IMG-LOGO
Warta
GUS DUR WALI (23)

Tuan Guru Turmudzi Uji Kewalian Gus Dur

Jumat 1 April 2011 8:49 WIB
Bagikan:
Tuan Guru Turmudzi Uji Kewalian Gus Dur
Yogyakarta, NU Online
Ulama terkemuka dari Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Turmudzi Badruddin merupakan sahabat Gus Dur, dan orang yang sangat mempercayai kewalian Gus Dur, bahkan, ia sempat menguji, apakah Gus Dur termasuk wali atau bukan.

Bagaimana ia menguji kewalian Gus Dur? Kisahnya bermula ketika Gus Dur meninggal dunia. Berita meninggalnya Gus Dur sekitar pukul 7 malam 30 Desember 2011 itu dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia dan seluruh masyarakat pun terkejut akan kejadian tersebut. />
Ia bersama dengan rombongan malam itu pun langsung mencari tiket untuk penerbangan esok hari ke Surabaya untuk mengikuti pemakaman Gus Dur di Jombang. Kebetulan sekali, tibanya pesawat jenazah Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan dari NTB hampir berbarengan.

Dengan pengawalan, jenazah Gus Dur bisa melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara ia mengikuti dari belakang rombongan tersebut.

Sayangnya, begitu memasuki Jombang mobil rombongan yang ditumpangi ketinggalan jauh dari mobil jenazah Gus Dur karena tumpah ruahnya para peziarah yang memasuki Jombang.

Kemacetan pun sangat parah, mobil-mobil semuanya menuju pesantren Tebuireng, untuk mengikuti prosesi pemakaman. Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun mengajak teman-temannya berdoa.

“Mari kita baca surat Alfatihah, jika Gus Dur benar-benar wali, maka kita akan diberi kemudahan,” katanya ketika berbincang dengan NU Online disela-sela rapat pleno PBNU di kompleks pesantren Krapyak Yogyakarta.

Tiba-tiba saja, terdapat motor pengawalan (forider), yang memintanya untuk cepat-cepat bergerak sehingga ia dengan lancar dapat memasuki kompleks pesantren dengan gampang dan setelah itu, motor pengawal tersebut pun menghilang. (mkf)
Bagikan:
Jumat 1 April 2011 21:7 WIB
Maulid Diba' Pengantar Pentas Kiai Kanjeng
Maulid Diba' Pengantar Pentas Kiai Kanjeng
Pekalongan, NU Online
Tak seperti biasanya, hari jadi kota Pekalongan yang ke 105 yang jatuh tanggal 1 April 2011 dimeriahkan gambang sholawat Kiai Kanjeng dari Yogyakarta. Jika pada tahun-tahun sebelumnya cukup dengan menggelar istighotsah sebelum acara kirab dimulai, tahun ini kegiatan peringatan hari jadi dibuat lebih meriah.

Kehadiran Cak Nun bersama Kiai Kanjengnya diharapkan mampu memberikan hiburan masyarakat kota Pekalongan dengan klaimnya sebagai kota religius. Meski tak secara langsung mengakuinya, urutan urutan tampilan Cak Nun bersama kawan kawanya di atas panggung semuanya bernuansa ajaran ahlussunnah wal jama'ah, toh tak membuat mereka yang anti aswaja merasa tersinggung.<>

Lantunan bacaan maulid diba' sebagai pembuka penampilan Cak Nun dilanjutkan dengan pembacaan asyrokol disertai berdiri membuat seluruh pengunjung harus ikut berdiri bersama Cak Nun yang diiringi musik terbang. Kemudian dilanjutkan dengan senandung sidanan nabi, ya rasulalloh dan beberapa senandung maulid yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kota Pekalongan yang terbiasa dengan kegiatan maulid barzanji, diba' atau simtud duror.

Sebelum acara dilanjutkan, Cak Nun dihadapan ribuan pengunjung mengatakan, apa yang baru saja dilakukan merupakan wujud kecintaan dirinya kepada Allah dan Rasulullah, bukan karena dirinya pengikut NU atau anti Muhammadiyah. Pasalnya, di zaman Rasulullah, Rasulullah sendiri belum kenal dengan NU dan Muhammadiyah, ujarnya disambut "ger" pengunjung.

Dikatakan, dirinya melakukan hal itu di setiap pentasnya, sebagai upaya untuk dekat dengan Rasulullah, apalagi kota Pekalongan merupakan "gudangnya" habaib dan kiai, tentu saja ritual yang telah dia lakukan tidak asing lagi.

Menurut Cak Nun nama lengkap dari Emha Ainun Najib, kita ummat Islam jangan lagi mempersoalkan masalah bid'ah, "Itu masalah yang terlalu kecil untuk diperdebatkan," ujarnya, yang terpenting bagaimana mengatasi persoalan bangsa dengan cara kita, karena kita ini bangsa besar dan terhebat di dunia, kita tidak perlu takut apalagi minder dan saatnya kita harus bangkit menghadapi dunia, ujarnya dengan berapi api.

Acara yang berlangsung hingga pukul 23.30 wib tadi malam (31/3) di lapangan Mataram depan kantor Pemerintah Kota Pekalongan dihadiri seluruh elemen masyarakat, kiai, habaib, tokoh masyarakat hingga rakyat jelata duduk lesehan sebagai ajang kreasi budaya yang bernafaskan islami, diharapkan menjadi media hiburan di saat Kota Pekalongan memperingati hari jadinya yang ke 105.

Masyarakat banyak berharap di hari jadi kota Pekalongan ini, agar pemerintah lebih peduli kepada kaum dzuafa', bukan hanya dalam ucapan saja, akan tetapi juga tindakan riil khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang dirasakan semakin berat bagi masyarakat yang kurang mampu. (iz)
Jumat 1 April 2011 20:3 WIB
Haramkan Tari Poco-Poco Warga Malaysia Protes
Haramkan Tari Poco-Poco Warga Malaysia Protes
Petaling Jaya, NU Online
Tari atau joget Poco-poco asal Indonesia yang sedang trend di Malaysia, difatwa haram oleh sebagian  ulama negara bagian Perak, Malaysia. Namun fatwa itu diprotes dan akhirnya dibela oleh Wakil Menteri Datuk Dr Mashitah Ibrahim yang menegaskan bahwa Jakim (majelis ulama) tidak seharusnya mengharamkan Poco-poco.

“Sebab, tidak ada laporan dari warga Malaysia, kalau tarian asal Indonesia itu melanggar syariat Islam. Tariannya juga berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Mungkin jadi masalah di Perak, tapi tidak di negara bagian lain, karena hal itu dianggap senam," kata Mashitah seperti dilansir The Star, Jumat (1/4).
<>
Menurut Mashitah, fatwa haram ini bukan keputusan ulama se-Malaysia. Kenapa ulama di Perak mengharamkan poco-poco? Mufti Perak Tan Sri Harussani Zakaria yang mengumumkan pengharaman itu beralasan karena Poco-poco mengandung elemen agama Kristiani dan bahkan pemujaan arwah.

Padahal, Poco-poco sedang trend di seantero Malaysia. Semua elemen masyarakat berjoget Poco-poco. Aparat Polisi Diraja Malaysia, petugas National Service, guru, murid, selebriti bahkan politisi, semua sedang asyik bergoyang Poco-poco.

Mantan Mufti Perlin Dr Mohd Asri Zainul Abidin juga berpendapat tidak ada alasan rasional melarang Poco-poco jika alasannya untuk kesehatan tanpa elemen alkohol atau seks bebas. "Pendapat saya, Poco-poco bisa diterima, kecuali tujuannya memaksakan suatu kepercayaan yang tidak sesuai keimanan seseorang," katanya.

Ketua Pemuda Barisan Nasional, sayap pemuda koalisi partai berkuasa di Malaysia, Khairy Jamaluddin juga membela Poco-poco. Menurutnya, orang Malaysia pun tidak merasa kalau seandainya ada unsur-unsur yang ditudingkan ulama Perak seperti pemujaan arwah dan unsur agama lain.

Bahkan Khalid Samad, anggota biro politik pusat partai PAS, yang sangat keras terhadap penegakkan syariat, juga menganggap konyol alasan pengharaman Poco-poco. "Orang kan melakukan itu untuk olah raga tanpa unsur keagamaan di belakangnya," ujarnya.

Organisasi perempuan Malaysia, Sisters in Islam pun turut menyesalkan penggunaan fatwa sembarangan itu. "Kami mendesak komisi fatwa di semua negara bagian untuk melakukan riset mendalam dan berkonsultasi dengan segala pandangan sebelum mengeluarkan fatwa, daripada mengandalkan informasi yang bisa bias atau salah," kata manajer riset dan publikasi Sisters in Islam, Yasmin Masidi.(amf)
Jumat 1 April 2011 19:0 WIB
Gerakan Pendampingan Nahdliyyin Center Pekalongan dapat Apresiasi
Gerakan Pendampingan Nahdliyyin Center Pekalongan dapat Apresiasi
Semarang, NU Online
Gerakan pendampingan yang dilakukan Nahdliyyin Center Kota (NC) Pekalongan kepada warga yang kurang mampu khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi menarik dan mendapat apresiasi peserta Semiloka Refleksi, Evaluasi dan Implementasi Peraturan Daerah Jateng Nomor 10 tahun 2009 tentang Jamkesda.

Kegiatan yang diikuti oleh utusan dari Kota Pekalongan, Kota Surakarta, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal dan Rembang berlangsung selama dua hari (30-31/3) di Hotel Pondok Serita Semarang.<>

Dari Kota Pekalongan sendiri dihadiri oleh dua orang dari NC, Dinas Kesehatan dan Lapkesdam mendapat kesempatan memaparkan pengalaman kerja riil di lapangan bagaimana membantu masyarakat yang kurang mampu tidak bisa berobat gratis karena tidak memiliki kartu Jamkesda atau Jamkesmas.

Menurut Abdul Basir, SH., Apa yang telah dilakukan NC Kota Pekalongan belum pernah dilakukan oleh daerah lain apalagi hingga pendampingan kepada masyarakat. Jika selama ini hanya sebatas pemberdayaan kepada para pelaku di lapangan, NC Kota Pekalongan telah selangkah lebih maju hingga kegiatan pendampingan kepada masyarakat.

Dikatakan, paparan kegiatan yang dilakukan oleh NC Pekalongan mendapat sambutan yang positif hingga mengundang diskusi atas berbagai hal termasuk langkah awal dalam hal fasilitasi Jamkesda untuk warga miskin.

NC Kota Pekalongan yang diwakil Abdul Basir, SH dan Asrori di acara semiloka yang difasilitasi Kelompok Kerja Pemberdayaan Ummat Untuk Transparansi dan Kebijakan Publik (PUTKP) PWNU Jawa Tengah merupakan langkah awal untuk mengetahui lebih konkrit tentang Peraturan Daerah yang telah dikeluarkan oleh Pemprov Jawa Tengah.

Langkah konkrit yang telah dibangun oleh PCNU Kota Pekalongan seperti pembentukan NC untuk kerja sosial merupakan upaya yang lebih strategis membangun kepercayaan masyarakat khususnya warga nahdliyyin kepada induk organisasinya yakni Nahdlatul Ulama.

Jika selama ini ada anggapan NU selalu menuntut apa yang bisa dilakukan warga nahdliyyin untuk NU, akan tetapi sekarang dibalik, apa yang bisa dilakukan NU untuk warga nahdliyyin, NU Kota Pekalongan melalui NC nya telah mampu membuktikan diri dalam bidang sosial membantu masyarakat miskin untuk melakukan pendampingan kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Bahkan untuk keperluan itu, secara khusus NC telah difasilitasi kendaraan operasional berupa mobil ambulan. (iz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG