LPTNU dan Modernisasi Perguruan Tinggi NU

LPTNU dan Modernisasi Perguruan Tinggi NU
Selain memiliki ribuan pesantren, NU memiliki jaringan perguruan tinggi yang sangat banyak. Tercatat 215 Perguruan Tinggi menjadi anggota dari Lajnah Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU).

Bagaimana konsep pengembangan Perguruan Tinggi yang saat ini sebagian besar masih berkonsentrasi pada bidang agama, dan bagaimana menghadapi persoalan liberaalisasi pendidikan dan persoalan lainnya, berikut wawancara NU Online dengan Ketua LPTNU Dr H. Nur Ahmad di gedung PBNU, Selasa (26/10).
<>
 
Bagaimana upaya pengembangan perguruan tinggi NU?


Kita ada tiga konsep besar, pertama dalam bentuk franchise, percontohan yang sudah bagus, kemudian kita sebarkan ke seluruh perguruan tinggi NU yang sekarang jumlahnya sudah lebih dari 200 sehingga nanti ada standarisasi kurikulum, dosen, manajemen, penataan atau penggunaan lahan, dan sebagainya. Standarisasi ini terus kita tingkatkan dari waktu ke waktu sampai pada mencapai kualitas internasional.
 
Kedua, pengembangan perguruan tinggi yang sudah ada dengan melihat kebutuhan pasar.  Perlu evaluasi program yang sudah ada untuk melihat kebutuhan pasar, kalau perlu membuka yang baru.
 
Ketiga,
membuat perguruan tinggi baru. Ini target kepengurusan NU yang sekarang. Kita harapkan bisa membikin lima universitas baru, satu di Jakarta, dua di Sumatra dan dua di Kalimantan. Di Jakarta ini kita harapkan menjadi universitas baru yang besar. Insyaallah tanahnya sudah ada sehingga memudahkan kami. Kebetulan sekarang ini kami sedang menyusun kepanitiaan, tim dan proposal dan draft akademik untuk perguruan tinggi ini.

Arahnya, perguruan tinggi NU ke depan, akan menjadi perguruan tinggi modern, yang bisa menguasai minimal bahasa, Arab, Inggris dan Indonesia dengan program studi sesuai kebutuhan di ASEAN.

Kita harapkan ini akan menjadi perguruan tinggi internasional dan nasional, dalam konteks networking, pengembangan pasar dan sekaligus program studi dan kurikulumnya. Nasional sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Kita memiliki banyak sumberdaya alam, tetapi belum dikelola dengan baik. Indonesia Timur merupakan daerah yang kaya, tetapi masyarakat yang terlibat didalamnya masih kecil. Freeport masih dikuasai asing, hutan dikuasai asing, masih ada pencurian di laut sehingga ikan dikuasai orang asing. Pertambangan di bawah laut juga belum bisa dilakukan orang Indonesia sendiri. Ini problem dan kita harapkan bisa mengarah ke sana, termasuk bagaimana menyelesaikan persoalan Indonesia di bagian barat.

Untuk Jawa, lebih baik dikonsenterasikan untuk industri modern, tetapi mencakup keseluruhan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia, jadi pembangunan industri di Jawa harus kuat, tetapi di Indonesia bagian tengah, yang masih banyak lahan, masih perlu dikembangkan untuk perkebunan atau pertambangan dan lainnya.

Intinya, kita akan mendiskusikan terlebih dahulu apa kebutuhan Indonesia ke depan, dengan demikian, manusia Indonesia yang kita harapkan untuk dididik di NU seperti apa, lalu dididik dimana, sehingga kita tidak eforia membuat program studi yang sudah banyak di buka orang lain sehingga terjadi penumpukan sarjana sementara disisi lain banyak bidang yang tidak ada sarjananya. Kami menganggap bahwa pengembangan pendidikan di Indonesia belum memiliki grand design yang bagus.

Mudah-mudahan kita memiliki percontohan sehingga manusia Indonesia ke depan bisa diarahkan melalui pendidikan untuk menentukan nasib bangsa. Ini yang saya kira di dunia pendidikan masih selalu gagal. Ini harapan kami, namun demikian kita akan mendiskusikan lebih dahulu. Tim ini kita kumpulkan, termasuk mengumpulkan tokoh NU di semua lini. Kita memiliki ahli di banyak bidang, mereka bagus-bagus, cuma belum kita manfaatkan.

Konsentrasinya masih di perguruan tinggi Islam, strategi masuk ke bidang umum bagaimana?


Dari pengalaman, kita agak sedikit terperangah ketika membuat program studi baru, nanti dosennya siapa. ya kita cari terus, kalau perlu kita pinjam, nanti lama-lama kita akan memiliki dari kader sendiri. Kita harus dimulai, ke depan kita tidak bisa mengandalkan jurusan agama, kalau ini, saya kira cukup di pesantren. Pesantren lebih hebat daripada yang dididik di perguruan tinggi, tetapi perguruan tinggi tetap harus dididik ajaran aswaja.

Pemerintah tak rugi jika mengembangkan perguruan tinggi NU karena pasti menjadi nasonalis yang baik, karakter yang dipengaruhi pesantren sehingga karakter aswaja benar-benar berpengaruh dalam kehidupan bangsa.

Orang-orang aswaja itu dinamis, tapi tak meninggalkan yang lama, tak ada kekangan, dia lepas, tetapi tetap menggunakan prinsip lama yang baik. al-muhafadhatu alal qadimish Shalih wal akhdzu bil jadidil aslah selalu di pegang.

Persoalan kualitas bagaimana peningkatannya?


Betul, karena itu semacam franchise untuk meningkatkan standarisasi kurikulum, proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, ini minimal. Kita tak bisa meninggalkan mereka yang sudah berkomitmen berjuang di NU. Kita juga tak bisa membiarkan mereka begitu-begitu saja.

Sudah ada bayangan yang menjadi contoh?


Sekarang ini ada universitas yang mulai besar, ini bisa di contoh, dari situ, nanti akan mulai kelihatan bagaimana cara menangani universitas yang baik. Saya tak perlu menyebutkan, tetapi teman-teman di perguruan tingig NU sudah tahu.

NU basis dasarnya kan pesantren, lalu bagaimana nanti menghubungkannya?

Harapan saya, di setiap perguruan tinggi, ada pesantrennya, atau di setiap perguruan tinggi itu diajarkan ajaran-ajaran kepesantrenan, yang disitu memang kalau jurusan umum, minimal di situ ditampilkan landasan keilmuan yang berdasarkan agama, tetapi perlakuan terhadap ilmu, bagaimana mengaplikasikan dengan landasan kepesantrenan, ketawadhuan dengan orang tua atau dengan siapa saja sangat menghormati, terutama dengan kiai, tetapi tidak kemudian tak bisa berkembang karena penghormatan semacam ini.

Ini sesuatu yang mencair, santri ngak samikna waathokna secara buta. Dalam batas tertentu ya harus berkembang, disitu ia berkembang. Santri model seperti ini banyak, karena itu perlu ditampung, perlu ruangan untuk mengembangkan.

Nanti yang membedakan lulusan perguruan tinggi NU dengan lainnya ciri khasnya apa?


Ya mungkin merupakan semacam platform, kemudian semacam postulasi figur sarjana NU akan sepergi apa, lulusan perguruan tinggi akan kelihatan dengan sendirinya. Ini sudah saya coba di Universitas Wahid Hasyim, sudah mulai kelihatan. Dalam diskusi selalu menampilkan tingkat keilmuan sesuai dengan bidangnya,tapi tak lupa menyisipkan ayat-ayatnya, dan juga dalam hal penguasaan terhadap forum, itu akan sangat kelihatan sekali model penguasaan NU dan orang lain. Ada ciri khas sendiri bagaimana orang NU menguasai forum.

Untuk universitas NU Jakarta, kapan targetnya?


26 Januari yang akan datang diharapkan sudah soft launching. Jadi nanti awal Januari kita memantapkan lagi perguruan tinggi NU yang ada. Kita akan mengumpulkan perguruan tinggi yang ada. Sekarang sudah sekitar 215. yang penting sudah ada ini jangan kita abaikan, kita betulkan.

Pasar bebas, PTN membuka jurusan baru sehingga banyak PTS yang kolaps?


Kita perlu punya ciri khas, kalau segmen pasar kita NU, ya ciri khas NU-nya harus ada, ya ini sebagai upaya untuk mempertahankan NU sebagai benteng, tetap menjaga nilai-nilai ke-NU-an, sehingga ada simbiosis mutualisme, satu sisi kebutuhan NU harus dirancang sedemikian rupa, disisi lain perguruan tinggi NU harus mewadahi NU secara kultural. Anak orang NU dididik di perguruan tinggi NU, keluarannya tidak mengagetkan orang NU.

Nanti perguruan tinggi-perguruan tinggi itu bagaimana hubungannya dengan NU?

 
Inilah, mengapa kita pilih tiga model, karena dulu perguruan tinggi NU tidak didirikan NU, sekarang kan ada LPTNU. NU mau bergerak di perguruan tinggi. Yang sudah ada kita bina, jangan dianggap tidak NU, kita kembangkan dengan standarisasi, tapi yang PT yang baru atas nama NU.  Adapun nanti kemudian sudah banyak perguruan tinggi yang dimiliki NU, kemudian yang lain ikut, ya alhamdulillah. Karena mereka juga ingin mengabdikan diri ke NU dengan cara mereka sendiri.

Jadi mereka lebih otonom?


Ya, semacam franchise, ada standarisasi, paling tidak ada standarisasi minimal. Disitu ada ajaran ahlusunnah wal jamaah dikembangkan. (mkf)
BNI Mobile