IMG-LOGO
Warta
GUS DUR WALI (8)

Habib Lutfi: Gus Dur Orang Saleh

Senin 28 Februari 2011 14:50 WIB
Bagikan:
Habib Lutfi: Gus Dur Orang Saleh
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Jamiyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah Habib Lutfi bin Yahya mengaku tidak bisa menyimpulkan apakah Gus Dur wali atau bukan, tetapi ia yakin Gus Dur orang yang sholeh.

“Yang tahu wali hanya wali dan saya husnudhon billah beliau orang yang sholeh,” katanya seusai memberi tausiyah Maulid Nabi yang diselenggarakan Ansor NU Kamis (17/2) malam lalu.<>

Ia menjelaskan, kesalehan atau kewalian seseorang tidak bisa diukur atau dibandingkan layaknya emas berapa karat.

“Sholeh ya sholeh, kesalehan seseorang tidak bisa kita ukur, apalagi keauliaan. Tinggal prasangka baik kita, apalagi Gus Dur yang sudah berbuat untuk umat ini, untuk bangsa ini,” tandasnya.

Bagi banyak orang, Habib Lutfi sendiri dianggap sebagai wali, entah benar atau salah, tetapi dalam setiap pengajian yang dihadirinya, massa selalu berusaha memberi hormat kepadanya dengan mencium tangannya.

Dalam Munas Jatman yang dihadiri oleh Presiden SBY, yang berlangsung Juni, 2008 lalu di Asrama Haji Pondok Gede, para tukang foto mengeluh jualannya tidak laku untuk pose-pose yang berdampingan dengan Presiden sebagaimana biasanya. Para peserta ternyata lebih memilih berfoto bersama Habib Lutfi. Ia lebih dihormati daripada pejabat tertinggi negara. (mkf)
Bagikan:
Senin 28 Februari 2011 20:30 WIB
Menag: Ulama Wajib Jaga Citra Islam yang Damai
Menag: Ulama Wajib Jaga Citra Islam yang Damai
Tasikmalaya, NU Online
Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menegaskan jika para ulama wajib menjaga citra Islam yang baik, yang damai, yang mengayomi seluruh anak bangsa ini karena Islam itu pada prinsipnya berkewajiban menjadikan ajarannya untuk rahmatan lilalamiin.

“Itu penting karena akhir-akhir ini Islam mendapat citra buruk. Dunia memberi pencitraan buruk terharap umat Islam dengan beragam stigma; seperti Islam teroris, aliran keras, melanggar HAM, dan tak punya toleransi dalam kehidupan pluralistik, “ tandas Suryadharma Ali ketika meresmikan Masjid Baiturahman di Kabupaten Tasikmalaya, Senin (28/2).

<> Islam dicitrakan buruk. Bahkan katanya, lebih dari itu, bahwa umat Islam tak bisa hidup dalam toleransi dengan agama lain. Padahal, faktanya umat Islam mampu hidup dengan umat beragama lain.

Islam adalah pembawa rahmatulilalamin. Pembawa rahmat bagi seluruh umat. Ia melihat ada pihak yang ingin merusak aqidah Islam dengan pencitraan buruk tersebut.

Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab para ulama untuk meluruskan semua hal itu bahwa sejatinya umat Islam mampu hidup bertoleransi dalam kemajemukan dan mampu menjaga tata krama dan etika dalam pergaulan kehidupan sehari-hari.

Ia berharap, kehadiran masjid megah di Tasikmalaya dan daerah lain akan dapat menjadi inspirasi untuk mendorong umat Islam di kawasan itu untuk menjaga kehidupan toleransi, menjaga lingkungan hidup, dan peningkatan ketaqwaan kepada Allah.

"Makmurkan masjid ini.  Juga agar ulama di sini menjaga putra-puterinya dari degradasi moral ahklak. Untuk menjaga itu, diharapkan kegiatan program magrib mengaji ditingkatkan," Suryadharma Ali berharap.

Selain itu menjaga umat Islam dari tindakan anarkis, karena belakangan ini umat bagaikan rumput kering yang mudah terbakar akibat sesuatu hal. "Ini merupakan tanggung jawab para ulama dan kita semua," ujar Menag.(amf/ant)
Senin 28 Februari 2011 19:30 WIB
Yenny Khawatir Makam Gus Dur Tetap Ambles
Yenny Khawatir Makam Gus Dur Tetap Ambles
Jakarta, NU Online
Putri kedua mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid tetap khawatir dengan makam ayahnya di dalam Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim itu tetap akan ambles akibat derasnya hujan yang terus mengguyur Jombang dan sekitarnya tersebut.
Mengapa? Menurut Yenny Wahid, karena meski telah diuruk dengan tanah dan pasir yang ada, tetap saja kondisi tanah makam itu tidak padat, karena tidak ada yang berni menginjak-injak dengan kaki atau memadatkan dengan alat berat yang lain. Tapi,makam Gus Dur itu tetap akan seperti sekarang ini sampai 1000 hari atau tiga tahun sejak dimakamkan.

"Jadi, setelah tanah makam bapak ambl<>es beberapa waktu lalu, namun kondisinya tetap mengkhawatirkan  karena tidak padat. Masyarakat dan santri tidak berani memadatkan dengan kaki dan alat berat lainnya," tutur Yenny yang terpilih sebagai Ketua Umum PKB Gus Dur  pada akhir Desember 2010 lalu pada Muktamar III PKB di Surabaya, seusai diskusi kebangsaan di The Wahid Institute, Jakarta, Senin (28/2)

Yang pasti lanjut Yenny, pihak keluarga sudah menyiapkan tanah dan pasir di sekitar makam. Dan menilai amblesnya makam Gus Dur juga hal yang wajar karena musim hujan. Bukan karena mistis atau sebagainya. "Wajar saja. Kita diskusi dengan ahli makam. Katanya sampai 1.000 hari seperti itu," ungkap Yenny lagi.

Menyinggung soal dana makam, Yenny menegaskan kalau dana yang digelontorkan pemerintah sebesar Rp 180 miliar itu bukan digunakan untuk memugar makam saja.

"Karena itu saya perlu klarifikasi kalau uang Rp 180 miliar itu tidak dipakai untuk memugar makam saja, mungkin pembangunan yang lain di sekitar pesantren. Saya tidak tahu untuk apa tapi yang jelas bukan untuk memugar makam,"  jelas Yenny. (amf)
Senin 28 Februari 2011 18:18 WIB
PBNU Gelar Haul KH Moenasir Ali dan HM Rozy Munir
PBNU Gelar Haul KH Moenasir Ali dan HM Rozy Munir
Jakarta, NU Online
Keteladanan yang ditunjukkan oleh almarhum KH Moenasir Ali dan kepandaian almarhum H.M. Rozy Munir dalam berorganisasi harus bisa menjadi contoh bagi generasi NU masa kini. Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj dalam Haul KH Moenasir Ali dan H.M. Rozy Munir di Gedung PBNU, 24 Februari yang lalu.

“Salah satu keberhasilan beliau adalah dalam mengorganisir International Conference of Islamic Scholars (ICIS) sehingga mendunia. Ini tentu harus bisa ditiru oleh kader-kader NU. Selain itu masih banyak lagi jasa Pak Rozy untuk PBNU,” terang Kang Said.
/>
Semasa hidupnya, almarhum Rozy Munir pernah menjabat sebagai Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara pada zaman Presiden Gus Dur, dan anggota Panwaslu Pusat.

Almarhum pernah menjabat sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, anggota Lembaga Sensor Film, anggota Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional, staf ahli Menteri Tenaga Kerja, dan Kepala Pusat Penelitian Pembangunan Infrastruktur UI.

Sementara itu, KH Tholhah Hasan juga menyampaikan tausiyah dan testimoninya di akhir acara. “Kiai Moenasir adalah kiai yang luwes, tenang, istiqamah. Bisa bergaul dengan semua kalangan dan selalu terbuka melindungi anak-anak muda NU. Dan sifat ini menurun pada putranya, Pak Rozy Munir,” kata Kiai Tholhah.

Bagi Kiai Tholhah, KH Moenasir Ali adalah salah satu dari tiga tokoh NU yang diidolakannya, yakni KH Wahid Hasyim, H.M. Subhan ZE, dan KH Moenasir. “Mungkin saya agak berbeda dengan yang lain, yang saya kagumi justru bukan Rais Am-nya,” terang Kiai Tholhah yang mengundang delak tawa hadirin.

Dalam haul yang diselenggarakan PBNU ini, hadir pula Prof. Prijono yang juga salah satu sahabat dekat H.M. Rozy Munir dan juga turut menyampaikan testimoninya. (bil)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG