IMG-LOGO
Warta
PEMIKIRAN DAN PERJUANGAN GUS DUR

Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi


Selasa 20 Juli 2010 14:31 WIB
Bagikan:
Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi
Jakarta, NU Online
Berbeda dengan para pemikir lain yang hanya berkutat pada level pengembangan wacana, Gus Dur mampu mengaplikasikannya pada dunia praksis. Pemikiran yang diyakini benar diejawantahkan dalam dunia aksi.

Pendapat ini dikemukakan oleh pengamat politik Kacung Marijan dalam diskusi buku pemikiran dan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur karya Muhamin Iskandar akhir pekan lalu.<>

“Gus Dur yakin demokrasi dan pluralisme sangat penting untuk Indonesia, karena itu Gus Dur melakukan aksi untuk mewujudkan itu, yang lainnya juga yakin, tetapi tidak melakukannya,” katanya.

Menurutnya, pemikiran Gus Dur yang sangat kuat adalah bagaimana membangun Indonesia yang demokratis, termasuk membangun relasi agama dan politik. Ia sangat meyakini Islam agama paripurna, tetapi memahami bahwa Islam harus kontekstual di Indonesia yang sangat plural.

Dijelaskannya oleh Ben Andersen, salah seorang intelektual Barat menyebut Indonesia yang sangat plural ini sebagai disebut imagined community, sebuah komunitas yang dicita-citakan, yang sampai sekarang belum tercapai betul. Didalamnya ada banyak kelompok kepentingan yang bersama-sama membangun. Orang tidak saling kenal, tetapi membayangkan adanya satu komunitas yang diakui bersama.

“Bayangan apa yang dikatakan Andersen tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Gus Dur, meskipun lahir dari pesantren, tapi meyakini Indonesia bukan hanya milik orang pesantren atau milik umat Islam, tetapi milik bersama. Ini yang hendak dicapai, dan Gus Dur berusaha mempertahankan itu melalui aksinya, salah satunya melalui pembentukan PKB,” paparnya.

Pendirian partai ini awalnya ada yang meminta, khususnya sejumlah kiai menginginkan PKB berasaskan ahlusunnah wal jamaah, tetapi Gus Dur secara terang-terangan menolak. PKB harus menjadi partai yang inklusif, kalau aswaja berarti menjadi partai eksklusif. Ini ditiru PKS, walaupun mendua, ingin punya kader, disisi lain punya anggota. Ada pembedaan, kader eksklusif, kader inklusif sehingga ngak nyambung.

“Bagi Gus Dur keduanya bukan hal yang berbeda, kader maupun anggota yang sama-sama inklusif, ini yang agak berbeda dengan pemikiran PKS. Ini sangat tepat untuk konteks Indonesia,” imbuhnya.

Meskipun secara intelektual tak jauh beda dengan yang lainnya, tetapi Gus Dur memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain sehingga pemikirannya bisa ditransformasikan pada level grassroot, yaitu kemampuannya melakukan silaturrahmi yang luar biasa. Ketika terdapat kontraversi dalam pemikirannya bisa cepat selesai karena melalui silaturrahmi ini, Gus Dur mampu menjelaskan substansi pemikiran yang dimilikinya. Ini tentu berbeda dengan para intelektual NU lain yang hanya hidup di awing-awang dan tak masuk ke level bawah sehingga pada akhirnya banyak ditentang oleh komunitas pesantren, meskipun sebenarnya tak jauh berbeda dengan Gus Dur.

Silaturrahmi Gus Dur bukan hanya kepada yang hidup, Gus Dur juga dikenal sangat rajin berziarah ke makan-makan para ulama. Tak heran, meskipun sudah meninggal, ia akhirnya mendapatkan ganjaran, warga NU tak henti-hentinya menziarahi makamnya.

Kelebihan lainnya adalah darah biru yang mengalir dalam dirinya memudahkan Gus Dur melakukan komunikasi baik dalam komunitas NU maupun di luar NU.

Sejumlah kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain tersebut hanya bisa diimbangi dengan melakukan kerja kolektif. PKB atau NU bisa melakukan komunikasi secara efektif dari pusat sampai grassroots sehingga seluruh potensi bisa tersentuh.

Kacung mengibaratkan Gus Dur seperti perusahaan multinasional yang memiliki cabang dimana-mana, yang tak mungkin bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan kecil. “Gus Dur harus dikeroyok untuk menandinginya. Kalau Gus Dur bisa sendiri, PKB dan NU harus melakukan aksi kolektif,” tandasnya.

Namun demikian, Kacung juga melihat Gus Dur bukan pribadi yang tanpa cela. Gus Dur gagal dalam mengaplikasikan sejumlah pemikiran dalam konteks praksis, salah satunya kegagalan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan melalui BPR Nusumma, termasuk pengembangan pabrik yang berorientasi agrobisnis.

“Kegagalan ini, satu dikarenakan Gus Dur lebih pada konteks pemikiran, agama dan politik, pemikiran ekonomi mungkin tidak ada leverage yang lebih bawah, ini yang menjadikannya gagal karena tidak semua bisa ditangani langsung Gus Dur,” terangnya. (mkf)
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG