Ziarahi Makam Gus Dur, Masyarakat Rindu Figur Pemimpin

Ziarahi Makam Gus Dur, Masyarakat Rindu Figur Pemimpin

Malang, NU Online
Makam Pondok Pesantren Tebuireng Jombang terus ramai diziarahi warga sejak jenazah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dimakamkan di sana pada akhir tahun lalu. Selain untuk berdoa, melalui ziarah itu sebenarnya masyarakat sedang menunjukkan bahwa ada kerinduan terhadap figur seorang pemimpin yang bisa dipercaya, seperti Gus Dur.

Sejarawan Agus Sunyoto menuturkan, dalam tradisi masyarakat Nusantara yang kemudian diwarisi oleh Islam, ada semacam tradisi pemujaan, penghormatan dan doa terhadap arwah pemimpin yang disegani. Ketertarikan masyarakat untuk berziarah ke makam pemimpin ini semakin besar tatkala pemimpin yang ada saat ini dinilai tidak bisa menjadi panutan.

<>

“Tidak ada pemimpin yang bisa dipercaya sekarang ini. Gus Dur jadi tumpuan masyarakat yang sedang merindukan figur seorang pemimpin,” kata Agus Sunyoto kepada NU Online di Malang akhir bulan lalu.

“Dan kerinduan masyarakat semakin menjadi-jadi setelah Gus Dur dilengserkan, dikuyo-kuco. Jadi kisah perjalanan hidup Gus Dur sama seperti wali-wali jaman dulu,” tutur Agus Sunyoto yang telah menyusuri makam-makam para tokoh muslim Nusantara.

Di kalangan umat Islam, setelah meninggalnya Gus Dur, bahkan banyak yang nenambah jumlah makam wali bukan lagi Wali Songo, tapi Wali Sepuluh. Posisi Gus Dur dianggap setara dengan Wali Songo.

“Wali Sembilan memang tidak tergantikan, tapi ada kecenderungan Gus Dur dianggap setara dengan wali-wali itu. Misalnya, kalau ada kegiatan ziarah Wali Songo dari Jawa Timur, ada yang tidak sampai ke Sunan Gunung Jati di Jawa Barat. Nggak usah ke Cirebon karena terlalu jauh, diganti makam Gus Dur saja. Jadi yang diziarahi jumlahnya tetap sembilan,” tutur sejarawan yang sedang menyusun Atlas Walisongo ini. (nam)

BNI Mobile