Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kapolda Jatim: NII adalah Mimpi

Kapolda Jatim: NII adalah Mimpi

Jember, NU Online
Keinginan dari sekelompok orang untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) tak lebih dari sekedar mimpi. Pasalnya, Indonesia yang dihuni dua ratus juta lebih penduduk dengan beragam keyakinannya, sangat tidak masuk akal dipaksa menjadi negera Islam.

“Mereka itu ‘kan bermimpi seandainya Indonesia jadi negara Islam, tapi tidak bisa,” ujar Kapolda Jawa Timur, Untung S. Radjab ketika menyampaikan pemikirannya dalam acara Tatap Muka Kapolda Jatim dengan Pimpinan Universitas Jember di aula Kantor Pusat Universitas Jember, Kamis (12/5).
<>
Menurut Untung, kendati pun misalnya, mimpi itu menjadi kenyataan, tidak ada jaminan masyarakat Indonesia menjadi makmur. Persoalannya kompleks. Dijelaskannya, Indonesia dihuni oleh beragam pemeluk agama dan keyakinan, sehingga sangat sulit menemui kata rukun jika negara Islam didirikan.

“Jangankan antar orang berlianan agama, sesama umat Islam saja, sering terjadi keributan. Contoh kecil, soal lebaran saja sering tidak sama,” jelasnya.

Dikatakan Untung, Islam sendiri tidak mengenal Negara Islam. Nabi Muhammad SAW tidak memberikan konsep negara melainkan hanya menekankan pentingnya membangun akhlak. Dengan akhlak yang baik, tandasnya, otomatis konsep negara Islam dengan sendirinya sudah terbangun. Kalau tiap individu sudah mempunyai akhlak yang tinggi, baik kepada Allah, masyarakat dan sebagainya, maka “Negara Islam” secara nyata sudah ada.

“Setelah bilang Allahu akbar, lalu membakar rumah orang. Akhlaq Islam yang mana itu,” ungkapnya seraya menambahkan bahwa petinggi NII kerap merekrut mahasiswa yang pintar namun lemah secara ekonomi dijadikan kader dengan cara dicuci otaknya.

Untuk mengantisipasi kian merebaknya virus NII, pihaknya kerap memberikan pencerahan kepada pihak-pihak yang dianggap rawan menerima pesan dari NII.

Namun demikian, Untung mengaku sejauh ini pihaknya belum menemukan pelaku cuci otak dimaksud. “Belum kita temukan itu. Kalau misalnya ada yang menyebut nama, wong nama bisa berubah-ubah,” ulasnya.

Redaktur: Mukafi Niam
Kontributor: Aryudi A Razaq

BNI Mobile