IMG-LOGO
Warta

BPIH Dikuatkan dengan Perpres

Kamis 22 Juli 2010 13:40 WIB
Bagikan:
BPIH Dikuatkan dengan Perpres
Jakarta, NU Online
Setelah melewati pembahasan bersama DPR, pemerintah segera menuangkan besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres). Menteri Agama, Suryadharma Ali, melaporkan hasil pembahasan BPIH kepada Presiden di kantor Presiden, Jakarta, hari ini (Kamis,22/7).

"Berikutnya adalah terbitnya Perpres, hari ini akan kami ajukan," kata Menag. Menurutnya, DPR sudah menyetujui besaran BPIH sebesar 3.342 dolar AS minus Rp 100 ribu, sedangkan tahun sebelumnya 3.400-an dolar AS plus Rp 100 ribu. Angka Rp 100 ribu merupakan asuransi jiwa yang pada tahun ini tidak akan dibebankan pada jamaah.<>

"Itu asuransi jiwa, sekarang asuransi jiwa ditanggung biaya dari indirect cost," jelas Menag. Meski BPIH sudah ditetapkan, pemerintah belum menetapkan batas waktu pelunasan BPIH yang harus dilakukan jamaah. Hal itu karena pemerintah belum mengeluarkan Perpres. Selain itu, BPIH untuk haji khusus belum ditetapkan.

Dalam menetapkan BPIH haji khusus, pemerintah akan menetapkan besaran batas bawah dan batas atas saja, sedangkan mengenai biaya persisnya itu ditentukan oleh penyelenggaranya. "Haji khusus tergantung penyelenggara ibadah haji khusus, karena mereka masing-masing punya program, misalnya apakah bermalam di hotel bintang lima atau di hotel bintang tiga," katanya. (ful)
Bagikan:
Kamis 22 Juli 2010 21:19 WIB
Ribuan Umat Islam Antar Jenazah KH Ma'ruf Irsyad
Ribuan Umat Islam Antar Jenazah KH Ma'ruf Irsyad
Kudus, NU Online
Wafatnya Rois Syuriah PCNU Kudus KH Ma'ruf pada hari Kamis (22/7) mengundang duka yang mendalam bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya. Hal ini terlihat dari suasana pemakaman almarhum pengasuh Pondok pesantren Raudhatul Muta'allimin Kudus tampak histeris.

Ribuan ummat Islam dari berbagai daerah  turut mengantar jenazah almarhum KH Ma'ruf Irsyad  yang dimakamkan Kamis (22/7) sore di Makam Sedio Luhur Bakalan Krapyak Kudus. Pekikan takbir dan dzikir para pelayat mengiringi perjalanan jenazah mulai dari rumah duka di Komplek Pondok Pesantren Raudlotul Muta'allimin sampai tempat pema<>kaman.

Dalam upacara pemberangkatan jenazah Mudirul Aam Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus ini  dihantarkan  oleh Musytasyar PCNU Kudus KH Sya'roni Ahmadi mewakili keluarga. Selanjutnya jenazah dibawa ke Masjid Al-Aqsho Menara Kudus untuk disholati dengan imam KH Ulil Albab Arwani, sementara talqin dibacakan ulama sepuh KH. Abdul Basyir.

Selain ulama sepuh Kudus, jajaran pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kudus turut membaur dengan masyarakat yang memberi penghormatan terakhir kepada almarhum KH Ma'ruf Irsyad.

Dalam sambutannya, KH. Sya'roni Ahmadi mengatakan almarhum KH Ma'ruf Irsyad merupakan sosok alim yang andal. Almarhum memiliki jasa yang besar dalam  mengembangkan pendidikan dan Thoriqoh di Kudus.

"Oleh karena itu, semua santri, ustadz di Kudus maupun keluarga almarhum  harus meneruskan dan meneladani perjuangannya termasuk mengelola pondok pesantrennya," harap KH Sya'roni singkat.

Sebagaimana diberitakan KH.Ma'ruf Irsyad wafat akibat terserang penyakit gula. Salah seorang menantunya, KH Masfui menceritakan rabu pagi almarhum masih mengikuti acara khoul mertuanya KH Ma'ruf Asnawi.

"Namun, malam harinya almarhum masuk RSUD karena kondisi gula-nya naik.Dan, tanpa di duga pagi harinya abah menghembuskan nafas terakhir,"ceritanya pada NU Online.

KH Ma'ruf Irsyad wafat meninggal istri dan 6 anak beserta menantu dan cucunya. (adb)
Kamis 22 Juli 2010 20:22 WIB
Islam Indonesia jadi Jangkar Islam dunia
Islam Indonesia jadi Jangkar Islam dunia
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal ICIS  (International Conference of Islamic Scholar) KH Hasyim Muzadi, digelarnya halaqah perdamaian ini terkait dengan pengembangan gerakan ICIS dari konferensi menjadi studi.

ICIS tidak hanya menyelenggarakan konferensi tahunan, tetapi juga akan mengkaji persoalan konflik di negara-negara muslim. Perluasan program tersebut, sebagai salah satu hasil evaluasi terhadap peran dan kiprah ICIS selama ini.<>

Dalam usianya yang ke-6, gerakan ICIS harus lebih tertata dan terkonsep rapi. “Waktu didirikan enam tahun lalu belum tertata, kini harus lebih tertata. Tahap awal organisasi ini menyamakan pandangan diantara negaranegara yang berpenduduk muslim dengan mengkampanyekan Islam rahmatan lilalamin. ICIS akan melakukan kajian soal akar konflik di internal muslim dan solusinya,” kata mantan Ketua Umum PBNU itu pada wartawan di Jakarta, Kamis (22/7/2010).

Selain itu, tambah Hasyim, ICIS juga akan tetap konsisten mempromosikan Islam moderat yang tidak pro ektrimisme dan juga tidak pro liberalisme. Karena itu, organisasi ini akan menyosialisasikan nilai-nilai Islam yang mengedepankan asas keseimbangan (tawazun) dan komodernan (tawasuth). Dengan demikian,  ICIS yang lahir dari Indonesia akan tetap memegang visi kebangsaan dan Islam rahmatan lil alamin. ICIS dari NU untuk bangsa dan dunia. Sehngga jaringan ICIS ini ulama-ulama di dunia.

“Jadi Indonesia akan menjadi jangkar Islam yang moderat, tidak ekstrim kanan maupun kiri,” katanya lagi.

Karena itu untuk memperkuat struktur organisasi ICIS, Hasyim mendapat dukungan dari sejumlah tokoh penting di negeri ini, salah satunya mantan Presiden RI Jusuf Kalla (JK).  Dalam struktur baru ICIS, JK membidani kajian dan implementasi ekonomi keumatan. 

"Pak Jusuf Kalla untuk mendorong implementasi dari konsep yang sudah sering dibicarakan selama ini," tuturnya. Selain itu mantan Menlu Hassan Wirajuda sebagai dewan ahli bidang hubungan internasional, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dalam bidang hukum dan ketatanegaraan, mantan Kepala BIN Hendropriyono dalam bidang politik global. Sedangkan tokoh ESQ, Ari Ginanjar menduduki jabatan bidang dakwah internasional.

Hasyim menegaskan, penguatan struktur ICIS tersebut merupakan respon terhadap dorongan agar ICIS menjadi lembaga diplomasi Islam untuk melakukan studi dan penelitian terhadap isu-isu pencegahan konflik, penyelesaian konflik dan perdamaian pascakonflik di dunia.

"Kita akan membentuk ulama dan generasi muda yang punya kontribusi bagi bangsa. Jangan orang Indonesia pergi ke Amerika, jadi lebih Amerika daripada orang Amerika sendiri," ungkapnya.

Mantan Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Badawi juga hadir dalam Halaqah Perdamaian dan Ulang Tahun International Conference of Islamic Scholar (ICIS) ke-6 ini. Hasyim menilai Badawi sangat layak menjadi Keynote Speech pada halaqah perdamaian tersebut, melihat latar belakangnya yang pernah menjabat Presiden Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan perdana menteri Malaysia.

“Saya kira beliau sangat layak. Karena itu, saya mengundang beliau waktu ketemu di Malaysia beberapa waktu lalu,” kata Hasyim.

Menurut Hasyim, selain menghadiri halaqah ICIS, Badawi juga akan menghadiri kegiatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) di Jakarta. Selain Badawi, ulama dunia tokoh dunia lain yang dijadwalkan hadir menjadi pembicara, yaitu Dr Syeikh Hussam Qaraqira (Presiden Global University Lebanon). 

Selain itu, hadir pula ulama dari Australia.Sedangkan dari dalam negeri, akan hadir sebagai   pembicara Ketua MK Mahfudz MD, Mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Menlu Hasan Wirajuda, dan KH Tholhah Hasan.

Hasyim mengatakan, Syeikh Hussam Qaraqira akan menyampaikan materi  “Membangun Tatanan Lintas Ideologi dan Pemikiran Menuju Perdamaian Dunia”. Sedangkan Mahfudz MD akan menyampaikan meteri “Membangun Sinergitas Hukum Islam Dalam Menghadapi Tantangan Global”.

Sementara itu, Megawati akan menyampaikan materi dengan tema “Nasionalisme Relegius dalam perspektif pemikiran Bung Karno”. Sedangkan Jusuf Kalla akan menyampaikan materi dengan tema “Memberdayakan Potensi Ekonomi Keumatan:  Tantangan dan Solusi”.

Hasan Wirajuda yang punya segudang pengalaman diplomasi internasional akan membawakan meteri dengan tema “Peran Diplomasi Indonesia dalam membangun keseimbangan Dunia Islam dan Barat. Sedangkan KH Tholhah Hasan akan menyampaikan materi dengan tema “Transformasi Pemikiran Global dalam Pendidikan Islam.

“Semua pembicara sudah menyatakan kesiapannya untuk hadir,”tutur Hasyim lagi optimis. (mnf)
Kamis 22 Juli 2010 19:26 WIB
NU dan Sejumlah Ormas Islam Akan Keluarkan Pernyataan Bersama Tangkal Radikalisasi
NU dan Sejumlah Ormas Islam Akan Keluarkan Pernyataan Bersama Tangkal Radikalisasi
Jakarta, NU Online
Sejumlah perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia bersilaturrahim ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta, Kamis (22/7). NU bersama sejumlah ormas mengagendakan akan mengeluarkan pernyataan bersama untuk menangkal gerakan radikalisasi di Indonesia yang mengatasnamakan Islam.
   
Perwakilan ormas Islam yang hadir antara lain dari Persis, Al-Irsyad, Al-Ittihad, PITI (Tioghoa), Matla’ul Anwar dan Syarikat Islam. Bersama ormas lainnya seperti Muhammadiyah, Al-Wasliyah, Perti, Rabitah Alawiyah, dan DDII ormas-ormas ini akan mengeluarkan pernyataan bersama pada 5 Agustus mendatang di kantor PBNU.<>

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan, gerakan-gerakan radikal yang akhir-akhir ini muncul kembali bukan betul-betul lahir dari aspirasi umat Islam sendiri. Gerakan-gerakan itu ditengarai mempunyai jaringan yang cukup kuat dengan dunia internasional.

“Beberapa orang yang tertangkap ternyata tidak sendirian tapi terorganisir secara rapi dan pasti ada line up-nya ke dunia internasional,” katanya.

Sementara itu, sambung Kiai Said, setelah dicabutya Undang Undang Subversi, beberapa aktivitas yang memicu terjadinya radikalisasi tidak bisa ditindak karena tiadanya tindakan yang bisa dikenakan sanksi.

“Orang yang berpidato keras sekarang tidak bisa ditangkap sebelum ada bukti perbuatan. Padahal tindakan keras itu bisa dipicu oleh perkataan yang keras, dan perkataan yang keras bersumber dari orientasi berfikir yang keras,” katanya.

Ditambahkan, gerakan-gerakan radikal dan sering berujung pada terorisme itu telah merugikan umat Islam secara keseluruhan, tidak terkecuali ormas Islam. “Kita sudah bersepakat bahwa kita bersama-sama akan menolak radikalisasi itu,”katanya.

Selain Ketua Umum rombongan ormas Islam itu juga diterima oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali, Sekjen PBNU H Iqbal Sullam dan Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mu’im DZ. (nam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG