IMG-LOGO
Warta

H M. Rozy Munir Meninggal Dunia

Senin 22 Februari 2010 10:6 WIB
Bagikan:
H M. Rozy Munir Meninggal Dunia
Jakarta, NU Online
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga menjabat Duta Besar RI untuk Qatar, H M. Rozy Munir meninggal dunia di Rumah Sakit Pelni, Jakarta Pusat, Senin (22/2) pada pukul 07.50 WIB. Almarhum meninggal dunia pada usia 67 tahun.

Usai dimandikan di RS Pelni pada sekitar pukul 09.00 WIB jenazah akan diberangkatkan ke rumah duka Kompleks Dosen UI, Nomor 73, Ciputat untuk disemayamkan. Jenazah putra pertama Kiai Munasir Ali ini akan dimakamkan di tanah kelahirannya di Mojokerto, Jawa Timur.<>

Informasi yang diterima NU Online, jenazah almarhum akan diterbangkan dari Ciputat ke Mojokerto pada pukul 17.00 WIB.

Rozy Munir lahir di Mojokerto pada 16 April 1943. Ia meninggal akibat penyakit kangker hati. “Penyakit kangker hati ini baru dideteksi sebulan yang lalu,” kata seorang kerabat di RS Pelni.

Beberapa kerabat dan dan pengurus PBNU tampak melawat ke RS Pelni, seperti  pengasuh pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Ketua PBNU H Abbas Muin, Wakil Ketua Lembaga Pelayanan Kesehatan (LPK) NU H Bina Suhendra, Ketua PP Lakpesdam NU Nasihin Hasan, dan Wakil Ketua PP Lembaga Bahtsul Masail H M. Cholil Nafis.

Semasa hidup, almarhum Rozy Munir pernah menjabat sebagai Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara pada zaman Presiden Gus Dur, dan anggota Panwaslu pusat.

Almarhum pernah menjabat sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, anggota Lembaga Sensor Film, anggota Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional, staf ahli Menteri Tenaga Kerja, dan Kepala Pusat Penelitian Pembangunan Infrastruktur UI.

Di lingkungan PBNU, Rozy Munir adalah sosok di balik sukses penyelenggaraan International Conference of Islamic Scholars (ICIS). Ia menjadi ketua panitia penyelenggara ICIS I dan II pada 2004 dan 2006. (nam)
Bagikan:
Senin 22 Februari 2010 20:53 WIB
Masdar: Tradisi Maulid adalah Tradisi Tasawuf
Masdar: Tradisi Maulid adalah Tradisi Tasawuf
Jakarta, NU Online
Peringatan maulid Nabi yang telah ditradisikan oleh umat Islam di Nusantara sejak berabad-abad lalu adalah tradisi tasawuf. Artinya upacara peringatan Maulid merupakan amalan para ulama sufi semenjak dahulu kala.

Demikian dinyatakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas'udi dalam ceramahnya di hadapan ribuan jamaah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren al-Kenaniyah Pulomas Jakarta Timur, Ahad malam (21/2). Karenanya, Menurut Masdar, masyarakat yang terbiasa melaksanakan peringatan Maulid senantiasa memiliki semangat menjaga sikap damai dalam kehidupan sehari-hari.<>

"Masyarakat yang mengamalkan peringatan Maulid dapat hidup dengan tidak saling membenci atau saling mengkafirkan di antara sesama saudara Muslim. Bahkan mereka senantiasa menjalani kehidupan dengan penuh rasa saling menyayangi dan saling tolong menolong di antara sesama manusia," terang Masdar yang juga di sebut-sebut sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, akhir Maret mendatang.

Menurut Masdar, Peringatan Maulid nabi Muhammad SAW yang banyak digelar oleh umat Islam di berbagai belahan dunia, telah menjadi salah satu corak atau trade mark bagi masyarakat Muslim di Nusantara sejak awal kedatangan Islam. Karenanya, peringatan maulid telah mendarah daging bagi kaum Muslimin Nusantara, termasuk Indonesia.

"Maulid nabi Muhammad SAW telah emnjadi ciri khas keberislaman umat dari Thailand, Philipina, Malaysia, Brunei Darussalam hingga Indonesia. Semuanya, memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya peringatan maulid dalam kehidupan masyarakat MUslim," tandas Masdar. (min)
Senin 22 Februari 2010 19:19 WIB
Pelukis Gresik Gelar Pameran Lukisan dan Karikatur Gus Dur
Pelukis Gresik Gelar Pameran Lukisan dan Karikatur Gus Dur
Gresik, NU Online
Untuk memperingati 40 hari wafatnya, Abdurahman Wahid alias Gus Dur, Dewan Kesenian Gresik (DKG) menggelar pameran lukis dan Karikatur mantan presiden RI itu. Pembukaan pameran oleh Kepala Dinas Pendidikan Gresik, Chusaini Mustas digelar di Gedung Nasional Indonesia Gresik, Ahad (21/2).

Menurut Ketua Dewan Kesenian Gresik, Kris Adji, pameran lukisan Gus Dur ini diadakan dalam rangka 40 hari versi pelukis. "Ini adalah bentuk memperingati Gus Dur versi kesenian yang ada di Gresik," terangnya.<>

Lebih lanjut, Kris Adji menambahkan, biasanya teman-teman pelukis ini susah untuk diatur, apalagi disuruh melukis satu obyek. Tapi, anehnya kali ini justru mudah.

"Ketika saya hubungi untuk melukis Gus Dur untuk pameran, ternyata mudah. Mungkin ini barokahnya Gus Dur," kata pelukis Gresik disela acara seperti dilansir beritajatim.com.

Pameran dengan obyek satu tokoh adalah pertama diadakan di Indonesia dengan dikuti 52 pelukis dengan menghasilkan 77 karya lukisan. "Mudah-mudahan bermanfaat, sekaligus juga dalam rangka 40 harinya dan mengenang Gus Dur," ujarnya. (mad)
Senin 22 Februari 2010 18:8 WIB
JELANG MUKTAMAR
Lajnah Falakiyah PBNU Segera Luncurkan Mobil Observatorium Keliling
Lajnah Falakiyah PBNU Segera Luncurkan Mobil Observatorium Keliling
Jakarta, NU Online
Lajnah Falakiyah PBNU, perangkat organisasi di NU yang menangani bidang hisab dan rukyat, akan segera meluncurkan mobil observasi keliling yang diberi nama NUMO atau Nahdlatul Ulama Mobile Observatory atau Al-Marshodul Falaki Al-Jauli.

Mobil ini membawa seperangkat teleskop yang akan bergerak mengunjungi pesantren-pesantren. Kehadiran mobil ini diharapkan semakin memudahkan para santri mendapatkan pengetahuan mengenai astronomi.<>

Peluncuran akan diadakan di halaman kantor PBNU, Jalan Kramata Raya No 164, Jakarta Pusat pada 10 Maret 2010, pukul 19.00 WIB, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pramuktamar. Beberapa tamu dijadwalkan hadir antara lain menteri agama, menteri pendidikan dan menkominfo.

Pengenalan instrumen dilakukan langsung oleh Hendro Setyanto, Litbang Lajnah Falakiyah PBNU yang juga inisiator NUMO ini. Hendro, alumni astronomi ITB yang dulu nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang ini sebelumnya bekerja di Observatorium Bosscha, Lembang.

Menurut Hendro, ide membuat observatorium sudah muncul bertahun-tahun yang lalu. Setelah melalui proses yang panjang mulai dari mengumpulkan informasi mengenai observatorium berjalan dan mendesain perangkat yang sesuai di mobil.

Mobil yang sebelumnya ia desain bernama Indonesia Mobile Observatory (IMO) dan beroperasi sejak bulan Mei 2009. Mobil observatorium pertama ini sempat memperoleh penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Dengan NUMO, para santri tak harus berkunjung langsung ke Observatorium Bosscha atau Planetarium Jakarta. NUMO akan datang mengunjungi pesantren-pesantren. (nam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG