IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Mencari Keteladanan


Kamis 3 Desember 2009 09:26 WIB
Bagikan:
Mencari Keteladanan
Dalam sebuah gerakan sosial, kepemimpinan dan keteladanan merupakan faktor penting yang mampu mengikat, menggerakkan dan mengarahkan sebuah gerakan. Bisa saja tokoh yang dihadirkan ini masih hidup, bisa jadi tokoh yang sudah meninggal. Ketika hendak memulai gerakan melawan Belanda misalnya Pangeran Diponegoro giat menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Kertanegara, Gadjah Mada dan sebagainya. Di Amerika Latin misalnya melakukan perlawanan untuk membangun kembali kawasan Selatan itu dengan menghadirkan Simon Bolivar yang hidup abad lalu.

PP Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) menyelenggarakan Perayaan 100 tahun KH Zainul Arifin di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu 25 November 2009 kemarin, sebagai upaya untuk menghadirkan tokoh teladan dalam melanjutkan perjuangan bangsa ini.<>

Bangsa ini sekarang dilanda berbagai kisruh politik dan disorientasi kebudayaan. Ketokohan Zainul Arifin sengaja kembali dihadirkan untuk memberikan teladan bagi kita bagaimana memimpin sebuah bangsa dan mengelola sebuah negara. Komandan Hizbullah ini berjuang dengan mengorbankan harta, pikiran tenaga bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk Negara dengan tanpa pamrih, sehingga ketika meninggal hanya punya rumah sederhana.

Zainul Arifin memang sosok yang layak diteladani, walaupun ia mendapatkan pendidikan Belanda, tetapi tidak menjadi Blandis, tidak meninggalkan etika pesantren dan doktrin ahlusunnah serta segenap tradisi yang menyertainya. Demikian juga ketika sudah menduduki posisi tinggi dalam jajaran politik nasional, komitmen kerakyatannya justeru semakin besar. Karena posisi ini dianggap sebagai sarana bukan tujuan, yaitu sarana untuk memperjuangkan nasib rakyat dan kehormatan bangsanya.

Saat ini ketika negara sudah merdeka justru bangsa ini mengalami kemerosotan di segala bidang karena kekuatan dan kekayaan ini dikorup oleh aparat negara yang diamanahi. Ini sangat berbeda dengan para pejuang yang tidak meminta pada negara, tetapi malah memberikan sesuatu pada negara. Ketika berbuat untuk negara tidak ada keinginan untuk diberi balasan apalagi diangkat menjadi pahlawan. Indonesia merdeka dan Indonesia sejahtera adalah cita-cita mereka.

Kerinduan bahkan kebutuhan terhadap tokoh teladan ini memang selalu muncul termasuk pada generasi sekarang ini. Bisa disaksikan pada tahun ini beberapa tokoh nasional juga dirayakan ulang tahun keseratusnya, ini semua tidak lain sebagai upaya untuk mencari teladan, sehingga bangsa ini bisa meneladani sikap perjuangan mereka dalam membangun Indonesia. Ini menunjukkan bahwa di antara kita masa ada orang yang mengidealkan perjuangan mereka dan menjadikan mereka sebagai teladan, termasuk dalam menghadapi kehidupan yang tidak mengarah ini.

Saat ini ada kebutuhan kembali untuk melanjutkan cita-cita lama yaitu melakukan character building (pembangunan karakter bangsa) dan nation building (pembangunan bangsa), untuk mengembalikan harkat dan martabat bangsa ini. Ini merupakan langkah penting untuk menuju state building (membangun negara). Kehadiran tokoh perjuangan seperti Zainul Arifin, Bung Karno, Bung Hatta dan sebagainya menjadi contoh yang sangat penting.

Kehadiran tokoh teladan ini setidaknya mampu mengingatkan mereka kepada ajaran leluhur tentang pengabdian dan perjuangan bagi kepentingan agama dan bangsa. Dengan demikian akan menambah semangat bagi siapa saja yang ingin melanjutkannya, atau setidaknya bisa menjadi mengerem bagi mereka yang hendak mengkhianati perjuangan bangsa sendiri. Terutama ketika masyarakat telah kesulitan mencari teladan di lingkungan masyarakatnya sendiri, maka kehadiran tokoh sejarah ini bisa sebagai ganti. (Abdul Mun’im DZ)
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG