IMG-LOGO
Warta
MUKTAMAR KE-32

Said Aqil: Liberalisme Merusak Tradisi NU


Rabu 24 Maret 2010 19:32 WIB
Bagikan:
Said Aqil: Liberalisme Merusak Tradisi NU
Makassar, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menegaskan, liberalisme pemikiran Islam yang berkembang di Indonesia dapat merusak berbagai tradisi dan ubudiyah warga NU.

“Dalam sejahrahnya, liberalisme yang berkembang pesat di Eropa tidak pernah bersahabat dengan tradisi dan cenderung merusak tradisi itu sendiri,” kata Said Aqil di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Rabu (24/3) terkait munculnya kembali wacana liberalisme dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar. />
Menurut Said Aqil yang juga kandidat ketua umum PBNU, liberalisme yang membawa semboyan kebebasan berfikir ingin melepaskan diri dari tradisi yang berkembang dalam masyarakat setempat.

Karenannya dirinya memahami penolakan para peserta muktamar atau muktamirin terhadap calon ketua umum PBNU yang terlibat dalam gerakan-gerakan Islam liberal di Indonesia.

“Saya memahami penolakan muktamirin terhadap gerakan Islam liberal, dan kalau saya ditanya apakah saya juga menolak libealisme, ya saya sejak awal memang telah menyatakan menolak liberalisme, baik itu berkaitan dengan liberalisme agama maupun liberalisme ekonomi,” katanya.

Katib Am PBNU era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid itu juga mengingatkan, liberalisme cenderung menganggap sepele terhadap persoalan akidah atau keimanan. Dirinya sempat mengkritik keras kelompok yang membela Mushoddeq yang mengaku sebagai nabi.

“Saya heran kog ada mengatakan Mushoddeq yang mengaku nabi itu tidak masalah. Pada waktu saya itu saya tegas, dan bersama beberapa tokoh saya menemui Mushaddeq dan mengajak berdialoq. Akhirnya dia mau bertobat dan kembali kepada syariat,” katanya.

Said Aqil menambahkan, selain persoalan libealisme yang perlu diwaspadai adalah perkembangan faham Wahabi yang mulai gencar masuk ke kalangan NU melalui masjid-masjid, sekolah dan kampus. Ia mensinyalir faham Wahabi ini telah diikuti oleh anak-anak dari warga NU.

“Wahabi ini sama berbahayanya dengan liberalisme. NU ini didirikan salah satunya ya untuk menghalau faham Wahabi ini yang ingin memberangus tradisi salafus shalih, seperti ziarah kubur dan lain sebagainya yang diamalkan orang NU,” pungkasnya. (nam)
Bagikan:
IMG
IMG