IMG-LOGO
Opini

Kembali ke Semangat Awal Pendiri NU

Senin 6 Juni 2011 16:4 WIB
Bagikan:
Kembali ke Semangat Awal Pendiri NU

Oleh KH Abdul Nashir Fattah


Sesuai dengan hasil keputusan Muktamar NU ke-32 di Makassar Sulawesi Selatan bahwa, hari lahir Nahdlatul Ulama diperingati mengikuti penanggalan Hijriyah. Karena itu pada tahun ini peringatan hari lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama akan jatuh pada sekitar bulan Juni 2011, bertepatan dengan bulan Rajab 1432 H. Pada tahun ini NU telah berumur 87 tahun.
<>
Dalam perigatan Harlah kali ini, saya ingin merefleksikan”Belajar dari Awal Berdirinya Nahdlatul Ulama” sebagai upaya bagi kita semua, pengurus dan warga NU dalam merefleksikan dan mengkaji ulang tentang latar belakang kenapa NU didirikan. Disamping itu juga untuk melihat kembali apa dan bagaimana semangat para pendahulu kita atau para Masyayikh pendiri dan penggerak awal organisasi NU. Dari sini kita bisa melihat sejauh mana upaya-upaya yang dilakukan dalam menggerakkan NU dan sejauh mana kiprah NU dalam turut serta mendirikan Negara Republik Indonesia.

Ketika saya masih anak-anak, saya pernah mendengar petuah dari KH Tolhah Mansur (menantu KH Abdul Wahib Wahab) dalam suatu acara di Tambakberas. Beliau pernah mengatakan: Dulu orang masuk NU itu untuk menghidupi NU, bukan mencari penghidupan di NU. Hal ini sering saya sampaikan dengan bahasa: Dadio pengurus NU sing bener-benar NU, ojo dadi pengurus NU sing NU (nunut urip) ono Nggone NU (Jadilah pengurus NU yang benar-benar NU, jangan menjadi pengurus NU yang numpang hidup di NU). Perkataan ini jika dimaknai secara mudah bisa diartikan: ketika menjadi pengurus NU kita harus berprinsip ”apa yang bisa kita berikan ke NU, bukan apa yang bisa saya dapat dari NU”.

Namun, petuah yang dikatakan diatas mengandung makna yang cukup mendalam. Ketika kita menjadi pengurus NU harus dilakukan dengan sepenuh hati. Untuk melakukan sepenuh hati, bukan hanya pikiran dan tenaga yang dicurahkan, bahkan dukungan materi juga harus diberikan. Hal ini demi untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan secara bersama dalam organisasi NU. Tujuan tersebut tertuang dalam tujuan (visi) organisasi NU dan, bagaimana cara meraih visi tersebut tertuang dalam usahanya (misi-nya). Jika apa yang telah dilakukan sudah mengarah pada visi dan mengikuti rel misi tersebut, maka NU akan mengalami kemajuan. Karena dalam menentukan visi-misi tersebut para ulama melakukan secara seksama dan hati-hati.

Untuk menerjemahkan visi dan misi tersebut pengurus NU menyusun program. Dalam menjalankan program inilah kita membutuhkan pengorbanan, karena sesungguhnya perjuangan dalam NU itu adalah bagaimana kita berkorban untuk menjalankan program. Sejauhmana kita bisa menjalankan program tersebut dengan daya dan upaya kita, sejauh itulah perjuangan yang kita lakukan di NU.

Dalam menjalankan program tersebut, kita memiliki rambu-rambu yang telah diputuskan dalam Muktamar NU, agar dalam meraih visi tidak menyimpang dari ketentuan syari’at dan ketentuan dasar di negara Indonesia. Rambu-rambu yang selama ini tertuang dalam AD/ART serta peraturan teknis organisasi lainnya adalah tata cara organisasi yang harus dijalankan. Karena jika kita sudah menjalankan rambu-rambu tersebut, maka kita sudah berjalan dalam rel yang benar.

Itulah penjelasan yang dimaksud dalam dadio pengurus NU sing bener-bener NU. Sedangkan penjelasan petuah selanjutnya: ojo dadi pengurus NU sing NU (nunut urip) ono Nggone NU, saya kira berlawanan dengan penjelasan diatas. Jika kita menginginkan NU berjalan sesuai dengan visi awal NU, maka jangan sekali-kali berharap numpang hidup di NU. Seolah-olah tidak bisa hidup jika tidak menjadi pengurus NU. Hal ini mungkin karena sumber hidupnya tergantung pada kebesaran NU, sehingga NU betul-betul dimanfaatkan untuk kepentingannya sendiri, meskipun dengan alasan untuk kepentingan warga NU.

Petuah di atas ternyata juga pernah disampaikan oleh pediri NU, KH Wahab Chasbullah. Hal ini sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Kiai Affandi Indramayu, salah satu murid Kiai Wahab bahwa, Kiai Wahab pernah menyampaikan sebuah petuah: Urip-uripono NU, ojo nggolek panguripan ono NU (Hidupilah NU, jangan cari penghidupan di NU). Petuah ini memperkuat petuah yang disampaikan di atas, meskipun dengan bahasa yang berbeda. Petuah Kiai Wahab ini menunjukkan bahwa, semangat untuk selalu menghidupi NU dan tidak numpang hidup atau mencari hidup di NU, muncul sejak jam’iyah Islam terbesar di Indonesia ini didirikan.

Disamping semangat untuk menghidupi NU tersebut, semangat lain yang selalu tertanam dalam diri para pendahulu kita adalah semangat saling tolong menolong, dimana hubungan antar kiai ketika itu sangat dekat. Satu kiai ketika mendapatkan masalah, maka kiai yang lain akan membantu untuk turut menyelesaikan. Kalaupun ada ikhtilaf, bisa mejadi rahmat, karena itu tidak sampai menimbulkan permusuhan.

Hubungan saling tolong menolong inilah yang mengakibatkan organisasi NU bisa tumbuh pesat dan cepat berkembang di seluruh Indonesia. Para kiai yang seluruhnya adalah penganut madzhab empat dan sebagian besar adalah berguru kepada guru yang sama memiliki hubungan yang cukup erat. Karena itu ketika gagasan pendirian NU disampaikan, para ulama yang berada di seantero Indonesia dengan cepat bisa menerima dan ikut bergabung.

Dari semangat sing bener-bener NU atau semangat ”apa yang bisa kita berikan ke NU, bukan apa yang bisa kita dapat dari NU” dan semangat untuk saling membantu (ta’awun) dalam NU itulah yang melatarbelakangi para pendahulu dan masyayikh yang mendirikan serta berjuang agar NU bisa menjadi wadah bagi penganut ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Keikhlasan dan keberanian beliau-beliau dalam berjuang dan berkorban serta sikap saling membantu diantara mereka bisa kita rasakan sampai saat ini, dimana NU betul-betul menjadi organisasi besar.

Latar belakang kenapa para Ulama bisa menggerakkan dan menghidupi NU diatas bisa kita jadikan sebagai i’tibar bagi kita, bagaimana kita yang hidup di masa sekarang bisa selalu berupaya untuk menghidupi atau menggerakkan NU agar bisa menjadi wadah bagi Nahdliyin secara keseluruhan untuk mempertahankan ajaran Ahlussunah wal Jama’ah An Nahdliyyah, serta yang tidak kalah pentingnya adalah bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan kesosialan seluruh penganut Aswaja An Nahdliyyah.

Disamping itu, secara kebangsaan, semangat-semangat di atas bisa dijadikan sebagai i’tibar bagi kita untuk selalu mempertahankan Negara Republik Indonesia. Bagaimana kita sebagai warga NU bisa selalu menghidupi negara ini dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan negara, misalnya dengan melakukan korupsi, berusaha mengganti Pancasila dengan negara Islam dan lain-lain, serta dengan menjaga kesepakatan-kesepakatan ketika negara ini dibentuk.

Saat negara ini dibentuk, NU melalui para ulama salah satunya KH Wahid Hasyim sudah bersepekat bahwa, negara ini berdasarkan Pancasila dan berpedoman pada Bhineka Tunggal Ika. NU bersepakat untuk menerima dasar dan pedoman ini, sudah melalui kajian yang cukup mendalam. Ketika kita sudah bersepakat dengan dasar dan pedoman tersebut, maka kita harus mentaatinya, kalau tidak kita melakukan tindakan bughot yang sangat dilarang oleh ajaran Islam. Sedangkan kita sebagai pengikut para ulama yang telah bersepakat dengan dasar dan pedoman negara ini, maka kita harus mengikuti pendapat para ulama pendahulu kita.

Peran serta NU yang besar dalam mendirikan negara ini menunjukkan bahwa, NU merupakan salah satu pemilik saham bagi berdirinya Negara Republik Indonesia. Meskipun saat ini, sebagai pemilik saham terbesar bagi negara ini, warga NU sebagian besar masih belum bisa hidup sejahtera. Namun, melalui i’tibar di atas kita sebagai warga NU tetap berada di garis depan dalam mempertahankan Negara Republik Indonesia. Karena itu, jika ada anak bangsa lain yang belum memiliki kesadaran dengan sejarah tersebut, dan berusaha melakukan tindakan-tindakan radikalisme yang merugikan negara ini, maka NU akan berdiri di depan untuk menjaga negara ini, dengan tetap selalu berpedoman pada prinsip kemasyarakatannya: tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan ta’adul (adil). Selamat ber-Harlah kepada NU, semoga bisa terus menjaga keutuhan bangsa dan negara ini.

* Rais syuriyah PCNU Jombang

Bagikan:
Rabu 1 Juni 2011 12:12 WIB
Pancasila Masih Layak Jadi Ideologi Negera
Pancasila Masih Layak Jadi Ideologi Negera

Oleh Moh. Safrudin, S.Ag, M.PdI


Tanggal 1 Juni merupakan awal lahirnya Pancasila yang menjadi sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah Pancasila masih layak digunakan sebagai Ideologi bangsa? Dan apakah masih layak Pancasila dijadikan sebagai sebagai pemersatu bangsa Indonesia?. Akhir-akhir ini muncul kesadaran baru tentang betapa pentingnya Pancasila digelorakan lagi, yang sudah beberapa lama seperti dilupakan. Sejak memasuki masa reformasi, maka apa saja yang  berbau orde baru boleh dibuang dan atau dijauhi. Reformasi seolah-olah mengharuskan semua tatanan kehidupan termasuk ideologinya agar supaya diubah, menjadi Ideologi reformasi. Siapapun kalau masih berpegang pandangan lama, semisal Pancasila, maka dianggap tidak mengikuti zaman.
<>
Pancasila pada orde baru dijadikan sebagai tema sentral dalam menggerakkan seluruh komponen bangsa ini. Maka dirumuskanlah ketika itu  Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau disinghkat dengan P4. Pedoman itu  berupa butir-butir pedoman berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai yang ada pada butir-butir P4  tersebut sebenarnya tidak ada sedikitpun yang buruk atau ganjil, oleh karena itu, menjadi mudah diterima oleh seluruh bangsa Indonesia.

Hanya saja tatkala memasuki era reformasi, oleh karena pencetus P4 tersebut adalah orang yang tidak disukai, maka buah pikirannya pun dipandang harus dibuang, sekalipun baik. P4 dianggap tidak ada gunanya. Rumusan P4 dianggap sebagai alat untuk memperteguh kekuasaan. Oleh karena itu, ketika penguasa yang bersangkutan jatuh, maka semua pemikiran dan pandangannya  dianggap tidak ada gunanya lagi, kemudian ditinggalkan.

Sementara itu, era reformasi belum berhasil melahirkan Ideologi pemersatu bangsa yang baru. Pada saat itu semangatnya adalah memperbaiki pemerintahan yang dianggap korup, menyimpang,  dan otoriter, dan  kemudian harus diganti dengan semangat demokratis. Pemerintah harus berubah dan bahkan Undang-Undang Dasar 1945 harus diamandemen. Beberapa hal yang masih dianggap sebagai identitas bangsa, dan harus dipertahankan adalah bendera merah putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan lambang Burung Garuda. Lima prinsip dasar yang mengandung nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa dan bernegara, yang selanjutnya disebut Pancasila, tidak terdengar lagi, dan apalagi P4.      

Namun setelah melewati sekian lama masa reformasi, dengan munculnya Ideologi baru, semisal NII dan juga lainnya, maka memunculkan kesadaran baru, bahwa ternyata Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dianggap penting untuk digelorakan kembali. Pilar kebangsaan itu dianggap sebagai alat pemersatu bangsa yang tidak boleh dianggap sederhana hingga dilupakan. Pancasila dianggap sebagai alat pemersatu, karena berisi cita-cita dan gambaran tentang nilai-nilai ideal yang akan diwujudkan oleh bangsa ini.

Bangsa Indonesia yang bersifat majemuk, terdiri atas berbagai agama, suku bangsa, adat istiadat, bahasa daerah, menempati wilayah dan kepulauan yang sedemikian luas, maka tidak mungkin berhasil disatukan tanpa alat pengikat. Tali pengikat itu adalah cita-cita, pandangan hidup yang dianggap ideal yang dipahami, dipercaya dan bahkan diyakini sebagai sesuatu yang mulia dan luhur.

Memang setiap agama pasti memiliki ajaran tentang gambaran kehidupan ideal, yang  masing-masing berbeda-beda. Perbedaan itu tidak akan mungkin dapat dipersamakan. Apalagi, perbedaan itu sudah melewati dan memiliki sejarah panjang. Akan tetapi, masing-masing pemeluk agama lewat para tokoh atau pemukanya, sudah berjanji dan berikrar akan membangun negara kesatuan berdasarkan Pancasila itu.

Memang  ada sementara pendapat, bahwa agama akan bisa mempersatukan bangsa. Dengan alasan bahwa masing-masing agama selalu mengajarkan tentang persatuan, kebersamaan dan tolong menolong, sebagai dasar hidup bersama. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit konflik yang terjadi antara penganut agama yang berbeda. Tidak sedikit orang merasakan  bahwa perbedaan selalu menjadi halangan untuk bersatu. Maka Pancasila, dengan sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, merangkum dan sekaligus menyatukan pemeluk agama yang berbeda itu. Mereka yang berbeda-beda dari berbagai aspeknya itu dipersatukan oleh cita-cita dan kesamaan Ideologi bangsa ialah Pancasila.   

Itulah sebabnya, maka melupakan Pancasila sama artinya dengan mengingkari ikrar, kesepakatan, atau janji bersama sebagai bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Selain  itu, juga demikian, manakala muncul kelompok atau sempalan yang akan mengubah kesepakatan itu, maka sama artinya dengan melakukan pengingkaran sejarah dan janji yang telah disepakati bersama. Maka,  Pancasila adalah sebagai tali pengikat bangsa yang harus selalu diperkukuh dan digelorakan pada setiap saat. Bagi bangsa Indonesia melupakan Pancasila, maka sama artinya dengan melupakan kesepakatan dan bahkan janji bersama itu.

Oleh sebab itu, Pancasila masih layak dijadikan sebagai Ideologi bangsa Indonesia, jika ditinjau dari sejarah dan filsafatnya harus tetap diperkenalkan dan diajarkan kepada segenap warga bangsa ini, baik lewat pendidikan formal maupun non formal. Pancasila  memang hanya dikenal di Indonesia, dan tidak dikenal di negara lain. Namun hal itu tidak berarti, bahwa bangsa ini tanpa Pancasila bisa seperti bangsa lain. Bangsa Indonesia memiliki sejarah, kultur, dan sejarah politik yang berbeda dengan bangsa lainnya. Keaneka-ragaman bangsa Indonesia memerlukan  alat pemersatu, ialah Pancasila. Wallahu a’lam.

* Ketua Departemen Ideologi dan Agama Pimpinan Wilayah GP Ansor Sulawesi Tenggara


Senin 30 Mei 2011 16:54 WIB
Aspek Pencemaran Lingkungan dan Kesehatan dalam Perbandingan PLTN dan PLTU Batubara
Aspek Pencemaran Lingkungan dan Kesehatan dalam Perbandingan PLTN dan PLTU Batubara

Akhmad Khusyairi, M.Eng



Setiap teknologi mempunyai sisi positif dan sisi negatif, namun demikian aspek manfaat dapat dipertimbangkan dalam penggunaan suatu teknologi. Namun demikian setiap pemanfaatan teknologi, manusia dituntut untuk mendapatkan manfaat dengan meminimalisasikan dampak yang mungkin muncul.

