IMG-LOGO
Pustaka

Fiqih Sosial Ala KH MA Sahal Mahfudh

Senin 17 Januari 2011 10:9 WIB
Bagikan:
Fiqih Sosial Ala KH MA Sahal Mahfudh
Judul: Dialog Problematika Umat
Penulis: KH. MA Sahal Mahfudz
Penerbit: Khalista Surabaya dan LTN PBNU
Cetakan: I, Januari 2011
Tebal: xii+464 hal.
Peresensi: Ahmad Shiddiq *


Orang mengenal Kiai Sahal sebagai sosok kiai yang bersahaja. Namun, di balik kesederhanaannya, pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati, Jawa Tengah ini memiliki keluasan ilmu yang jarang dimiliki oleh kiai kebanyakan. Tidak salah kalau kemudian dalam penelitian yang dilakukan Dr Muzammil Qomar, beliau disejajarkan dengan nama-nama besar semisal (alm) KH Achmad Shiddiq sebagai tokoh yang mempunyai pemikiran liberal. Bahkan  beberapa waktu yang lalu kiai bernama lengkap Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz ini di anugerahi Doctor Honoris Causa (Dr HC) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta karena keteguhannya dalam fikih Indonesia.<>

Kiai Sahal adalah figur, pemimpin, ekonom, pendobrak kebekuan, kemunduran, kemiskinan, dan latar belakang. Sosok multidisipliner dan dinamisator kalangan pesantren serta Nahdlatul Ulama, dua lembaga yang membesarkan juga dibesarkannya. Sebagai ulama, Kiai Sahal tidak diragukan lagi kapasitas keilmuan agamanya, khususnya penguasaan terhadap kitab kuning atau al-turast al-islami. Kapasitas keulamaan ini terlihat dari karya yang sangat banyak meliputi berbagai aspek keilmuan.

Dunia pesantren maupun akademisi begitu memberikan apresiasi sekaligus kepercayaan kepadanya untuk bisa mentransformasikan keilmuan di berbagai tempat, termasuk lewat berbagai media yang telah memberikan kesempatan kepada beliau untuk mengisi rubrik khusus sebagai kolumnis maupun forum dialog atau bathsul masail, yang diantaranya menjadi buku ini.

Dengan pemikiran yang tajam, ia mampu memberikan solusi secara kronologis, jelas, transparan dan sistematis dari setiap problema umat yang disodorkan kepadanya. Disini dibahas tuntas problematika mengenai bersuci, shalat, puasa Ramadhan, zakat dan pemberdayaan ekonomi umat, haji, rumah tangga, antara tuntutan ibadah dan rekayasa teknologi, akidah-akhlak, mengagungkan kitab suci, makanan, dan etika sosial.

Bagi Kiai Sahal, fiqh bukanlah konsep dogmatif-normatif, tapi konsep aktif-progresif. Fiqh harus bersenyewa langsung dengan ‘af al al-mutakallifin sikap perilaku, kondisi, dan sepak terjang orang-orang muslim dalam semua aspek kehidupan, baik ibadah maupun mu’amalah (interaksi sosial ekonomi). Kiai Sahal tidak menerima kalau fiqh dihina sebagai ilmu yang stagnan, sumber kejumudan dan kemunduran umat, fiqh justru ilmu yang langsung bersentuhan dengan kehidupan riil umat, oleh karena itu fiqh harus didinamisir dan revitalisir agar konsepnya mampu mendorong dan menggerakkan umat Islam meningkatkan aspek ekonominya demi mencapai kebahagian dunia-akhirat.

Kontekstualisasi dan aktualisasi fiqh adalah dua term yang selalu dikampanyekan Kiai Sahal baik secara ‘qauli (teks) melalui acara seminar, simposium, dan sejenisnya. ‘kitabi (tulisan) dikoran, majalah, makalah, serta fi’li (tindakan) dalam bentuk aksi langsung di tengah masyarakat dengan program-program riil dan konkret yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam buku ini, jelas bahwa umat Islam sekarang dalam sebuah kebingungan menghadapi dunia modern. Dunia modern yang selama ini dibanggakan oleh masyarakat, ternyata malah menyisakan problem yang memprihatinkan. Dunia modern diagung-agungkan dengan berbagai kecanggihan informasi, transportasi, dan alat-alat teknologi lainnya ternyata gagal membentuk pribadi muslim yang luhur dan mampu mengorbankan serta pengabdian dirinya untuk masyarakat. Semua orang dengan bangga berkata sebagai orang modern, tetapi ternyata hatinya berpenyakit dan begitu menyedihkan bila ditinjau dalam segi agama.

Bagi Kiai Sahal, kebenaran sesuatu selain dari dalil-dalil naqliyah juga bisa berasal dari dalil aqliyah. Memang al-Qur’an dan al-Hadits merupakan sumber hidayah yang paling utama dan esensial bagi umat Islam. Namun peran akal juga tidaklah kalah penting. Dalam beberapa ayat, peran akal sangat istimewa bahkan orang-orang yang diberi ilmu derajatnya tinggi dihadapannya. Hasil pemikiran sains yang berkembang sekarang dapat kita jadikan sebagai petunjuk untuk mempertebal keimanan asalkan tidak bertentangan dengan ketetapan syariah. Dengan demikian, sains dan ilmu pengetahuan yang bersumber dari akal pikiran bukan bid’ah, atau kemusyrikan dan kekufuran. Bahkan sains dan ilmu pengetahuan diperintahkan Allah untuk dipelajari dan dikembangkan. Ini penting karena berguna meningkatkan kualitas hidup manusia dan bahkan bisa mempertebal iman.

Pergulatan panjang Kiai Sahal dalam lapangan fiqh sosial ini ternyata membawa perubahan besar dan dahsyat dalam lapangan pemikiran pesantren dan akademis  (perguruan tinggi), ekonomi kerakyatan, kebudayaan, kelembagaan (pesantren dan NU), dan politik kebangsaan. Dari kalangan peasntren, pemikiran progresif fiqh sosial Kiai Sahal mendorong santri dan Gus-Gus muda pesantren belajar secara mendalam ilmu usul fiqh dan mengembangkan untuk merespons tantangan modernisasi sekarang ini. Lalu muncullah pemikir-pemikir muda pesantren dan NU progresif, transformatif, dan inovatif, dan mereka jauh lebih berani keluar mainstream pemikiran NU, tetapi tetap dalam koridor ahlusunnah wal jamaah.

Dengan demikian, dilihat dari kacamata akademik pesantren Kiai Sahal mampu menyediakan informasi yang komprehensif dan cermat dalam menganalisis serta akurat dalam menyajikan jawaban-jawaban umat. Rais Aam PBNU ini, telah lebih maju dengan memberikan tawaran gagasan-gagasan segar terkait problematika umat dengan pengembangan qawaid ushuliyah untuk menjadikan fiqh sebagai bagian dari peradaban modern.

Wal-hasil buku setebal 464 ini dapat menjadi inspirasi kaum muda dalam mengembangkan lebih jauh gagasan-gagasan ulama sekaliber KH MA Sahal Mahfudz dan tentunya patut menjadikan buku ini, rujukan menemukan jawaban hukum Islam yang berkaitan problematika umat. Selain mudah dibaca oleh siapa saja, buku ini memberikan jawaban nuansa berbeda yang disesuaikan dengan zaman kontemporer. Waallahu a’lamu bi al-shawab.

*) Penulis Santri Pesantren Luhur Al-Husna dan Redaktur Pena Pesantren Surabaya
Bagikan:
Senin 10 Januari 2011 8:37 WIB
Inilah Jurus Ampuh Berdebat dengan Salafi (Wahhabi)
Inilah Jurus Ampuh Berdebat dengan Salafi (Wahhabi)
Judul: Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi
Penulis: Muhammad Idrus Ramli
Penerbit: Bina Aswaja dan LBM NU Jember
Cetakan:1, September 2010
Tebal: vi + 171 halaman
Peresensi: Yusuf Suharto*


Setelah menulis buku Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik” pada tahun 2008, kemudian setahun berikutnya menulis buku Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlus sunnah wal Jama’ah, Idrus Ramli, penulis buku Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi ini bersama tim LBM NU Jember seringkali diminta mengisi pelatihan dan internalisasi Aswaja di kalangan nahdliyyin. Dalam kegiatan tersebut tak jarang juga diundang tokoh-tokoh salafi. Dari proses dan hasil perdebatan inilah buku ini kemudian ditulis.<>

Sebagai alumnus pesantren yang sering terlibat dalam kegiatan bahtsul masa’il, dan kemudian di bawah bimbingan KH Muhyiddin Abdusshomad (Rais Syuriah PCNU Jember) mempelajari secara mendalam terutama tentang aspek aqidah ahlussunnah wal jama’ah bersama beberapa alumnus pesantren lainnya, ustadz Idrus, demikian ia biasa dipanggil, terlihat sangat matang memaparkan hujjah-hujjah naqliyah dan aqliyah serta cita rasa gaya pemaparan dan seni berdebat khas yang diungkapkan dalam buku ini.

Untuk membuat semakin berbobotnya buku ini, buku mungil berwarna putih dengan cover berlambang tali jagat ini  juga dilengkapi dengan kisah-kisah  dialog dan perdebatan para ulama ahlussunnah wal jama’ah dahulu dengan  kalangan ulama wahhabi. Misalnya antara Sayyid ‘Alwi bin Abbas al- Maliki al-Hasani (ayahanda sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) dengan Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di (guru Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin) di Masjidil Haram Makkah, dialog terbuka antara Syaikh as-Syanqithi dengan ulama Wahhabi tuna netra, dialog al-Hafidz Ahmad al-Ghumari di Makkah al-Mukarramah, perdebatan Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, dan dialog Syaikh Salim Ulwan dengan Syaikh Abdurrahman Dimasyqiyath di Australia. Juga disertakan beberapa kisah perdebatan yang dilakukan para ustadz muda teman penulis di kalangan nahdliyyin atau alumni pesantren.

Tujuan yang ingin dicapai penulis buku ini sebagai tergambar dalam kata pengantarnya adalah agar buku ini menjadi panduan dalam berdialog dan berdebat dengan kalangan Wahhabi yang dewasa ini menamakan dirinya Salafi. Tujuan itu agaknya tercermin dari judul buku yang mentasbihkan diri sebagai ‘buku pintar’. Sebuah pilihan judul yang menarik dan sesuai pula dengan muatannya.

Buku dengan tebal 171 halaman ini terdiri dari sepuluh (10) bab, yaitu: Ngalap Barokah, Allah Maha Suci, Bid’ah Hasanah, Otoritas Ulama, Bukan Ahlussunah , Menurut al-Syathibi, Istighasah dan Tawassul, Cerdas bermadzhab, tradisi yasinan, dan permasalahan tradisi.

Tercermin dari sistematika bab tersebut buku ini antara lain memberikan argumentasi meyakinkan tentang adanya bid’ah hasanah, tradisi tahlilan dan yasinan, talqin, pembacaan ushalli, ngalap berkah, tawassul, keberadaan ta’wil semenjak ulama salaf, otoritas ulama dan lain sebagainya. Disinggung pula walau sekilas kritik terhadap ajaran Rafidah atau Syi’ah, terkait posisi aliran ini yang mengkritisi berlebihan para sahabat.

Bahkan dalam beberapa bab disinggung pendapat para ulama yang dihormati dan biasa dikutip ulama wahhabi, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taymiah, al-Hafidz Ibnu Katsir, Ibnu Qayyim, dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, namun justru menguatkan dalil golongan mayoritas ahlussunnah wal jama’ah. Misalnya, pendapat Ibnu Taymiyah tentang talqin berikut ini. (Lihat hal. 166)

“Talqin yang tersebut ini (talqin setelah mayit dikuburkan) telah diriwayatkan dari segolongan sahabat bahwa mereka memerintahkannya seperti Abi Umamah al-Bahili serta beberapa sahabat lainnya, oleh karena ini al-Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama lain mengatakan bahwa sesungguhnya talqin mayit ini tidak apa-apa untuk diamalkan…” (Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyah, juz 1, hal. 242)

Karena berisi serial dialog dan dan perdebatan-perdebatan, maka kadang klasifikasi atau sistematika bab yang dicoba penulis tidak dapat terpahami dengan segera sebelum membaca subbabnya. Misalnya dalam bab bukan ahlussunnah, disusuli dengan subbab mereka golongan khawarij yang mendeskripsikan bahwa wahhabi bukan bagian dari Sunni, tetapi Khawarij, karena menganut ajaran takfir al-mukhalif dan istihlal dima’ al-mukhalifin (hal. 69-70). Untuk meyakinkan pembaca bahwa wahhabi bagian dari khawarij, penulis membeberkan pendapat beberapa ulama otoritatif sunni semacam Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Amin Affandi (Ibnu Abidin), dan Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Shawi (penulis tafsir al-Shawi Hasyiah tafsir al-Jalalain). Penjelasan bahwa wahhabi tergolong khawarij ini  dimulai pada halaman 69 hingga 87.

Sebagai buku penting yang membekali cara berdebat dengan kalangan salafi wahhabi, secara mantap buku ini juga mengulas ciri-ciri aliran bid’ah dan dhalalah menurut pandangan Imam as-Syatibi dalam kitab al-I’tisham. Ciri-ciri yang secara umum dapat dikenali dari ahli bid’ah ini adalah, terjadinya perpecahan dan perceraiberaian pendapat di kalangan internal aliran, berikutnya, gemar mengikuti teks mutasyabihat, kemudian, mengikuti hawa nafsu, menghujat generasi ulama salaf dan terakhir mereka sulit diajak berdialog. 

Namun, dalam konteks pluralitas aliran dalam Islam, dan secara luas kenyataan pluralitas agama di Indonesia, buku ini harus dibaca dengan semangat sekedar mempertahankan ajaran internal ahlussunnah walj amaa’ah an-nahdliyyah (meminjam istilah aswaja di internal Nahdlatul Ulama). Katakanlah, buku ini semacam hak jawab internal kaum nahdliyyin atau golongan mayoritas umat Islam terkait kritik yang selama ini disematkan kaum salafi terhadap kaum sarungan ini. Bukankah perbedaan pendapat di antara umat Islam itu adalah rahmat, sebagaimana dinyatakan Imam al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr al-Shiddiq, “Perbedaan pendapat di kalangan  sahabat Nabi Muhammad merupakan rahmat bagi manusia”. Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga berkata, “Aku tidak gembira seandainya para sahabat Nabi Muhammad tidak berbeda pendapat. Karena seandainya mereka tidak berbeda pendapat, tentu tidak ada kemurahan dalam agama”. (hal. 67-68).

Akhir kata, buku ini terbukti telah mendapat sambutan yang hangat dari para peserta ketika diperkenalkan dalam acara Daurah Aswaja PWNU Jawa Timur yang diikuti Pengurus Syuriah PCNU se-Jawa Timur pada 17- 19 Desember 2010 lalu di Islamic Centre Surabaya. Karenanya, buku ini layak diapresiasi oleh kalangan nahdliyyin dan umat Islam, karena di samping dapat dianggap sebagai buku panduan pertama yang memakai metode tanya jawab dan dialog untuk mempertahankan dan membentengi  ajaran ahlussunnah wal jama’ah yang dalam akidah menganut pada Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi, buku ini ditulis oleh seorang aktivis Aswaja yang benar-benar terlibat langsung dalam perdebatan untuk mempertahankan benteng madzhab mayoritas ummat Islam di dunia. Akhirnya, selamat membaca!

*Pengajar di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif  Denanyar Jombang  Jawa Timur, Mahasiswa S-2 Jurusan PAI Akidah Akhlak  IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Senin 3 Januari 2011 8:51 WIB
Gairah Entrepreneurship Pesantren
Gairah Entrepreneurship Pesantren
Judul Buku: Entrepreneurship Kaum Sarungan
Penulis: Dr. Jazim Hamidi, S.H.,M.H. & Mustafa Lutfi S.H., M.H.
Penerbit: Khalifa, Jakarta
Terbit: April 2010
Tebal: 292 Halaman
Peresensi: Abdul Halim Fathani*)

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan pesantren di tengah-tengah masyarakat mempunyai makna strategis. Pesantren yang telah –lama– mengakar di masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, merupakan modal kekuatan dalam membangkitkan semangat dan gairah masyarakat untuk meraih kemajuan dalam hidupnya. Menghadapi era globalisasi yang berdampak pada perubahan di pelbagai aspek, kiranya perlu menelisik peran pondok pesantren dalam “menyambut” dan “mengapresiasi” gejala modernisasi yang melanda masyarakat.<>

Modernisasi merupakan proses transformasi yang tidak mungkin dapat dihindari, dan karena itu semua kelompok masyarakat termasuk masyarakat pesantren harus siap menghadapi dan perlu menanggapi arus modernisasi secara kritis namun terbuka. Indegenousitas pesantren kontras berbeda dengan praktik pendidikan pada lembaga pendidikan lainnya, sehingga dinamika sekaligus problematika yang muncul kemudian, juga menampilkan watak yang khas dan eksotik.

Di era globalisasi sekarang ini, fenomena globalisasi yang begitu cepat membawa implikasi akselerasi dalam pelbagai aspek, yang merupakan jawaban atas penerapan teknologi tinggi. Dalam fase inilah, pesantren semakin menghadapi tantangan yang tidak ringan dan lebih kompleks ketimbang periode waktu sebelumnya, sehingga pesantren dituntut dapat menunjukkan eksistensinya dapat diakui oleh pihak manapun, termasuk membangun- kembangkan mental entrepreneur.

Pesantren dengan pelbagai kelebihan dan kelemahannya –diakui atau tidak– memiliki potensi kemandirian yang patut dicontoh oleh lembaga maupun institusi pendidikan lain. Pesantren lahir bukan untuk kepentingan komersialiasasi pendidikan dan orientasi bisnis oleh pendirinya. Tetapi, pesantren dan kaum sarungannya selalu istiqamah berikhtiar untuk menopang kehidupan yang berorientasi pada fi al-dunya hasanah dan fi al-akhirati hasanah. Di sisi lain, tradisi dan eksistensi pesantren yang dikembangkan merupakan penjelmaan nilai-nilai Islam yang dianut sebagai implementasi dari hablun min al-naas dan hablun min Allah.

Dalam perspektif lain, eksistensi pesantren bukan semata lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan, melainkan juga dapat menjadi pusat penggerak ekonomi (baca: mental entrepreneurship) bagi masyarakat pedesaan. Dalam sejarah perkembangannya, pesantren telah berhasil menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan kepada para santri yang kemudian menjadi pengusaha-pengusaha pribumi.

Etos kewirausahaan pesantren terbentuk dengan merujuk pada ajaran Islam sebagai pijakan dan kata kunci. Al-Quran dan Hadits mengandung banyak doktrin maupun keteladanan untuk melakukan kegiatan berwirausaha yang baik. Oleh karenanya, merupakan keniscayaan bagi pesantren untuk dapat melahirkan entrepreneurship yang dapat mengisi lapisan-lapisan usaha kecil dan menengah yang handal dan mandiri yang memegang teguh nilai-nilai islami.

Upaya mengembangkan entrepreneurship di pendidikan pesantren merupakan suatu keniscayaan. Pendidikan pesantren dituntut untuk mampu melahirkan individu-individu yang memiliki kreativitas, berani, dan mampu belajar sepanjang hayat. Dengan tumbuhnya jiwa entrepreneurship pada generasi muda (baca: kaum santri), mereka tidak lagi terfokus menjadi generasi pencari kerja semata yang justru menghasilkan banyak pengangguran terdidik “yang bersarung”. Pendidikan entrepreneurship di pesantren diharapkan mampu memberi bekal agar lulusannya menjadi kreatif melihat peluang berusaha dan mengatasi pelbagai permasalahan yang dihadapinya.

Buku yang ditulis oleh saudara Jazim Hamidi dan Mustafa Lutfi, ini memiliki kontribusi riil dan energi positif terhadap gairah entrepreneurship di pesantren Secara umum buku ini tidak hanya mengupas persoalan-persoalan yang fundamental, sesekali juga membahas persoalan filosofis, teoretis, dan juga pragmatis terkait dengan keberadaan dan fungsi kaum santri dalam mengembangkan entrepreneurship di pesantren.

Kelebihan lain dari buku ini adalah substansi yang sarat akan muatan filosofis tapi penulis telah mampu mengungkap dalam bahasa yang lugas, sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca pada segala lapisan masyarakat dan selamat membaca. [ahf]

Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang
Senin 27 Desember 2010 12:18 WIB
Mendialogkan Toleransi dan Perdamaian
Mendialogkan Toleransi dan Perdamaian
Judul: Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian
Penulis: KH. Abdurrahman Wahid & Daisaku Ikeda
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Penyunting: The Wahid Institute & Soka Gakkai Indonesia
Tebal: xxvii + 310 halaman
Peresensi: Nur Huda*


Buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian ini merupakan karya terakhir alamarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sebuah buku yang berisi dialog inspiratif antara Gus Dur dengan tokoh besar asal Jepang Dr Daisaku Ikeda yang juga merupakan Presiden Soka Gakkai International saat ini.<>

Pemikiran dua tokoh besar dalam buku ini, berasal dari dua kebudayaan berbeda, Indonesia dan Jepang, sekaligus dua agama besar dunia: Islam dan Buddha. Isi dialog mengenai pelbagai persoalan dunia, mulai dari persahabatan dan pertalian kebudayaan antara Indonesia dan Jepang, toleransi antarumat beragama, pendidikan, hak asasi manusia, hingga tantangan-tantangan dunia pada masa depan.

Membaca buku setebal 310 halaman ini, akan membawa kesimpulan pada pembacanya bahwa kedua tokoh ini memiliki pemahaman dan wawasan yang amat luas. Tak hanya menyangkut kebudayaan Jepang-Indonesia, asal negara keduanya, tapi juga negara-negara di dunia. Di buku itu mereka membicarakan hal yang mungkin dianggap remeh temeh hingga perkara besar seperti wacana membangun peradaban dan perdamaian dunia.

Sebagai pembaca saya terheran-heran ketika mereka membicarakan mengenai bunga dan kembang yang tumbuh di Jepang dan Indonesa. Dari bunga mereka bicara filosofi di baliknya. Kata Daisaku, "Indonesia memiliki banyak jenis bunga seperti kembang sepatu, bougenvil, katleya, wijayakusuma dan raflesia". Gus Dur menimpali, "Di Indonesia bunga flamboyan adalah bunga yang dijadikan sebagai tanda akan menjelang masuknya musim hujan. Saat flamboyan berwarna merah berkembang adalah puncak hari-hari paling yang panas. Saat bunganya berguguran dan tersisa daun-daun berarti mulai masuk musim hujan. Kalau di Jepang, saat bunga sakura berkembang menandakan akan datangnya musim semi, bukan?"

Ikeda menimpali lagi. "Bunga Sakura adalah bunga kenegeraan Jepang. Bunga kenegaraan Indonesia adalah bunga melati, bukan?" Kepada Ikeda, Gus Dur juga menceritakan sejak kecil ia amat menyukai bunga melati. Seperti sering ia dengar, bunga itu bunganya para wali.

Setelah bicara bunga, keduanya lantas bicara musik. Ternyata keduanya punya kesamaan hobi: sama-sama menyukai karya Beethoven Simfoni No. 9 yang dianggap mencerminkan kehidupan penciptanya yang penuh perubahan dan perjuangan keras.

Sebelumnya, seperti disinggung Dewa S. Brata dalam sambutan, melalui pembicaraan Beethoven itu Gus Dur mengungkapkan sesuatu yang ironi tapi penuh makna. Ikeda bertanya pada Gus Dur, "Apakah Gus Dur pernah memendam rasa kecewa dan kesal karena dikhianati?". Dengan santai Gus Dur menjawab. "Terlalu sering dikhianati sehingga tidak merasakannya sebagai tantangan. Nanti akan ada hikmah dari tiap kali terjadinya pengkhianatan itu. Saat saya mengundurkan diri dari jabatan sebagai presiden bulan Juli 2001, saya berjanji akan bekerja untuk demokrasi yang lebih baik. Saat itu saya juga tidak menyesal. Satu-satunya hal yang menyedihkan bagi saya adalah kehilangan beberapa pita kaset musik Ludwig van Beethoven yang secara khusus telah saya koleksi." Gus Dur tertawa. Saat Dewa S. Brata menceritakan itu kembali di sambutannya, sebagian besar peserta tertawa diiringi tempik sorak.

Buku ini terdiri dari tujuh bab: Perdamaian Merupakan Misi Agama, Persahabatan sebagai Jembatan Dunia, Perjuangan dan Pencarian di Masa Remaja, Tantangan Menuju Abad Hak Azasi manusia, Persahabatan Antarbudaya sebagai Sumber Kreativitas, Belajar Toleransi dari Sejarah Islam dan Buddha, Pendidikan Pilar Emas Masa Depan, dan Membuka Zaman Baru. Diberi kata sambutan empat tokoh: Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, Gumilar Rusliwa Somantri, dan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj.

Dialog yang ada di buku ini sendiri sebetulnya merupakan seri dialog yang diterbitkan sejak 2009 secara berseri di majalah Ushio, majalah bulanan Jepang bertiras 400 ribu eksemplar. Sejak September 2010 dialog itu lalu diterbitkan dalam bahasa Jepang dan telah terjual lebih dari 200 ribu eksemplar

Buku ini juga bisa menjadi satu titik kerja penting masyarakat Indonesia dalam melakukan dialog antaragama, antarbudaya, khususnya yang terjadi di dua negara yakni Indonesia dan Jepang.

Dialog dalam buku ini tak lain demi menciptakan toleransi dan perdamaian dunia. Karena, dialog antara kedua tokoh ini memberikan banyak perspektif baru tentang aspek-aspek commonality di antara kedua agama yang sangat penting dalam membangun perdamaian global. Karena itu, dialog di antara kedua tokoh ini selain sangat bermanfaat bagi para penganut kedua agama, juga bagi masyarakat dunia secara keseluruhan, yang hingga kini terus merindukan perdamaian di muka bumi ini.

Berbagai dialog antara Daisaku Ikeda dan KH Abdurrahman Wahid dalam buku ini menunjukkan betapa melalui perjumpaan konkret dua penganut agama berbeda dapat ditemukan persamaan untuk melangkah menuju perdamaian abadi. Perdamaian bukanlah kondisi faktual yang kita terima begitu saja. Perdamaian adalah harapan yang harus diperjuangkan semua pihak.

*Pengajar di Pesantren Al-Hidayah An-Nuriyyah Honggosoco, Jekulo Kudus Jawa Tengah
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG