TAUSHIYAH MUHARAM

Ingat Anak Yatim Jangan Hanya Setahun Sekali

Ingat Anak Yatim Jangan Hanya Setahun Sekali
Tegal, NU Online
Bulan Muharam sering disebut sebagai bulannya anak yatim, atau lebaranya anak yatim. Ini berdasarkan keterangan dari Rasulullah SAW yang menyatakan siapa saja yang mengusap kepala anak yatim dengan tangannya di hari Asura (tanggal 10 Muharam) maka Allah akan mengangkat derajat orang tersebut, satu rambut satu derajat kemuliaan.

Namun meningat dan menyayangi anak yatim di bulan Muharam saja, karena kebutuhan hidup anak yatim itu setiap hari bukan setahun sekali. Demikian taushiyah disampaikan KH Tokhawi Said, pengasuh Pondok Pesantren Al-ikhsan Tegal.<>

“Kebutuhan anak yatim itu tidak setahun sekali tapi setiap hari maka dalam hadist lain Rasulullah menyatakan, saya beserta orang yang memelihara, menanggung anak yatim besok di surga seperti dua deriji (jari). Hadist ini menunjukan saking dekatnya antara beliau dengan orang yang memelihara atau menanggung anak yatim. Kata memelihara atau menanggung itu tidak setahun sekali tapi tiap hari mencukupi kebutuhannya,” katanya di hadapan jamaah yang memadati halaman masjid Baitusolihin Tegal dalam acara santunan anak yatim belum lama ini.

Menurut KH Takhowi, kualitas suatu ibadah bisa diterima atau tidak tergantung pada ibadahnya baik atau tidak. Ibadah yang baik adalah ibadah yang mabrur, karena orang yang  memperoleh predikat mabrur akan mendapatkan kenikmatan di dalam surga. Tapi orang tak pernah mendapatkan predikat mabrur dalam ibadah, kalau tidak peduli dengan anak yatim dan faqir miskin

“Sikap dan perilaku orang yang mengabaikan anak yatim, bahkan dikutuk Allah sebagai pendusta agama. Dalam QS Al-Maun ditegaskan perihal orang yang dianggap dusta agamanya, dusta syahadatnya, dusta shalatnya, dusta puasanya, dusta zakat dan hajinya, jika mereka tidak pernah menyantuni anak yatim serta memberi makan orang miskin,” tegasnya.

“Sayang, kalau kita harus menyia-nyiakan potensi ibadah yang kita lakukan kalau kita tidak pernah tergerak untuk memperhatikan nasib anak-anak yatim, terutama mereka yang masih dalam usia wajib belajar, karena kebutuhanya sangat besar. Itulah sebabnya Allah menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat penting untuk dibantu dan diperhatikan nasibnya,” tambahnya.

Ia menambahkan, karenanya prioritas dari program beasiswa idealnya diberikan kepada anak yatim, apalagi piatu. Ini berdasarkan contoh tindakan sosial Rasulullah. “Jadi jangan ada anak yatim terlantar pendidikanya, hanya karena faktor biaya. Jangan ada dusta diantara kita jangan ada dusta antara kita dengan Tuhan,” pintanya kepada jamaah. (fth)
BNI Mobile