Sama halnya dengan pemenuhan kebutuhan energy bagi kehidupan manusia, penggunaan PLTN dan PLTU batubara mempunyai dapak dan resiko masing-masing.<>

PLTU Batubara

Dalam proses produksi listrik dari pada PLTU batu bara terdapat proses pembakaran batubara. Seperti halnya bahan bakar fosil lainnya, dalam proses pembakaran batubara selain dihasilkan pelepasan energy berupa panas juga dihasilkan abu dan asap. Debu dan asap ini merupakan polutan yang dihasilkan dari PLTU batubara. Berikut polutan utama yang dihasilkan oleh PLTU batubara :

• SOx merupakan emisi gas buang yang dikenal sebagai sumber gangguan paru-paru dan dapat menyebabkan berbagai penyakit pernafasan.
• NOx merupakan emisi gas buang yang sekaligus dikeluarkan oleh PLTU batubara bersama dengan gas Sox, keduanya merupakan penyebab terjadinya "hujan asam" yang terjadi di banyak negara maju dan berkembang, terutama yang menggantungkan produksi listriknya dari PLTU batubara. Hujan asam dapat memberikan dampak buruk bagi industri peternakan dan pertanian.
• COx merupakan emisi gas buang yang dapat membentuk lapisan pada atmosfer yang dapat menyelubungi permukaan bumi sehingga dapat menimbulkan efek rumah kaca ("green-house effect"), hal ini dapat berpengaruh pada perubahan iklim global.
• Debu yang dihasilkan dari pembakaran batubara mengandung partiker radioaktif, salah satu diantaranya diantaranya adalah Radon dan Uranium 233. Disamping ancaman radiasi dari partikel-partikel radioaktif, debu hasil pembakaran batubara mengancam kesehatan penduduk sekitar.
• Disamping itu debu dari hasil pembakaran batubara juga mengandung partikel berbaya lainnya, diantaranya adalah logam-logam berat seperti Pb,Hg,Ar,Ni,Se, dll, dari hasil penelitian disekitar PLTU, terbukti kadar logam berat tersebut jauh di atas nilai ambang batas yang diizinkan.

PLTN

PLTN merupakan salah satu jenis pembangkit listrik dimana sumber panas yang dihasilkan berasal dari reaksi nuklir. Pada prinsipnya antara PLTN dan PLTU batubara adalah sama, yang berbeda adalah pada sumber energy yang digunakan untuk menghasilkan uap air yang akan digunakan untuk menggerakkan turbin guna menghasilkan listrik.

Sebagian besar kelompok anti PLTN adalah polusi radiasi yang dikhawatirkan timbul dari pengoperasian PLTN, namun demikian dalam pengoperasian PLTN, pelepasan zat radioaktif ke lingkungan dikntrol sangat ketat, sehingga radiasi yang keluar dari instalasi harus dibawah nilai ambang yang diizinkan. Dari beberapa penelitian dibuktikan bahwa rata-rata untuk orang yang tinggal hingga radius 1 km dari PLTN, dosis radiasi yang diterimanya kurang dari 10% dari dosis radiasi alam. Radiasi alam adalah radiasi yang dihasilkan secara alami yang biasanya berasal dari batuan radioaktif alami, sinar kosmis, serta sinar-sinar radioaktif untuk maksud-maksud medis.


PLTN dalam operasinya membakar bahan bakar nuklir (Uranium, Plutonium, Thorium,dll) dengan cara menembakkan neutron sehingga terjadilah proses reaksi fisi dengan menghasilkan produk fisi, neutron baru dan energi.


Produk fisi mempunyai nomor massa yang lebih kecil dari bahan bakar nuklir yang digunakan dan bersifat radioaktif. Neutron baru yang dihasilkan dari proses fisi tersebut akan menembak atom bahan bakar nuklir yang lainnya dan akan menghasilkan produk fisi, neutron dan energy, proses ini terus berlanjut hingga bahan bakar nuklir “dinyatakan habis”.


 Dari hasil reaksi fisi tersebut, produk fisi tersebut yang dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat anti nuklir mence,mari lingkungan. Namun demikian, desain PLTN dirancang untuk tidak terjadi pelepasan produk fisi ke lingkungan dengan system pertahanan berlapis. Lapisan pertahanan pertama yaitu bentuk bahan bakar yang didesain dalam bentuk keramik/padatan. Pertahanan berlapis kedua yaitu adanya cladding bahan bakar yang membungkus bahan bakar nuklir tersebut. Pertahanan ketiga yaitu bejana reactor (reactor vessel)yang didesain untuk tetap mampu mengungkung zat radioaktif jika terjadi kerusakan pada cladding bahan bakar. Pertahanan berlapis keempat yaitu gedung containment yang terbuat dari struktur beton pra tekan.


Tetapi harus pula diperhatikan bahwa sumber radiasi bukan hanya berasal dari PLTN saja. Untuk PLTN dengan 1.000MWe, PLTN menghasilkan 50kCi radiasi yang sebagian besar berasal dari gas Xenon dan Krypton yang terkungkung dalam cladding bahan bakar nuklir, sementara itu PLTU mengeluarkan paparan radiasi sebesar 2Ci dari cerobong asapnya. Meskipun konsentrasinya jauh lebih kecil, namun radiasi dari cerobong asap PLTU mempunyai dampak terhadap kesehatan yang lebih besar, hal ini disebabkan karena abu tersebut dapat terhisap dan akan menetap di paru-paru, sumsum tulang atau jaringan lainnya yang merupakan ancaman secara kontinyu. Sementara radiasi dari PLTN  yang berupa sinar radioaktif eksternal yang menembus tubuh dan tidak menetap dalam tubuh manusia.

 

* Kontributor IPTEK NU Online

Senin 30 Mei 2011 11:11 WIB
ISLAMISME (4)
Gerakan Syiah di Indonesia
Gerakan Syiah di Indonesia

Oleh H. As’ad Said Ali



Syi’ah yang berkembang di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua corak, yakni Syi’ah politik, dan Syi’ah non-politik. Syi’ah politik adalah mereka yang memiliki cita-cita politik untuk membentuk negara Islam, sedangkan Syi’ah non-politik mencita-citakan membentuk masyarakat Syi’ah. Syi’ah politik aktivitasnya menekankan pada penyebaran ide-ide politik dan pembentukan lapisan intelektual Syi’ah, sedangkah Syiah non-politik menekankan pada pengembangan ide-ide fikih Syi’ah.

Syi’ah non-politik atau Syi’ah fikih masuk ke Indonesia sejak awal abad 19, yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat, India, dan ulama-ulama dari Hadramaut. Salah satu tokohnya yang membawa masuk ke Indonesia adalah Habib Saleh Al-Jufri, mantan panglima perang Syarif Husen, kakek  dari Raja Husen Yordania, yang dikalahkan oleh Abdul Aziz, bapak dari Raja Abdullah Arab Saudi. Syi’ah yang mereka bawa ke Indonesia pada gelombang ini adalah Syi’ah Zaidiyah. Pada awalnya cara dakwahnya dilakukan secara individu-individu, kemudian, sejak kemerdekaan beberapa tokoh dari mereka membentuk pesantren, salah satunya adalah Husen Al-Habsyi, mendirikan Pesantren YAPI di Bangil, Jawa Timur. <>

Sementara itu, Syi’ah politik masuk Indonesia baru kemudian, yaitu sejak pecahnya Revolusi Iran tahun 1979. Jika Syi’ah fikih mengembangkan dirinya melalui dukungan swasta, sebaliknya Syi’ah politik mendapat dukungan resmi dari pemerintah Iran. Namun demikian sejak revolusi Iran, Syi’ah fikih juga mendapatkan dukungan resmi dari pemerintah.

Strategi dakwah Syi’ah politik pada awalnya menggunakan pendekatan kampus. Beberapa kampus yang menjadi basisnya adalah Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Jayabaya Jakarta, Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung, dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun karena gagal dan kalah berkembang dengan kelompok Ihwan, akhirnya pada tahun 1990-an strateginya diubah. Kini kelompok Syi’ah keluar dari kampus dan mengembangkan dakwahnya langsung ke tengah masyarakat melalui pendirian sejumlah yayasan dan membentuk ormas bernama IJABI (Iakatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Yayasan-yayasan itu sebagian mengkhususkan pada kegiatan penerbitan buku, sebagian lainnya membangun kelompok-kelompok intelektual dengan program beasiswa ke luar negeri (ke Qum, Iran) dan sebagian lagi mengembangkan kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.

Sejauh yang dapat diketahui, generasi program beasiswa ke Qum, Iran, yang pertama adalah Umar Shahab dan Husein Shahab. Keduanya berasal dari YAPI, Bangil, dan pulang ke Indonesia tahun 1970-an. Kedua tokoh inilah yang mengembangkan Syi’ah dikalangan kampus pada awal 1980-an. Tidak banyak yang berhasil dikader dan menjadi tokoh. Dari UI misalnya, diantaranya adalah Agus Abubakar dan Sayuti As-Syatiri. Dari Universitas Jayabaya muncul Zulfan Lindan, dan dari ITB muncul Haidar Bagir. Namun perlu digarisbawahi, di luar jalur kedua tokoh diatas, pada pertengahan 1980-an muncul Jalaluddin Rahmat sebagai cendekiawan Syi’ah.

Namun seiring berhasilnya revolusi Islam di Iran, sejak 1981 gelombang pengiriman mahasiswa ke Qum mulai semakin intensif. Generasi alumni Qum kedua inilah yang sekarang banyak memimpin yayasan-yayasan Syi’ah dan  menjadi pelopor gerakan Syi’ah di Indonesia. 

Kini, gerakan Syiah di Indonesia diorganisir olehl Islamic Cultural Center (ICC), dipimpin Syaikh Mohsen Hakimollah, yang datang langsung dari Iran. Secara formal organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. ICC Jakarta dibawah kendali dan pengawasan langsung Supreme Cultural Revolution Council (SCRC) Iran.

Di bidang pendidikan ICC mengorganisir lembaga-lembaga pendidikan, sosial dan penerbitan yang jumlahnya sangat banyak dan bertebaran diberbagai daerah. Sedangkan dibidang dakwah, ICC bergerak di dua sektor, pertama, gerakan kemasyarakatan, yang dijalankan oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait (IJABI), kedua, gerakan politik, yang dijalankan oleh yayasan OASE. Yayasan ini mengkhusukan bergerak dibidang mobilisasi opini publik. Sedangkan untuk bidang gerakan politik dan parlemen dikomandani oleh sejumlah tokoh. Strategi politik parlementer yang mereka tempuh ini dilakukan dengan cara menyebarkan kader ke sejumlah partai politik.

Mengenai IJABI sebagai motor gerakan kemasyarakatan, hingga sekarang strukturnya telah meluas secara nasional hingga di Daerah Tingkat II. Tentu format yang demikian dapat  menjadi kekuatan efektif untuk memobilisasi pengaruh dan kepentingan politik. Kader-kader IJABI selain telah banyak yang aktif di dunia kampus, kelompok-kelompok pengajian, lembaga-lembaga sosial dan media, di daerah-daerah juga telah banyak yang menjadi anggota parlemen. Di level daerah inilah IJABI memiliki peranan penting sebagai simpul gerakan dakwah dan politik di masing-masing daerah.

Marja Al Taqlid dan Sayap Militer Syiah

Dewasa ini Syiah Indonesia sedang berupaya membuat lembaga yang disebut Marja al-Taqlid, sebuah institusi kepemimpinan agama yang sangat terpusat, diisi oleh ulama-ulama Syiah terkemuka dan memiliki otoritas penuh untuk pembentukan pemerintah dan konstitusi Islam. Di beberapa negara yang masuk dalam kaukus Persia lembaga itu telah berdiri kokoh dan memainkan peran yang efektif dengan kepemimpinan yang sangat kuat. Di Irak misalnya, lembaga Marja Al Taqlid dipimpin oleh Ayatollah Agung Ali al-Sistani.

Lembaga Marja Al Taqlid, selain berfungsi menyusun dan mempersiapkan pembentukan pemerintahan dan konstitusi Islam, juga berfungsi menyusun prioritas-prioritas pemerintah, termasuk pembentukan sayap militer yang disebut amktab atau lajnah asykariyah. Selama Marja al Taqlid ini belum terbentuk maka pembentukan maktab askariyah pun pastilah belum sistematis dan terstruktur. (bersambung)

*Wakil ketua umum PBNU

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG