai keberadaan NU secara positif, negatif dan netral.<>

Ia melihat ada kelompok yang ingin merebut “rumah NU” terkait dengan kepentingan ideologi, politik, kultural dan pengendalian masyarakat sehingga ajaran dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendiri NU harus terus dipeliharan dan dikembangkan.

“Bukan kewajiban kita untuk mempertahankan pengurus, tetapi yang lebih penting adalah mempertahankan ajaran,” katanya dalam acara buka puasa bersama yang diselenggarakan PBNU di Gedung PBNU, Kamis (10/9).

Berbagai upaya melemahkan NU ini dilakukan melalui berbagai cara yang sistematis dan terorganisir secara rapi. “Struktur dan kultur NU dijauhkan, kultur dan ummat juga dilemahkan,” tandasnya.

NU Malati (Bikin Kualat)

Dijelaskannya, keberadaan NU yang pendiriannya dilakukan dengan istiqarah dan tirakat penuh keikhlasan bisa malati atau membikin kualat orang-orang yang meremehkan atau berusaha merubah ajarannya.

“Kalau politisasi itu hanya merusak kulit-kulitnya saja, tapi kalau ada upaya merusak akidah NU, itu sudah menusuk jantungnya NU, kita harus hati-hati,” terangnya.

Selama 45 tahun pengabdiannya di NU sejak menjadi ketua Ranting Ansor Bululawang Malang, ia mengaku sudah bertemu dengan banyak orang dan tahu perilakunya terhadap NU. Karena itu ia melihat orang-orang yang berusaha merubah NU akan kualat.

Upaya mempertahankan dan mengembangkan NU bisa dilakukan melalui muhasabah atau mengintrospeksi segala kesalahan dan murokobah atau mendekatkan diri kepada Allah.

Cukup banyak yang sudah dilakukan NU. “Dulu kita nothing, sekarang kita something. Dulu kita bukan siapa-siapa, sekarang kita bertarung di dunia internasional,” tandasnya. (mkf)
Kamis 10 September 2009 17:35 WIB
PBNU: Soal Sertifikasi Halal, MUI dan Depag Harus Bekerjasama
PBNU: Soal Sertifikasi Halal, MUI dan Depag Harus Bekerjasama
Jakarta, NU Online
Belum adanya titik temu antara Departeman Agama (Depag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada lembaga sertifikasi halal dalam Rancangan Undang-undang Jaminan Produk Halal (RUU JPH) menuai reaksi. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bagdja, menyatakan, kedua lembaga itu harus bekerja sama demi kepentingan umat.

Tidak adanya titik temu itu disebabkan kurang intens-nya komunikasi yang dibangun antara kedua lembaga tersebut. Sebab, jika sunggug-sungguh mencari kesamaan untuk membangun ajaran syariat Islam, pasti titik temu itu didapatkan.<>

"Jangan meninggikan ego sektoralnya masing-masing, keduanya harus bertemu dan bekerja sama demi kepentingan umat," kata Bagdja di jakarta, Kamis (10/9).

Lebih lanjut, Bagdja meminta kepada kedua belah pihak untuk dapat bermusyawarah dan menghasilkan keputusan yang berguna bagi umat Islam. Karena produk halal sangat dibutuhkan oleh kalangan Muslim di Indonesia, jadi, jangan sampai umat korbankan umat untuk kepentingan golongan atau lembaganya masing-masing.

Menurut Bagdja, kerjasama yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam ini Depag dan MUI yaitu dengan mendirikan Komisi atau lembaga. Komisi itu yang memuat unsur dari Pemerintah seperti Depag, Departemen Kesehatan, MUI, dan masyarakat umum.

"Semua harus kompak untuk memajukan umat dalam beribadah kepada Allah SWT, agar tercipta baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. RUU JPH, sangat dibutuhkan oleh umat Islam saat ini. Sebab, memakan makanan yang halal dan baik itu tuntutan ajaran agama. Halal dan haram itu, jelas aturan yang harus ditaati oleh umat Islam," tegas Bagdja. (min)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG