IMG-LOGO
Warta

Revisi UU Zakat Diharapkan Bisa Integrasikan Pengelolaan

Kamis 25 Maret 2010 13:55 WIB
Bagikan:
Revisi UU Zakat Diharapkan Bisa Integrasikan Pengelolaan

Jakarta, NU Online
Kementerian Agama mengharapkan revisi UU No 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang diajukan oleh DPR lebih mengarah pada perbaikan kelembagaan zakat dan penataan yang terintegrasi di bawah koordinasi dan pengawasan pemerintah.

''Masih perlu disempurnakan masalah kelembagaan antara Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), Bazda (Badan Amil Zakat Daerah), unit-unit pengumpul zakat (UPZ) dan perlu ada kesatuan dengan pemerintah,'' kata Sekjen Kementerian Agama, Bahrul Hayat.

<>

Selama ini, lanjut Bahrul, hubungan antara berbagai kelembagaan zakat belum tertata, ada yang di bawah koordinasi Baznas, ada pula yang mandiri dalam mengumpulkan dan menyalurkan zakat.

''Banyak lembaga amil zakat yang bekerja sendiri-sendiri dan tersebar, sehingga potensi dan target zakat tidak terpetakan secara nasional, juga bisa terjadi tumpang-tindih atau ketidakmerataan penerima zakat,'' jelasnya.

Menurut dia, berbagai lembaga zakat tersebut seharusnya terintegrasi dan bersama dengan pemerintah mengelola zakat yang sejak awal memang bertujuan untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Di samping itu, lanjut dia, masih ada kemandekan kreativitas dan inovasi dalam pengelolaan zakat karena keterbatasan sumber daya manusia di berbagai lembaga amil zakat, dengan demikian diperlukan peningkatan profesionalisme. (ful)

Bagikan:
Kamis 25 Maret 2010 23:17 WIB
KOMISI ORGANISASI
Masa Jabatan Gagal Dibatasi, Hasyim Berpeluang Kembali di Tanfidziyah
Masa Jabatan Gagal Dibatasi, Hasyim Berpeluang Kembali di Tanfidziyah
Jakarta, NU Online
Upaya melakukan pembatasan masa jabatan maksimal 2 kali di lingkungan NU kembali terganjal sebagaimana muktamar NU di Donohudan Solo 2004 lalu. Sejumlah wilayah dan cabang menolak dilakukannya pembatasan ini mengingat kesulitan kader.

Pembatasan masa jabatan ini dilakukan dalam draft yang baru pasal 13 ayat 3 yang  dan ketua di tingkat kepengurusan wilayah dan cabang maksimal 2 (dua)  periode berturut-turut.r />
Terdapat perdebatan yang cukup alot terhadap pasal ini. PWNU Jawa Timur menginginkan adanya pembatasan untuk rais aam dan ketua tanfidziyah, tetapi ada yang menginginkan pembatasan cukup di lingkungan tanfidziyah sedangkan syuriyah tak perlu dibatasi. Wilayah yang setuju adanya pembatasan adalah PWNU Jawa Timur, Bantul dan Kudus sementara PWNU Papua, Banyuwangi, Lasem, Cilacap, dan Manado menolak.

Alasan utama diadakan pembatasan adalah keinginan untuk kaderisasi di lingkungan NU serta untuk menghilangkan kroniisme jika satu tokoh menjabat terlalu lama.  Hal ini memang tidak menjadi masalah di lingkungan NU Jawa Timur, tetapi menjadi masalah besar pada NU yang wilayah dan cabangnya kurang memiliki kader yang mumpuni.

NU di luar Jawa terutama keberatan adanya pembatasan ini mengingat sulitnya mencari kader yang mumpuni untuk menduduki menduduki posisi tersebut. Sebagian mengusulkan pembatasan masa jabatan diperluas sampai 3-4 kali jabatan berturut-turut, tetapi akhirnya disepakati ayat tersebut dihapus.

Bagi yang tidak setuju adanya pembatasan, mereka berpendapat, biarlah kader sendiri yang menentukan pembatasan itu.  Jika seorang calon memang memiliki kualitas yang layak, tentu ia akan terpilih selama beberapa kali sementara jika tidak mumpuni, akan dengan sendirinya tereliminasi.

Pada muktamar ke-31 di Solo, usulan ini pernah di munculkan tetapi gagal ditetapkan, salah satu alasannya adalah mengapa orang berbakti kepada organisasi harus dibatasi.

Dengan hilangnya pembatasan ini, KH Hasyim Muzadi yang sudah dua kali menjabat sebagai ketua umum tanfidziyah NU berpeluang untuk naik kembali untuk ketiga kalinya.

Saat dikonfirmasi, Hasyim menegaskan dirinya sudah merasa cukup menjadi  ketua umum tanfidziyah NU selama dua kali. “Biarkah orang lain saja yang menempati posisi itu, cukuplah bagi saya,” tandasnya.

Dalam berbagai pernyataan KH Hasyim Muzadi sudah menegaskan untuk tidak mencalonkan dirinya kembali untuk ketiga kalinya agar terjadi kaderisasi di lingkungan NU. “NU bukanlah kerajaan,” katanya suatu ketika. (mkf)
Kamis 25 Maret 2010 23:16 WIB
Tradisi Pemikiran NU Harus Terus Dikembangkan
Tradisi Pemikiran NU Harus Terus Dikembangkan

Makassar, NU Online
Tradisi pemikiran di kalangan anak-anak muda Nahdlatul Ulama perlu terus dipupuk dan dikembangkan untuk mempersiapkan ulama-ulama NU masa depan yang memiliki wawasan yang luas. Jika tradisi pemikiran dikalangan NU menurun, maka dikuatirkan nantinya susah mencari ulama yang menguasai ilmu kitab kuning sekaligus akrab dengan pemikiran-pemikiran Barat.

Karenanya, menghambat tradisi pemikiran intelektual di kalangan anak-anak adalah sebuah tindakan yang tidak bijak. Karena, dalam jangka panjang, tradisi ini akan melahirkan tokoh-tokoh seperti KH Sahal Mahfudh dan KH Maemun Zubair.

<>

Kalau pun ada diantara pemikirannya yang keliru,, tentu dapat diluruskan dengan berdialog di dalam tubuh NU sendiri. Akan menjadi lebih berbahaya jika para pemikir NU semakin berada di luar, karena tentu semakin sulit dikendalikan.

“Saya kuatir jika tetap membungkam tradisi pemikiran di kalangan anak muda NU, ke depan tidak lagi akan lahir tokoh NU yang memiliki kemampuan seperti KH Sahal Mahfudh dan KH Maemun Zubair, kata Ulil Abshar Abdallah d i Makassar, Kamis (25).

Pernyataan ini dilontarkan oleh Ulil dalam dialog di sela-sela Muktamar ke-32 NU di Asrama Haji Sudiang. Dialog ini diselenggarakan di salah satu ruangan komisi, pada saat jeda sidang komisi pada waktu istirahat siang.

"Kita sangat hormat dengan KH Sahal Mahfudh seorang ulama yang tidak saja memiliki tradisi pemikiran melalui kitab kuning, tapi juga mampu memiliki tradisi pemikiran kitab “putih”. Beliau saat ini merupakan tokoh ulama yang semua orang mengakuinya," tutur Ulil. (arm)

Kamis 25 Maret 2010 22:31 WIB
SERBA-SERBI MUKTAMAR
Dua Malam ‘Debu’ Hentak Muktamirin
Dua Malam ‘Debu’ Hentak Muktamirin

Makassar, NU Online

Jangan duduk berdirilah,
Hentakkanlah kaki,kawan,
Juga tangan bertepuklah,
Debu terbang jadi awan.

Hentakan kaki dari muda-mudi warga Makassar dan Muktamirin (Peserta Muktamar), mengikuti irama dari Grup Musik Internasional Debu. Pemandangan itu terlihat selama dua  malam diarena Gelar Seni Muktamar ke-32 NU Selasa dan Rabu (23-24/3).

<>

Sebelum memainkan music, Muhammad Saleem (vokalis) selalu bercerita tentang kandungan dari isi lagu yang dimaksud. Dia b ercerita : Ketika Laeli dan Majnun menjalin cita, laela mempermalukan Majnun dengan memecahkan piring dihadapan orang-orang terhormat. Tingkah Laela dilakukan agar Sang Ayah tahu kalau Laela benci Majnun. Tapi Majnun tetap tersenyum ketika dipermalukan. Bila cinta itu sudah didada, tentulah tiada kendala. “Begitupun ketika kita diterpa bencana, berarti Allah makin cinta pada kita. Ayo kita nyanyi Mabuk Cinta,” ajak  Saleem.

Musik yang dimainkan DEBU memang kaya nuansa, amat bervariasi dan tidak membosankan. Di dalamnya ada dentam rebana yang kuat, yang lembut, ada lengkingan seruling yang menggugah. Ada irama bernuansa padang pasir, country, bahkan jazz dan world music. “Musik DEBU ini universal. Mereka bisa diterima di kalangan mana pun, kapan pun, di mana pun di seluruh dunia,” komentar  Fikri Muktamirin dari Bandarlampung usai menyaksikan pagelaran DEBU.

Grup Musik ini berasal dari daerah New Mexico, sebuah propinsi yang terletak di antara Texas dan Arizona, Amerika Serikat. Di bawah bimbingan Syekh Fattaah, mereka  mempelajari tasawuf dan hidup sesuai ajarannya, yakni menjadi golongan sufi.

Dari pantauan NU Online, DEBU menggunakan beraneka alat musik dari belahan dunia yang berbeda. Seperti Santur dari Iran, harpa (Irlandia), yaili tambur (Turki) gendok-gendok (Sulawesi Selatan), biola, bass dan berbagai jenis perkusi. Semua jenis music itu dipadukan secara harmoni. “Ini wujud berkah dan rahmatullah...!,” ujar sang arranger Debu, Mustofa ibn Daud usai pertunjukan.

Lebih dari sepuluh lagu didendangkan pemusik universal religious ini. Antara lain melantunkan lagu Mabuk Cinta, Satu Labu Lagi, Ucapkanlah Bersama, Asyik Nama Allah, Dari Timur Terbit Cahaya, Hentakanlah Kaki, Toba Berkali-kali dan lain-lain.

Grup Musik yang digawangi oleh 6 pria dan 6 wanita ini, semalam hanya tampil para prianya saja. Dan seorang anak kecil (Ahmad) yang memainkan biola. Semalam tampil memeriahkan panggung hiburan adalah Daod Abdullah (drum), Dhimas Ramadhan (Gitar), Ali Mujahid Abdullah (Bass dan Backing vocal), Mustofa ibn Daud (lead vocal, out, violin, arranger) dan Muhammad Saleem (fluter, Fercusi dan Vokalis).
Pentas music yang dimulai pukul 20.00 hingga pukul 24.00 WITA itu, diakhiri dengan ajakan untuk mengucapkan La ilaha illallahu,

Wahai Muslim, Wahai Hindu,
Mari ucapkan bersama,
La ilaha illallahu,
Bersama, satu irama!
Pengikut Buda dan Yesu,
Mari kita mengucapkan,
La ilaha illallahu,
Mari masuk dalam taman. (Was)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG