IMG-LOGO
Pustaka

Buah Hatimu, ”Mutiara” Masa Depan

Senin 11 Oktober 2010 10:38 WIB
Bagikan:
Buah Hatimu, ”Mutiara” Masa Depan
Judul Buku : Parenting With Love, Panduan Islami Mendidik Anak Penuh Cinta dan Kasih Sayang

Penulis: Maria Ulfah Anshor dan Abdullah Ghalib
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: Pertama, Mei 2010
Tebal:  268 Halaman
Peresensi: Ubaidillah Sadewa

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS Al-Kahfi [18]:46)

Anak adalah merupakan bagian terpenting dari seluruh proses pertumbuhan manusia, karena pada masa anak-anaklah sesungguhnya karakter dasar seseorang dibentuk baik yang bersumber dari fungsi otak maupun emosionalnya. Berkualitas atau tidaknya seseorang di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh proses pengasuhan dan pendidikan yang diterima di masa kanak-kanaknya. Dengan kata lain, kondisi seseorang di masa dewasa adalah merupakan hasil dari proses pertumbuhan yang diterima di masa anak-anak. Adapun faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan anak adalah orang tua, sekolah dan lingkungan. Ketiga faktor tersebut merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.<>

Dalam konteks pengasuhan dan perlindungan anak, orang tua dan keluarga mempunyai peran sentral, karena anak sangat tergantung pada orang dewasa. Bagi anak yang memiliki orang tua, pengasuhan anak menjadi tanggung jawab orang tuanya, tetapi bagi anak yang dalam kondisi tertentu tidak memiliki orang tua, maka negara berkewajiban mencarikan keluarga alternatif melalui hukum adopsi atau lembaga asuh pengganti keluarga agar mereka dapat berkembang sebagaimana layaknya anak-anak yang hidup dalam keluarganya yang asli.

Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: a) diskriminasi; b) eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; c) penelantaran; d) kekejaman, kekerasan dan penganiayaan; e) ketidakadilan;  dan f) perlakuan salah lainnya.

Pasal-pasal yang berkaitan dengan lingkungan keluarga dan pengasuhan anak dalam Konvensi Hak Anak adalah pasal 5, 18 (ayat 1-2), pasal 9-11, pasal 19-21, pasal 25, pasal 27 ayat 4 dan pasal 39. Isi dari pasal-pasal tersebut berkaitan dengan tanggung jawab orang tua, bimbingan orang tua, hak anak yang terpisah dari orang tuanya, hak anak untuk berkumpul dengan keluarganya, perlindungan terhadap pengambil alihan anak secara ilegal, pemulihan pemeliharaan anak, adopsi, dan perlindungan dari kekerasan dan penelantaran anak dalam keluarga.

Anak-anak supaya dapat berkembang secara baik membutuhkan pendidikan, pelatihan maupun pendidikan ketrampilan, serta rekreasi dan kegiatan seni-budaya. Adapun pasal-pasal yang berkaitan dengan kebutuhan pendidikan anak adalah Pasal 28, 29 dan 31. Pasal 28 menyatakan bahwa negara akan menyediakan pendidikan dasar wajib bagi semua anak secara cuma-cuma, termasuk berbagai fasilitas pendidikan. Pasal 29 berisi arah pendidikan bahwa pendidikan diarahkan pada pengembangan kepribadian anak, bakat dan kemampuan mental dan fisik, hingga mencapai potensi yang optimal. Pasal 31 ayat 1, Negara-negara peserta sepakat mengakui hak anak untuk beristirahat dan bersantai, bermain dan turut serta dalam kegiatan-kegiatan rekreasi sesuai dengan usianya. Ayat 2, negara-negara peserta sepakat untuk menghormati dan meningkatkan hak anak untuk turut serta sepenuhnya dalam kehidupan budaya dan seni dan akan mendorong pengadaan peluang yang layak dan sama untuk kegiatan seni, budaya, santai dan rekreasi.

Di dalam tradisi masyarakat maupun secara normatif orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik dan mengasuh anak-anaknya seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Perintah tersebut sangat beralasan karena kualitas sumberdaya manusia di muka bumi ini sangat ditentukan oleh faktor pendidikan dasar yang diberikan oleh orang tuanya. Anak-anak yang diasuh secara baik dan dibekali dengan pendidikan yang memadai diharapkan akan menjadi anak yang baik (shalih/shalihah), dan setelah dewasa menjadi orang-orang yang beruntung, berguna bagi bangsa dan agamanya. Karena dengan bekal ilmu yang bermanfaat yang dimilikinya, seseorang dapat melakukan banyak hal yang jauh lebih baik dan bermartabat dibanding dengan orang yang tidak memiliki ilmu. Begitu juga dalam pandangan agama (Islam), peran orang tua sangat penting dalam menentukan masa depan anaknya. Pernyataan Nabi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menganalogkan peran orang tua terhadap agama yang dianut anaknya sebagai berikut : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanyalah yang membuat Yahudi, Nasrani, atau Majusi” 

Untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas, orangtua dalam menyambut kelahiran bayi selain mengazankan dan mengiqamahkan, selamatan atau aqiqah, memberi nama yang baik, yang terpenting adalah membuatkan akte kelahiran bagi sang anak. Akte kelahiran berfungsi untuk memperjelas kedudukan anak dalam keluarga, sebab di dalamnya tercantum nama ayah dan ibunya. Dengan adanya kejelasan status anak tersebut, dia memiliki hak untuk memperoleh harta waris yang ditinggalkan oleh orangtuanya. Bagi anak yang tidak memiliki akte kelahiran akan mengalami kesulitan untuk memperoleh pengakuan sebagai ahli waris ketika orangtuanya meninggal dunia saat ia belum dewasa.(hlm.137-138)

Selain itu, pendidikan kesehatan reproduksi sedini mungkin sudah diberikan kepada anak dengan memberikan pemahaman terhadap apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari berkaitan organ dan fungsi reproduksinya. Beberapa hal yang bisa disampaikan kepada anak terkait dengan kesehatan reproduksi, antara lain: a) membiasakan membersihkan alat kelamin; b) mengenalkan organ-organ reproduksi dan fungsinya; dan c) memisahkan tidur anak antara laki-laki dan perempuan. Memberikan pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini dengan bahasa yang mudah dimengerti akan menghindarkan perilaku menyimpang terhadap organ reproduksinya di saat dewasa. (hlm. 170-176)  

Keteladanan orangtua dapat memberikan kesan positif yang sangat mendalam pada jiwa dan kepribadian anak. Mereka memiliki pengaruh langsung yang kuat untuk diikuti oleh anak-anaknya, apalagi jika komunikasi di anatar mereka terbuka, sehingga dapat langsung memberikan penjelasan dengan bahasa yang dimengerti oleh anak.

Penulis merupakan pakar soal kesetaraan gender. Pola pendidikan yang berperspektif jender adalah suatu model pendidikan non seksis yang mewarnai semua proses pendidikan dengan menanamkan pemahaman bahwa jender feminin dan jender maskulin memiliki nilai yang sama dan sama pentingnya dalam kehidupan sosial. Pendidikan non seksis ini harus dimulai sejak anak-anak masih kecil bahkan sejak bayi. Ada beberapa persyaratan yang harus dilakukan dalam menerapkan pola pendidikan yang adil jender, antara lain : tidak membedakan jenis kelamin, menumbuhkan sikap kritis terhadap anak, tidak diskriminatif dan menghargai perbedaan, serta demokrastis.(67-71)

Buku ini mengupas tuntas persoalan pendidikan dan pengasuhan anak dimulai sejak kedua orangtuanya akan menyatukan ikatan suci mereka dalam tali perkawinan hingga dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran dan teladan kehidupan keluarga Rasulullah juga bisa diambil di sini. Pada bab terakhir buku ini, diuraikan juga  persoalan anak dan kerentanan sosial. Banyaknya persoalan anak yang muncul ke permukaan dewasa ini dipotret secara lengkap oleh penulis.

Membaca buku ini, selain mendapatkan wawasan lengkap seputar pendidikan anak dan cita-cita membangun keluarga sakinah, anda juga diajak untuk menjadi Ibu-Ayah yang baik bagi anak-anak: memberi dan bukan menuntut, mengasihi dan bukan menyakiti. Selamat membaca!

*Direktur Student Crisis Centre (SCC) PP IPNU
 
Bagikan:
Senin 4 Oktober 2010 17:27 WIB
Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan
Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan
Judul: Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur
Penulis: Abdurrahman Wahid
Penerbit: LKiS, Yogyakarta.
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: xx + 134 halaman
Peresensi: Akhmad Kusairi

Sebagai seorang anak bangsa, sosok Abdurrahman Wahid atau biasa dikenal dengan Gus Dur dalam perjalanan hidupnya telah banyak menyumbangkan tenaga maupun pikiran bagi berlangsungnya Indonesia sebagai sebuah bangsa. Sebagian orang sudah tidak asing lagi dengan pemikiran-pemikirannya tentang agama, politik dan sosial kemasyarakatan. Namun tahukah orang bahwa Gus Dur juga bisa menjadi sejarawan yang menguasai berbagai literatur tentang sejarah.<>

Hal ini lah yang membuat menarik hadirnya buku *Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur * ini. Dengan analisisnya yang jeli, kritis, unik, dan terbilang nakal, Gus Dur membuat dugaan-dugaan terhadap fakta-fakta sejarah masa lalu yang terjadi di Indonesia (baca: Nusantara). Orang mungkin akan terkaget atau setidaknya tergelitik membaca tafsir dan spekulasinya terhadap suatu peristiwa sejarah yang selama ini mungkin sudah umum dipercayai sebagai 'kebenaran sejarah', tiba-tiba digoyangnya sedemikian rupa sehingga mau tidak mau orang pun akan melakukan peninjauan ulang.

Penguasaan Gus Dur atas bentangan sejarah nusantara dibuktikan dengan perhatian atas berbagai lakon sejarah, dari Sriwijaya, hingga ke masyarakat Tapanuli Selatan di Medan. Tema-tema pilihan Gus Dur juga beragam dari kekuasaan, toleransi agama, etnisitas, demokrasi, bahasa, gerakan politik, gerakan agama, pertanian, LSM, gender, maritim, dan moralitas.

Penguasaan materi ini tentu dimiliki Gus Dur dengan pembelajaran intensif melalui pembacaan buku, diskusi, atau kunjungan ke pelbagai situs sejarah. Gus Dur dalam sisi ini tampil sebagai intelektual yang peka terhadap sejarah. Modal ini memberikan kontribusi untuk proyek penulisan sejarah nusantara secara komprehensif.

Kejelian dan keberanian Gus Dur dalam menganalisis terlihat misalnya dalam Cerita mengenai pasukan China yang bersama-sama Raden Wijaya mengalahkan pamannya Jayakatwang. Dalaam buku ini Gus Dur menulis bahwa Bukan Kubilai Khan dan pasukannya yang menyerang Jayakatwang yang dibantu Raden Wijaya, melainkan Raden Wijayalah yang dibantu pasukan China di bawah perwira-perwira angkatan laut yang beragama Islam (sebagai-mana Laksamana Ma Chengho/Ma Zenghe, pendiri Singapura). Pendirian ini pun masih harus ditambah dengan perbedaan yang lain, yaitu tentang motivasi penyerangan: balas dendam, perluasan kekuasaan, soal agama, atau yang lain. Dalam kasus ini Gus Dur mengingatkan betapa pentingnya membaca sejarah lama kita dengan berbagai macam-macam versi, versi agamakah atau versi pertentangan akibat ambisi pribadi? (hal 21)

Dalam soal kaum modernis yang cenderung memaksakan perubahan Gus Dur mencontohkan betapa di tanah Batak bagaimana gereja Kristen Protestan di tanah Batak yang mengusulkan agar seorang pemimpin adat, yaitu Sisingamangaraja XII agar diangkat sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah. Di sini tampak penghargaan dari sebuah gerakan agama, Gereja untuk menghargai seorang Raja adat. Menurut Gus Dur, dalam kasus di atas terlihat jelas hubungan simbiotik antara Raja Adat dan gerakan keagamaan, karena keduanya adalah institusi yang berakar menjadi tradisi yang kemudian menjadi satu kesatuan dalam hubungan saling mendukung dan memberikan legitimasi. (hal 118)

Melihat analisinya yang cerdas sepertinya Gusdur sudah sangat familiar dengan sumber-sumber bacaan semacam, *Nagara Kertagama*-nya Prapanca*, Serat Centhini, Serat Cebolek, Babad Tanah ]awi, Babad Diponegoro, Kidung Kebo, Pakem Kajen. *Di samping itu pendapat ahli-ahli sejarah semacam Dr Taufik Abdullah, Yan Romien (Belanda), Charles Issawi (Libanon), Mohamad Yamin, Kuntowijoyo, hingga ahli purbakala, R. Boechori. Tentunya di sini ditambah dengan hasil olah pikirannya sendiri.

Ada cerita tentang asal usul kedatangan orang Arab dan China ke Indonesia; tentang Pangeran Diponegoro; tentang Kerajaan Banten; tentang penyerangan Sultan Agung ke Batavia, dan masih banyak lagi. Tapi yang lebih menarik, di samping melakukan penafsiran-penafsiran, Gus Dur hampir selalu bisa mengaitkan cerita-cerita sejarah lama itu dengan kehidupan masa kini; seperti mengaitkan kisah Perang Bubat di zaman Hayam Wuruk dengan per-kembangan PKB (yang dipimpinnya), mengaitkan pemerintahan Mesir Kuno zaman Pharao/ Fir'aun dengan kejadian di pemerintahan Jepang di bawah PM Kaizumi dan soal otonomi daerah; mengaitkan kisah Jaka Tingkir dengan Lembaga Swadaya Masyarakat.Cerita-cerita sejarah masa lalu semacam itu masih banyak lagi dilihat dan diceritakan Gus Dur.

Dan Gus Dur bukanlah Gus Dur bila dalam ber-bicara tidak menyelipkan kritik. Maka kita tak heran bila di sana-sini, dalam tulisan-tulisannya, kita temu-kan saja kritik-kritiknya yang tajam yang umumnya juga tidak melenceng dari prinsip-prinsip dasar yang diyakininya. Misalnya, dia dengan tajam terus meng-kritik pemerintah: mengkritik politisi yang hipokrit dan mementingkan kepentingan sendiri atau kelompok-nya, mengkritik pejabat-pejabat korup, mengkritik sikap keberagamaan yang terlalu formalitas, dan sudah barang pasti mengkritik MPR/DPR yang dianggapnya melanggar UUD 1945 dengan menyelenggarakan SI untuk melengserkannya kemarin.

Gus Dur dalam kapasitast sebagai seorang ilmuan yang *melek* sejarah merasa ada keganjilan ketika harus mengisahkan sejarah tanpa jejak literatur. Keterbatasan ini mungkin diakibatkan oleh ketidaksadaran penulisan sejarah pada masa lalu. Konsekuensi dari kealpaan ini adalah pelacakan dan penyingkapan sejarah melalui sumber-sumber lisan.

Memang secara ilmiah kesahihan sumber lisan ini bisa diragukan, tapi juga membuka kemungkinan untuk memunculkan perbandingan kritis dengan sumber tertulis walaupun sedikit. Usulan ini diajukan karena Gus Dur sadar ada kemiskinan sumber sejarah untuk lebih mengetahui kebenaran yang sudah terlepas dari bau dongeng atas sebuah pristiwa sejarah.

Terlepas dari semua kekurangannya, buku ini tetep merupakan sumbangan terpenting Gus Dur untuk bangsa Indonesia untuk lebih mengenal lagi kisah masa lalu. Publik harus mengapresiasi warisan esai ini secara konstruktif dan kritis. wacana sejarah Gus Dur sangat gamblang dan memukau, tapi ada esai-esai tertentu mengesankan keterbatasan Gus Dur dalam mengolah sumber informasi dan tidak lihai dalam analisis.

Akhirnya Buku ini harus dibaca sebagai refleksi kritis terhadap sejarah kita. Usaha Gus Dur dalam menulis kumpulan esai ini menjadi bukti keunggulan Gus Dur dalam membongkar wacana-wacana yang sudah telanjur menjadi dongeng.

*Akhmad Kusairi adalah peneliti pada The Al-Falah Institute Yogyakarta
Senin 20 September 2010 14:36 WIB
Kiai Bergelar Pahlawan Nasional
Kiai Bergelar Pahlawan Nasional
Judul: Wahid Hasyim Biografi Singkat 1914-1953
Penulis: Muhammad Rifa’i
Editor: Meita Sandra
Penerbit: Garasi Yogyakarta
Cetakan: 2010
Tebal: 169 hlm.
Peresensi: Moh. Ridwan Rifa’i

Kiai Wahid Hasyim adalah putra dari Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, salah satu pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) dan ayah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH Hasyim Asy’ari. Silsilahnya dari jalur ayah bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Islam Demak. Sedangkan dari jalur ibunya, bersambung hingga Ki Ageng Tarub. Dan bila dirunut lebih jauh, kedua silsilah itu bertemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja kerajaan Mataram. Maka tidak heran jika pada akhirnya Wahid Hasyim menjadi seorang figur, panutan masyarakat, bahkan gelar pahlawan nasionalpun ia raih. Karena Wahid Hasyim dikenal sebagai sosok yang mempunyai banyak sumbangsih terhadap negara Indonesia, khususnya dalam memperjuangkan kemerdekaan.<>

Selain dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, Wahid Hasyim aktif dibeberapa organisasi kemasyarakatan seperti MIAI, Masyumi, Liga Muslimin Indonesia, hingga di organisasi terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU). Di beberapa organisasi tersebut ia selalu dipercaya untuk menjadi Rais Akbarnya. Namun yang paling banyak memberikan sumbangsih dan mengabdi terhadap organisasi yaitu di jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi yang didirikan oleh ayahnya, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Karirnya di NU dimulai dari pengurus ranting NU Cukir Jombang, ketua NU Cabang Jombang, hingga kemudian pada tahun 1940 dipilih menjadi anggota PBNU bagian Ma’arif (pendidikan). Dari sinilah, perjuangan di NU mulai banyak peningkatan sampai akhirnya pada tahun 1946 Wahid Hasyim diberikan amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU menggantikan Kiai Ahmad Shiddiq.

Pada masa kepemimpinannya di NU, Wahid Hasyim tidak hanya berkiprah memajukan serta meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan. Beliau juga mampu berkiprah dalam perjuangan politik. Namun perjuangan politiknya bukan perjuangan politik pragmatis untuk memperoleh sebuah kekuasan dan kepentingan pribadi, melainkan ia mampu berkiprah memperjuangkan politik kebangsaan dan kerakyatan. Kiprah Wahid Hasyim di NU benar-benar mengabdi untuk NU, sehingga pada tahun 1939 atas nama wakil NU, ia mampu membawa NU masuk bergabung dalam MIAI sebuah perkumpulan dari berbagai organisasi Islam dalam satu wadah. Jadi, pada usia 25-26 tahun Wahid Hasyim sudah menjadi ketua pergerakan dengan skala nasional dalam dua organisasi.

Selain itu, Wahid Hasyim pernah mendirikan organisasi kepemudaan Islam. Dengan mengajak M Natsir dan Anwar Cokrominoto, mereka menggerakkan pemuda Islam yang militan, berani berjihad untuk agama, bangsa, dan tanah airnya. Gerakan ini ini diberi nama GPPI (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), yang lahir  pada tanggal 2 Oktober 1945. GPPP ini lahir, sebagai organisasi gerakan kepemudaan Islam yang bergerak dalam lapangan politik dan memiliki kecenderungan radikal (hal. 37).

Sejak itulah, kita mengetahuai bahwasanya Wahid Hasyim adalah tokoh pergerakan yang mampu membangkitkan NU di pentas nasional. Ia juga mampu meningkatkan bidang pendidikan dan sosial-politik NU. Dengan semua ini, Wahid Hasyim bisa menunjukkan bahwa NU mempunyai kualitas dan bisa berkiprah walaupun warganya mayoritas berlatar belakang kalangan tradisionalis (pesantren).

Meskipun berlatar belakang dari kalangan tradisionalis, ia tetap konsisten, ikhlas, dan sabar dalam mengabdi pada NU. Dengan kekonsistenan, keikhlasan, dan kesabaran dalam mengabdi di NU, akhirnya NU memberikan sebuah “barokah” (nilai tambah), pada tahun 1949-1952 Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama. Dengan bermodal perjuangan dan mengabdi pada bangsa Indonesia khususnya NU, akhirnya Wahid Hasyim mampu menjadi seorang yang sukses, diterima oleh banyak kalangan, memimpin organisasi terbesar di Indonesia seperti, jam’iyah Nadlatul Ulama (NU) dan organisasi terbesar lainnya yang berskala nasional hingga dipercaya menjadi Menteri Agama.

Buku “Biografi Singkat Kiai Wahid Hasyim” ini, menceritakan sejak ia lahir, pendidikan, kaya-karyanya, perjuangannya di Pesantren Tebuireng Jombang hingga pada saat aktif diberbagai organisasi keagamaan kemasyarakatan yang berskala nasional khususnya di jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Juga beberapa pemikirannya tercantum dalam buku ini, mulai tentang agama dan negara, politik, pergerakan, perjuangan umat Islam, pendidikan dan pengajaran, hingga tentang pemikiran Kementerian Agama.

Salah satu pemikiran Wahid Hasyim yang menarik dalam buku ini, adalah tentang pemikiran politiknya. Pemikiran dan gerakan politik Wahid Hasyim adalah kebangsaan, kerakyatan, membela negara mengayomi masyarakat. Politik bagi Wahid Hasyim bukanlah sebagai kendaraan untuk meraih sebuah kekuasaan dan jabatan, melainkan ia untuk mengabdi untuk negara, mengayomi masyarakat dari semua golongan. Namun kenyataannya sampai sekarang justru politik dianggap sebagai kendaraan untuk meraih kekuasaan, jabatan, demi kepentingannya sendiri.

Dari buku ini, setidaknya dapat menjadi langkah awal sejauh mana kita mengenal sosok dan latar belakang Wahid Hasyim. Agar supaya muncul penulis dan peneliti yang mampu menulis biografi para tokoh, Kiai, yang mempunyai banyak sejarah dan sumbangsih terhadap negara. Dengan harapan bisa diteladani oleh masyarakat khususnya para santri pondok pesantren. Semoga pejuangan yang dilakukan oleh Wahid Hasyim untuk Negara, masyarakat, khususnya warga nahdliyin bermamfaat dan barokah. Amin

Peresensi adalah, Mahasiswa semester akhir STITA Sumenep, saat ini aktif sebagai staf TU Madrasah Ibtidaiyah Nasy-atul Muta’allimin Candi Dungkek Sumenep Madura.
Senin 23 Agustus 2010 20:18 WIB
Sehat dan Segar dengan Puasa
Sehat dan Segar dengan Puasa
Judul : Puasa sebagai Terapi; Agar Puasa Tidak Sekedar Lapar dan Dahaga
Penulis : Djayadi, M.T.
Penerbit : Mizania, Bandung
Cetakan : I, September 2007
Tebal : 326 Halaman
Peresensi : Ach Syaiful A’la*


Dalam diri manusia, secara umum, setidaknya terdapat tiga potensi. Ketiga potensi tersebut, mempunyai kecendrungan yang berbeda-beda dan berusaha saling mempengaruhi jiwa manusia.<>

Pertama, potensi amarah (qawwat al-ghadhabiyah). Potensi ini cenderung untuk mengikuti sifat-sifat amarah dan emosional yang berlebihan. Jika potensi ini yang mengendalikan diri manusia, bisa dipastikan seseorang akan menjadi labil, pemarah, dan tidak bisa berkompromi.

Kedua, potensi kekuatan syahwat (quwwat as-syahwaniyah). Kekuatan ini cendrung memperturutkan hawa nafsu yang mengarah ke pemenuhan kebutuhan biologis secara berlebih-lebihan. Jika potensi yang dominan dan berkauasa, manusia akan terjerumus dalam kenikmatan (duniawi) sesaat.

Ketiga, potensi berpikir (quwwat an-natiqah). Jika potensi yang mengendalikan manusia, sebenarnya positif saja selama ini tidak berlebih-lebihan dalam mengembangkan potensi tersebut, baik dalam rangka memahami doktrin agama, maupun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Substansi ibadah puasa dalam konteks ini adalah mengembalikan ketiga potensi tersebut agar bisa terarah dengan benar. Jadi, dalam hal ini, tuntunan puasa adalah membina, membimbing serta mengarahkan ketiga potensi agar bisa tersalurkan dengan baik dan benar.

Puasa yang dilaksanakan umat muslim di seluruh penjuru dunua di bulan Ramadhan atau puasa sunnah lainnya, seperti puasa Senin-Kamis, puasa daud, puasa kelahiran dan lain-lain, akan mempunyai kelebihan dan bisa mengarahkan ketiga potensi diatas. Di samping fungsi puasa juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Bermanfaat bagi kesehatan. Dengan berpuasa, maka akan mengurangi produksi senyawa oksigen yang bersifat racun yang sedang bersarang dalam tubuh manusia. Misalnya anion superoksida dan hydrogen peroksida.

Perintah puasa wajib yang diperintahkan oleh Allah SWT pada bulan Ramadhan dan perintah puasa sunnah sebagaimana anjuran Nabi kepada umatnya banyak memberikan manfaat bagi manusia baik secara kesehatan jasmani (fisik) maupun kesehatan ruhani.

Buku Puasa sebagai Terapi; Agar Puasa Tidak Sekedar Lapar dan Dahaga, setebal 326 halaman ini menjawab, memberikan pencerahan, argumentasi serta pengalaman kepada pembaca, bahwa “puasa” yang dilaksanakan umat Islam adalah bisa menjadi obat. Tidak hanya sebuah aktivitas (ritual) yang bersifat transendental. Penghambaan diri kepada Allah SWT, Tapi, juga memberikan manfaat terhadap manusia, terasa di dunia. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, “Berpuasalah kamu sekalian, maka kalian akan sehat!”.

Terkadang puasa kalau dihubungkan dengan masalah kesehatan menurut anggapan banyak orang terkadang akan menurunkan gairah aktivitas kerja. Padahal puasa secara pisiologis tidak mengganggu kesehatan. Sedangkan mengenai masalah lapar dan haus, itu lebih merupakan conditioned reflex yang bisa diatur dengan buka dan sahur.

Kebutuhan energi, untuk bekerja misalnya, bisa dipenuhi dengan cadangan energi yang terdapat diotot, hati, dan lemak yang terdapat dibawah lapisan kulit dan lain-lain.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan masyarakat “awam”, khsusunya mengenai puasa ketika dihubungkan dengan kesehatan. Biasaanya pertanyaan itu muncul dibenak seseorang jika mereka sedang mengalami sakit. Masih wajibkah melaksanakan ibadah puasa? Atau, dengan berpuasa tidak akan menambah parah penyakitnya? Apakah puasa dalam Islam tidak bertentangan dengan dunia kedokteran di era modern?

Menyimak pertanyataan di atas, Djayadi, dalam Buku ini memberikan pemaparan yang sangat lukas katerkaitan erat antara puasa dengan kesehatan. Puasa yang dilaksanakan umat Islam adalah merupakan kesempatan memobilisasi timbulnya lemak dibawah kulit, juga mengistirahatkan “mesin-mesin” pencernaan dalam tubuh untuk beberapa jam ketika melaksanakan ibadah puasa.

Dr. Otto Buchringer, dalam penelitiannya menyebutkan bahwa puasa bisa merejamakan sel-sel tubuh yang menua. Data tersebut didukung dengan penelitian Allan Cott M. D., banyak memaparkan secara lugas manfaat puasa yang ada kaitannya dengan kecantikan dan awet muda dalam bukunya “Why Past.”

Orang muslim yang melaksanakan ibadah puasa, akan berhadapan dengan berbagai cobaan, tantangan, dan ujian. Serta suatu hal mulanya sah-sah saja untuk dikerjakan, bahkan diharamkan bagi orang yang sedang berpauasa. Contohnya makan, minum, merokok, bersetubuh dll tanpa udzur syar’i yang diperbolehkan.

Kalau puasa hanya sekedar menahan hal-hal kebutuhan biologis seperti diatas, saya kira belum menyentuh substansi dari puasa itu sendiri. Sebab puasa selain sebagai menahan diri dari pelbagai kebutuhan biologis, substansi puasa adalah “pengendalian”.

Menariknya buku ini juga menyajikan beberapa pertanyaan seputar puasa yang dijawab oleh seorang pakar ahli kedokteran dan ulama, “puasa dalam perspektif medis”.

Artinya, bahwa puasa pada hakikatnya tidak bertentangan dengan kesehatan, justru saling mendukung. Oleh sebab itu, buku ini perlu dibaca oleh khalayak umum yang hendak atau sedang melakukan ibadah (ritual) puasa, baik puasa wajib (Ramadhan) atau puasa sunnah, agar berpuasa tidak hanya sekedar lapar dan haus. Seperti sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Umar ibn Khattab, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu, kecuali hanya  lapar dan dahaga.” Semoga puasa kita kali makbul!. Amein.

*Peresensi adalah Direktur Komunitas Baca Surabaya (KOMBAS).
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG