IMG-LOGO
Warta

Kesultanan Keraton Kanoman Gelar Gerebeg Syawal


Senin 28 September 2009 07:04 WIB
Bagikan:
Kesultanan Keraton Kanoman Gelar Gerebeg Syawal
Sumber, NU Online
Setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh kemudian disempurnakan dengan puasa sunnah di bulan Syawal selama tujuh hari, keluarga besar Keraton Kanoman Cirebon mempunyai agenda rutin tahunan berziarah ke makam Sunan Gunung Jati yang dikenal dengan sebutan Gerebeg Syawal.

Dalam pelaksanaannya, ritual tahunan ini selalu melibatkan ribuan masyarakat dari berbagai daerah yang ingin turut serta berziarah, mendoakan sambil mengenang kebesaran Sunan Gunung jati yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di Nusantara atau bahkan mengharapkan berkahnya.<>

Tahun ini Grebeg Syawal yang selalu digelar pada tanggal 8 Syawal H jatuh pada hari Ahad (27/9). Seperti tahun-tahun sebelumnya keluarga besar kesultanan keraton Kanoman menjalankan ritual Grebeg Syawal diiringi ribuan masyarakat dari berbagai daerah yang mengharapkan berkah di Komplek Makam Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Sembung, tepatnya di Desa Astana, Kecamatan Gunung jati, Kabupaten Cirebon, Jabar.

Ritual diawali dengan kedatangan Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin beserta kerabat di kompleks makam sekitar pkl. 06.30 WIB. Kehadiran keluarga besar keraton ini pun disambut oleh ribuan masyarakat yang sudah berada di tempat tersebut sejak satu hari sebelumnya.

Rombongan Keluarga Keraton kemudian berjalan melewati sembilan pintu menuju makam Sunan Gunung Jati yang hanya dibuka pada saat-saat tertentu saja dan atas seijin sultan.

Tujuh pintu utama yang dilewati keluarga keraton namun terlarang bagi masyarakat biasa yaitu Pintu Pasujudan, Pintu Kandok, Pintu Pandan, Pintu Soko, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan Pintu Gusti. Sedangkan bagi masyarakat biasa hanya diperbolehkan memasuki areal pemakaman hanya sampai di Pintu Pasujudan atau lebih dikenal dengan sebutan Lawang Gede.

Humas Keraton Kanoman, Arief Rahman menerangkan keluarga kesultanan Keraton Kanoman tersebut akan melakukan doa bersama, tahlilan dan dzikir di komplek pemakaman Sunan Gunung Jati tersebut atau yang lebih dikenal dengan nama Gedong Djinem.

"Keluarga keraton akan melakukan tujuh kali doa bersama, tahlil dan dzikir di tujuh areal pemakaman mulai dari makam Sunun Gunung Jati hingga komplek makam cicit Sunan Gunung Jati yang menjadi raja kanoman generasi kedua. Semuanya dilakukan menghadap kiblat dan akan diakhiri dengan tutup doa menghadap Pintu Pasujudan sekaligus penutupan kembali pintu tersebut atas ijin Sultan, ujar Arief.

Selama keluarga Sultan Kanoman beserta kerabat menjalankan doa bersama, para peziarah diperbolehkan melakukan kegiatan serupa namun hingga sebatas Lawang Gede dan areal pemakaman di sekitarnya serta diperkenankan untuk melakukan sawer (melemparkan uang dan bunga) ke arah Lawang Gede.

Setelah melakukan tahlil dan doa penutup didepan Pintu Pasujudan, Sultan dan kerabat beristirahat bersama di Pesanggrahan sambil menikmati hidangan yang telah disediakan oleh para kemit (penjaga makam). Sambil beristirahat, Sultan bersama kerabat melakukan Surak atau membagikan uang logam dengan cara dilemparkan ke arah kerumunan peziarah.

"Tujuan dari tradisi ini adalah sebagai ungkapan ras syukur Keraton Kanoman telah menyelesaikan ibadah puasa selama satu bulan dan disempurnakan dengan puasa sunnah selama satu tujuh hari sesuai anjuran Rasul," ujar Arief. (ant/mad)
Bagikan:
IMG
IMG