IMG-LOGO
Pustaka

Membongkar Sejarah Santri Yang Tersinggirkan

Senin 13 Desember 2010 10:35 WIB
Bagikan:
Membongkar Sejarah Santri Yang Tersinggirkan
Judul: Resolusi Jihad Paling Syar’i, Biar Kebenaran Yang Hampir  Setengah   Abad yang Dikaburkan Catatan Sejarah Terbongkar
Penulis: Gugun El-Guyanie
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan: I, 2010
Tebal: xiv+128 hal.
Peresensi: Ahmad Shiddiq *

Para ulama yang tergabung dalam Jam’iyyah NU, tentu memiliki pandangan dan ijtihad terhadap seluruh persoalan agama, termasuk dalam menafasirkan makna jihad secara kontekstual. Diskursus tentang jihad selalu menyita perhatian dari berbagai kalangan, baik Islam sendiri atau pun non muslim. Bagi kalangan Islam, ajaran jihad merupakan sesuatu yang inheren, sehingga setiap muslim secara otomatis adalah seorang mujahid. Dalam merespon situasi yang membahayakan kedaulatan, PBNU kemudian membuat undangan kepada konsul NU di seluruh Jawa dan Madura.<>

Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari  langsung memanggil kiai Wahab Hasbullah, kiai Bisri Samsuri, dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan para kiai se Jawa dan Madura, atau utusan cabang NU-nya untuk berkumpul di Surabaya, tepatnya di Kantor PB Ansor Nahdlatul Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2, bukan di kantor PBNU yang saat itu berada di jalan Sasak nomor 23 Surabaya. Hingga memutuskan hal penting bagi bangsa dan negara, yang dikenal Revolusi Jihad tanggal 22 Oktober. Lalu pertanyaannya kenapa dalam lembaran sejarah perjuangan kaun santri lenyap begitu saja.

Buku yang yang ditulis oleh Gugun El- Guyanie ini, sangat penting untuk diketahui bangsa yang sudah lebih setengah abad merdeka. Karena, Pertama, Resolusi Jihad yang perankan NU termajinalisasi bahkan terhapus dari memori sejarah bangsa. Tentu karena pergulatan dan manuver politik, ada upaya-upaya dari kelompok tertentu yang ingin menggusur NU dari dinamika percaturan politik kebangsaan.

Mengapa heroisme terjadi di Surabaya? Kota yang menjadi simbol kota santri, ibu kota NU, dan di ibu kota tersebut pula Jam’iyah NU didirikan tahun 1926? Mengapa dalam pembahasan Resolusi Jihad ini perlu mengungkap setting geosospol dan geokultur. Karena kota Surabaya memiliki khas yang unik, baik dari segi politik, budaya, maupun religiusitasnya. Dengan demikian, akan ditemukan titik sinkron antara Surabaya dan heroisme jihad dari para kiai dan santri dalam membela tanah air. Surabaya kota pesisir timur pantai utara Jawa yang terus berubah, sekarang telah menjadi sebuah metropolitan, dengan proses dan dinamika yang muncul didalamnya.

Maka wacana Resolusi Jihad NU harus dihidupkan kembali, direkontruksi dan tidak ditempatkan pada upaya politisasi sejarah. Tanpa Resolusi Jihad, tak akan ada NKRI. Kedua, pada lingkup internal, banyak kader-kader Muda NU yang tidak mengerti rangkaian sejarah Resolusi Jihad. Hal ini dapat dibuktikan, ingatan masyarakat tentang Resolusi Jihad NU 1945 yang memiliki mata rantai dengan peristiwa 10 November di Surabaya semakin punah. Jangankan masyarakat umum, generasi penerus NU dari pusat sampai ranting, Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU pun banya yang tidak mendapatkan transfer sejarah mengenai resolusi penting ini.

Dari fatwa Resolusi Jihad ini, yang keluarkan oleh NU, umat menyambut seruan tersebut dengan gegap gempita. Dimana-mana, peperangan berkobar. Puncaknya, pada pagi, dari ujung-ujung terjauh pulau Jawa, para mujahid berdatangan memenuhi kota Surabaya. Pekik takbir pun membahana, menggoncang jiwa-jiwa musuh yang durjana. Resolusi Jihad telah menggerakkan perang paling kolosal yang pernah ada dalam sejarah Nusantara, yang kemudian terkenal dengan peristiwa 10 November 45. Namun, sejarah tidak merekam perjuangan kaum santri dengan Resolusi Jihadnya. Artinya bahwa kontribusi NU yang begitu besar dalam mempertahankan kedaulatan NKRI ternyata dipandang sebelah mata oleh pemerintah dari zaman kemerdekaan sampai hari ini.

Seandainya saja Resolusi Jihad tidak ada, juga laskar-laskar yang berafilasi dengan  NU seperti Hizbullah dan Sabilillah bersama laskar-laskar rakyat lain tidak lahir untuk menentang sekutu, mungkin Indonesia yang merdeka tidak bisa dinikmati sampai hari ini. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian para pengambil kebijakan, juga para sejarawan untuk memposisikan peran NU secara proporsional. Saatnya sejarah harus menampilkan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya terjadi, bukan menutupi, mengurangi atau menambahi, memanipulasi atau mengkomoditinya.

Munculnya hari pahlawan, kota pahlawan, dan peristiwa 10 November serta para pahlawan yang gugur adalah bagian dari roh Resolusi Jihad yang ditiupkan oleh para kiai dan santri. Berapa pengorbanan jiwa dan raga yang harus dibayar oleh mereka untuk membayar kecintaannya pada bangsa, tetapi apa balasan pemerintah bagi mereka (warga NU)? Meminggirkan pendidikan pesantren, menuduh pesantren sarang teroris, menyinggirkan alumni pesantren dari dunia kerja?. Pada hal, dengan Resolusi Jihad berdampak pada dua hal penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pertama, dampak politik, lahirnya resolusi jihad, secara politik meneguhkan kedaulatan Indonesia sebagai negara bangsa (nation state) yang merdeka dari penjajahan. Meski setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia selalu berdarah-darah untuk mengahadapi masuknya tentara sekutu, agresi militer Belanda pertama dan kedua. Kedua, dampak militer. Resolusi jihad, dengan tampilnya lascar Hizbullah dan sabilillah, berkontribusi besar melahirkan tentara nasional. Tanpa laskar-laskar tersebut, yang terkomando dalam Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan, rekrutmen tentara nasional akan mengalami kesulitan. (hal, 102)

Resolusi Jihad NU telah mengobarkan jiwa dan raga para pejuangnya. Namun sampai hari ini, banyak generasi bangsa yang tidak mengenal tragedy bersejarah itu, bahkan generasi NU sendiri. Hal ini dikarenakan, para sejarawan nasional, atas kepentingan penguasa tidak  mencatat Resolusi jihad NU dalam tinta emas sejarah. Oleh karena itu, sudah saatnya sejarah harus berbicara jujur, untuk mengajarkan kepada generasi bangsa bahwa Resolusi Jihad NU adalah pengorbanan yang besar dari para kiai dan santri yang setia, dan mencintai tanah airnya. Orang-orang pesantren selalu meyakini hadits Rasullah bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Untuk itu, buku ini penting dibaca oleh generasi bangsa, mahasiswa, akademisi (sejarawan), warga dan pengurus NU dari berbagai level, agar bangsa ini bisa menghargai jasa pahlawan yang telah mengorbankan jiwa-raganya, demi terwujud kemerdekaan yang hakiki dari tangan penjajah. Dengan demikian, bangsa ini tidak seperti kata pepatah “air susu di balas air tubah”. Waallahu a’lamu bi al-shawab.

*) Santri Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya
Bagikan:
Senin 6 Desember 2010 10:37 WIB
Membuktikan Otentisitas al Qur’an
Membuktikan Otentisitas al Qur’an
Judul Buku: Sejarah al Qur’an: Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an
Penulis: Prof. Dr. H. A. Athaillah, M.Ag.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: Pertama (1), Juli 2010
Tebal: 382 halaman
Harga : Rp 55.000,-
Peresensi: Otong Suhendar*

Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan sekaligus sebagai sumber ajaran yang harus diimani dan diaplikasikan dalam setiap sendi kehidupan. Al Qur’an juga merupakan sumber inspirasi bagi setiap orang yang mampu menyelami makna-makna yang terkandung di dalamnya.
<>
Sebelum al Qur’an diturunkan, di bumi ini sudah terdapat beberapa kitab suci yang menjadi pedoman hidup manusia, seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Berbeda dengan ketiga kitab suci tersebut yang hanya diperuntukan bagi umat tertentu, al Qur’an diperuntukan untuk seluruh umat manusia. Jadi tidaklah mengherankan, selama lebih dari 14 Abad al Qur’an tetap terjaga otentisitasnya, karena perhatian kaum muslim terhadap al Qur’an ini sungguh luar biasa.

Berbagai upaya telah dan akan terus dilakukan umat Islam untuk memelihara otentisitas al Qur’an, baik dengan hafalan maupun dengan tulisan. Upaya tersebut telah berlangsung sejak Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang, sehingga kemurnian al Qur’an tetap sama seperti awalnya.

Prof Dr HA Athaillah, M.Ag. melalui bukunya yang berjudul “Sejarah al Qur’an; Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an” mengajak para pembacanya untuk melihat sisi otentisitas al Qur’an melalui historisnya sekaligus menolak pandangan kaum orientalis dan sebagian umat Islam sendiri yang meragukannya.

Menurut penilaian mereka (seperti Abraham Geiger, Richard Bell), al Qur’an itu bukanlah wahyu Allah, melainkan hasil karya Muhammad saw yang sumbernya berasal dari berbagai pihak. Di antaranya ada yang berasal dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di samping itu, mereka menggugat keabsahan mushaf ‘Utsmani dan otentisitasnya. Sebagaimana yang dikatakan John Wonsbrough; Teks al Qur’an baru menjadi baku setelah tahun 800 M., dan kitab yang diyakini oleh umat Islam selama ini hanyalah fiksi belaka yang kemudian direkayasa oleh kaum Muslim sendiri (hlm. 1).

Pandangan-pandangan negatif  yang dilontarkan oleh kaum orientalis tersebut dibantah oleh penulis buku tersebut dengan metode analisis dari berbagai argumen dan data yang telah mereka kemukakan dengan menggunakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, baik dalil-dalil yang  dikutip dari al Qur’an sendiri, fakta-fakta sejarah, maupun hasi penemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini yang relevan dengan informasi-informasi yang terkandung di dalam al Qur’an.

Senada dengan pernyataan penulis pada bagian pendahuluan buku tersebut; bahwa ada dua masalah pokok yang akan dijawab dalam buku tersebut. Pertama, apakah betul al Qur’an itu firman Allah?. Kedua, apakah al Qur’an masih otentik hingga saat ini?

Dalam menjawab kedua pertanyaan tersebut dan sekaligus membuktikan kebenaran tentang otentisitas al Qur’an, penulis tidak langsung merespons pernyataan-pernyataan kaum orientalis dan sebagian kaum muslim tersebut secara sinis, tetapi ia menyuguhkan sejarah al Qur’an berdasarkan fakta dan data akurat yang telah diseleksi kebenaran dan keabsahannya oleh para pakar di bidangnya (hlm. 9-10).

Otentisitas al Qur’an

Al Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah (QS. 15:9). Mengutip pendapat seorang ulama kontemporer, Muhammad Husain al Thabathaba’iy yang menyatakan bahwa sejarah al Qur’an demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai sekarang ia dibaca oleh kaum muslim, sehingga pada hakikatnya al Qur’an tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keotentikannya. Kitab suci tersebut - lanjut Thabathaba’iy – memperkenalkan dirinya sebagai firman-firman Allah dengan menantang siapapun untuk membuat tandingannya.

Salah satu bukti, bahwa al Qur’an yang berada di tangan kita sekarang adalah al Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad saw. tanpa perubahan dan tetap sebagaimana keadaannya dahulu. Sejalan dengan pendapat Thabathaba’iy diatas, Rasyad Khalifah juga mengemukakan bahwa dalam al Qur’an sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keotentikannya.

Sejarah mencatat bahwa sejak zaman Nabi Muhammad saw, al Qur’an telah dihafal oleh ratusan sahabatnya. Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat al Qur’an, namun untuk menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, tidaklah cukup hanya mengandalkan hafalan saja, tetapi dalam bentuk tulisan juga. sejarah menginformasikan bahwa ayat-ayat al Qur’an sebelum dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf (mushaf ‘Utsmani) telah ditulis dalam berbagai benda seperti kulit, tulang, pelepah kurma, dan kepingan batu.

Pada masa sekarang ini pun masih sama, meskipun al Qur’an telah tercetak dalam sebuah mushaf, perhatian kaum Muslim untuk menjaga otentisitas al Qur’an tetap luar biasa, seumpama kita menyurvei dari ujung Timur sampai Barat bumi ini, maka kita pasti akan tercengang, kita akan menemukan jutaan para penghafal al Qur’an. Jadi sangatlah wajar, jika al Qur’an dari periode awal ketika Nabi masih hidup sampai masa kita masih sama tanpa ada perubahan sedikit pun.

Akhirnya, dengan membaca buku “Sejarah al Qur’an; Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an” ini, para pembaca akan menemukan bukti-bukti keotentikan al Qur’an yang disajikan oleh penulisnya dengan menggunakan “sejarah” sebagai pisau analisinya.

* Staf Pembimbing pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta
Senin 29 November 2010 9:45 WIB
Jejak Rekam NU dan Negara
Jejak Rekam NU dan Negara
Oleh Ali usman

Judul: NU dan Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan
Penulis: Nur Khalik Ridwan
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Cetakan: I, Juni 2010
Tebal: 628 halaman

Nahdlatul Ulama (NU) dan negara sesungguhnya dua entitas yang berbeda, walau eksistensinya kadangkala dianggap jadi satu kesatuan. NU adalah gerakan sosial keagamaan yang berbasis Islam, sementara negara merupakan institusi formal yang memayungi semua kepentingan elemen-elemen masyarakat, termasuk ormas Islam NU. <<>;br />
NU dan negara dianggap jadi kesatuan merujuk pada selain karena ekesistensinya, juga lantaran NU ikut andil dalam perjuangan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pertanyaannya, bagaimana hubungan NU dan negara di tengah pergulatan politik dan kekuasaan?

Buku ini menyajikan sejumlah jawaban yang sangat memadai dalam menjelaskan pasang-surut pola hubungan NU dan negara sejak masa-masa awal pembentukan NU 1914 oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, hingga resmi didirikan pada 31 Januari 1926, bahkan sampai tahun 2010 sewaktu masih dinahkodai KH Hasyim Muzadi. Termasuk pula, di buku ini, Nur Khalik Ridwan, penulisnya, secara detail dan komprehensif menampilkan jejak rekam sejarah pergulatan aktivis NU yang terlibat aktif merebut kemerdekaan RI dari tangan Belanda dan membuahkan deklarasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hal ini bisa ditengok dalam anggota BPUPKI dan PPKI, yang di dalamnya terdapat nama KH Masykur dan KH Wahid Hasyim sebagai delegasi NU.

Itu sebabnya, tecara internal ke-NU-an, terdapat sejumlah fakta-fakta sejarah yang menarik untuk disimak. Tahun 1914 adalah cikal-bakal kelahiran NU dengan membentuk Tashwirul Afkar, sebuah pertukaran gagasan di kalangan santri (pemuda) atas prakarsa KH Abdul Wahab Hasbullah, yang waktu itu, baru saja pulang dari Mekkah. Dari sana, kemudian di tahun 1916 membentuk Nahdlatul Wathan, yang berarti Kebangkitan Tanah Air. Berikutnya, tahun 1918, KH Abdul Wahab Hasbullah bersama KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Tujjar (kebangkitan kaum pedagang), yang difungsikan untuk menyelamatkan perekonomian-perekonomian lokal bumiputera akibat penetrasi yang dilakukan oleh Belanda dan China.

Hal yang menarik dari deklarasi Nahdlatul Tujjar tersebut adalah soal komitmen para ulama atau agamawan untuk menggedor solidaritas kaum bumiputera dan kelompok kaum miskin. Pekik doa keberhasilan terdengar lantang waktu itu: ”Ya Allah, berilah keberhasilan. Amin. Seorang penyair menyatakan, jika ahli ilmu dan hujjah tidak dapat memberikan manfaat, maka keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat sama saja seperti orang bodoh. Demikian juga, jika seseorang tidak memberikan manfaat kepada orang lain, maka keberadaannya bagaikan duri di antara bunga” (hlm. 40).

Dengan semangat berapi-api untuk ikut peduli terhadap nasib rakyat dan bangsa yang ditunjukkan oleh para ulama itulah, yang di kemudian hari, tepatnya tanggal 31 Januari 1926  melahirkan organiasi terbesar di Indonesia bernama NU. Dua tantangan besar menjadi latar belakang berdirinya NU, yaitu gerakan wahhabi dari Timur Tengah yang banyak diadopsi oleh kelompok Islam tertentu, sehingga mengakibatkan kematian ‘tradisi’ masyarakat lokal yang telah tumbuh berkembang di bumi nusantara; dan untuk menyikapi imperialisme alias penjajahan fisik yang dilakukan oleh Belanda, Inggris, dan Jepang terhadap bangsa Indonesia.

Kehadiran NU di kehidupan berbangsa memberikan corak tersendiri dalam mengisi hari-hari keindonesiaan, dari masa kemerdekaan RI hingga detik ini. Yang menarik adalah kekuatan NU tidak dalam keterlibatannya di partai politik praktis—sebagaimana masih terjadi kesalahpahaman di antara banyak kalangan. Jubah kebesaran NU justru pada penguatan civil society yang bergerak liar dalam melakukan advokasi dan pemberdayaan umat.

Keterlibatan NU di kancah dunia politik, yang pernah tergabung dalam Masyumi dan berubah menjadi partai politik pada 7 November 1945, maupun ketika melakukan fusi ke PPP tahun 1973 di masa Orde Baru, mestinya dibaca sebagai bentuk eksperimen NU yang hasilnya kita tahu, mengalami kegagalan total. NU selalu menjadi korban atau tumbal kekuasaan serta seringkali dipecundangi oleh kawan koalisinya di internal partai.

Kehidupan politik NU pada mulanya dirasakan sebagai perluasan wawasan, setidaknya sampai akhir tahun 1950-an, tetapi ternyata perkembangannya memunculkan realitas lain. Sikap dan tindakan NU selalu dikaitkan dengan orientasi untung rugi dari segi kepentingan politik semata. Politik bagi NU bukanlah aspek yang dianggap primer. Sebab, orientasi yang demikian mengakibatkan NU tidak bisa menghindari posisi yang berwatak taktis untuk mendapatkan keuntungan politik belaka. Sedang orientasi utama NU sebagai jam’iyah untuk membina umat, mengembangkan tradisi keagamaan menurut ajaran ahlussunnah waljama’ah yang lebih utuh dan meningkatkan kualitas kehidupan jamaah yang menjadi karakteristik NU, terabaikan (Haidar,1994).

Sejak saat itu, NU mengalami trauma politik, sehingga pada Muktamar 1984 di Situbondo membuat keputusan bersejarah, yaitu kembali ke khittah 1926. Dalam perjalanannya, khittah ini berjalan mulus hingga bertahan kurang lebih 12 tahun, terhitung pascamuktamar 1984. Namun di era reformasi setelah tumbangnya rezim Soeharto, teks khittah kembali “diungkit” dan diinterpretasikan ulang, melahirkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang pada 23 Juli 2010 genap berusia 12 tahun.

Karena itu, kehadiran buku ini, tentu sangat penting untuk mengingatkan kembali masyarakat kita atas prakarsa founding fathers yang telah bersusah payah menegakkan NKRI bersejajar dengan negara-negara lain di seluruh penjuru dunia. Dalam batas-batas tertentu, buku ini seperti kronik yang merekam momen-momen sejarah penting keindonesiaan. Analisis yang di kandung di dalamnya melampaui soal ke-NU-an semata, tapi juga mencakup banyak hal dan kelompok-kelompok lain yang terekam secara apik dalam bingkai keindonesia. Selamat membaca.

*Pustakawan, dan aktivis muda NU di Yogjakarta
Senin 22 November 2010 10:30 WIB
Berdakwah Lewat Syair
Berdakwah Lewat Syair
Judul Buku : Sajak Rindu Bagi Rasul
Editor : Jabrohim, dkk.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: I, 2010
Tebal: 326 halaman
Peresensi : Mutasiudin*)

Manusia dibekali Tuhan dalam mengarungi kehidupan dengan empat kemampuan dasar, yaitu rasio, imajinasi, hati nurani, dan sensus numinis. Rasio diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Imajinasi diberikan kepada manusia untuk mengembangkan kemampuan estetika. Hati nurani diberikan kepada manusia untuk mengembangkan kemampuan moralitas. Sensus numinis diberikan kepada manusia untuk mengembangkan kesadaran ilahiah.<>

Keempat kemampuan dasar tersebut, termuat oleh agama sebagai suatu sistem nilai yang dilegitimasi sebagai fitrah manusia. Keempat kompetensi dasar itu secara bersamaan dapat dipakai untuk menemukan kebenaran tertinggi, yaitu kebenaran tentang teologi. Rasa dan seni juga merupakan salah satu fitrah manusia yang dianugerahkan Tuhan yang harus dipelihara dan diimplemantasikan dengan baik, sesuai dengan ketentuan yang disabdakan oleh agama sendiri, bahwa Tuhan Maha Indah dan mencintai keindahan.

Mencipta dan menikmati karya sastra, dalam berbagai agama memiliki kedudukan tinggi. Menurut Islam, mencipta dan menikmati karya sastra ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat diperbolehkan (dianjurkan). Hukum mubah bagi kegiatan mencipta dan menikmati karya seni tersebut masih disertai dengan sejumlah persyaratan. Persyaratan itu merupakan rambu-rambu bagi proses penciptaan dan penikmatan karya seni.

Rambu-rambu bagi proses penciptaan dan penikmatan itu meliputi “Menciptakan dan menikmati karya sastra hukumnya mubah selama tidak mengarah mengakibatkan fasad (kerusakan), dharar (bahaya), isyan (kedurhakaan), dan ba’id ‘anillah (menjauh dari Tuhan).

Fasad (merusak) maksudnya mencipta dan menikmati karya sastra yang berakibat merusak, baik merusak orang yang menciptakanya maupun merusak orang lain bahkan lingkunganya (termasuk di dalamnya merusak aqidah, merusak ibadah, dan merusak hubungan sosial). Dharar (bahaya) maksudnya mencipta dan menikmati karya sastra yang menimbulkan bahaya pada diri orang yang menciptakan maupun pada orang yang menikmatinya. Isyan (kedurhakaan) maksudnya mencipta dan menikmati karya sastra yang mengakibatkan atau mendorong pada pelanggaran-pelanggaran, seperti pelanggaran hukum agama, kedurhakaan kepada Allah, kedurhakaan kepada orang tua, kedurhakaan suami bagi keluarganya. Bai’id ‘anillah (jauh dari Allah) maksudnya mencipta dan menikmati karya sastra yang menyebabkan jauh dari
Allah atau menghalangi pelaksanaan ibadah.

Selain memperhatikan rambu-rambu tersebut, menulis sastra akan lebih komperhensif dan sarat nilai, bila dikorelasikan dengan empat kompetensi dasar fitrah manusia. Sajak rindu bagi Rasul yang ditulis Ahmadun Yosi Herfanda (hal. 23) misalnya, ia mengingatkan kita pada sosok Muhammad sebagai pemimpin ideal, transformatif, dan bervisi kemajuan.

* Peresensi adalah Mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG