Spanduk Jualan Kerudung yang Mengundang Kontroversi

Semarang, NU Online
Spanduk toko kerudung Rabbani mengundang kontroversi. Banyak masyarakat memprotes kalimat yang ditulis di seluruh toko Robbani yang ada di Semarang dan lainnya. Pasalnya, tertera tulisan: “Selama Ramadhan, Berbelanja di Rabbani Dilarang Pake Kerudung”.

Spanduk ini dipasang di seluruh lima tokonya di Semarang. Yakni, di Jl Majapahit 127 B&C, Jl Pandanaran 112. Dipasang pula di website-nya, http://www.rabbani.co.id.
<>
Tak kurang, Wakil Ketua Tanfidziyah PBNU, KH Imam Aziz resah dengan spanduk tersebut. Sebab ia mendapat laporan dari berbagai daerah, bahwa ulama dan pengurus NU mendapat aduan dari masyarakat.

Banyak warga NU dan umat Islam umumnya merasa kurang setuju dengan isi spanduk tersebut. Bahkan ada yang memprotes sebagai kalimat yang mengundang sentimen Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Imam Aziz sendiri sudah melihat langsung di berbagai outlet Rabbani. Spanduk tersebut rupanya tersebar di semua toko kerudung yang berpusat di Bandung tersebut.

Ketika reporter berkesempatan bertemu dia di Hotel Pandanaran Semarang, dalam acara gathering Flexi Aswaja kemarin, Imam Azia mengatakan, tindakan produsen Rabbani membuat spanduk tersebut kurang etis.

Menurutnya, boleh saja membuat kalimat iklan yang unik untuk menarik pembeli. Sebagai strategi marketing boleh saja membuat sesuatu yang lucu atau menggelitik.

Tetapi sarannya, perlu dipilih kata yang lebih sopan dan lebih pas, agar tidak mengundang kontroversi. Jangan sampai bulan Ramadhan yang mestinya damai dan harusnya diisi dengan kedamaian, justru terjadi keresahan akibat penggunaan kata yang tidak tepat.

“Kami mendapat laporan dari berbagai daerah. Saya lihat memang kalimatnya menggelitik. Boleh saja beriklan yang unik, tapi mestinya memilih bahasa yang sopan dan tidak membuat kontroversi di bulan Ramadhan yang suci ini,” tuturnya.

Meski demikian, Imam Aziz menyarankan soal jangan di-blow up. Sebab berita besar justru menjadi promosi gratis bagi Rabbani, dan hal itu barangkali yang sengaja diinginkan.

“Silakan pernyataan saya dimuat. Tapi saya lebih senang hal ini ditulis di surat pembaca saja. Kalau dibesar-besarkan malah menguntungkan Rabbani. Mereka dapat promosi gratis, dan mungkin kontroversi ini memang sengaja dirancang,” tuturnya sambil bercanda.

Terpisah, sekretaris Dewan Masjid Indonesia Jawa Tengah Fatquri Busyeri juga mengatakan hal senada. Kepala TU Masjid Agung Jawa Tengah ini juga mendapat telepon dan SMS dari banyak orang.

Isinya, kata dia, meminta ulama menanggapi spanduk toko kerudung yang menggiring persepsi negatif tersebut.

“Kami mendapat keluhan soal spanduk itu. Memang, kesannya kurang bagus. Persepsi orang cenderung negatif. Ini bisa mengundang sentimen SARA,” terang di saat ditemui Harsem di kantor MAJT kemarin.

Dilanjutkannya, orang yang melihat sekilas, terlebih muslimah awam, akan merasa benar-benar dilarang masuk. Atau merasa disuruh mencopot kerudungnya jika masuk toko tersebut agar membeli kerudung Rabbani.

Kalau orang pengalaman, mungkin akan masuk dan bertanya kepada pihak toko. Tetapi kesan pertama membaca kalimat itu tetaplah kurang baik. Dan bagi orang yang kaget malah bisa marah, karena merasa identitasnya sebagai perempuan berkerudung dilecehkan.

“Saya kira kalimat itu memang bisa menimbulkan perasaan tidak enak. Bahkan bisa mengundang marah,” ujarnya.

Bayar Pake Uang

Hasil konfrimasi Harsem, Direktur Marketing Rabbani pusat, Amry Gunawan alias Abu Syahid memberi klarifikasi, maksud kalimat “belanja di  Rabbani dilarang pake kerudung” adalah “kalau belanja pake uang”.

“Di manapun kita kalau belanja pake uang, bukan pake kerudung,” jawab dia.

Abu Syahid menambahkan, di samping tulisan tersebut sudah ada gambar uang yang dilingkari dan kerudung yang disilang. Gambar tersebut menurutnya penjelasan dari kalimat besar di spanduk.

Dia mengaku sudah konsultasi dengan ustad-ustad di Bandung sebelum membuat spanduk itu dan mendapat kepastian tidak masalah secara syariat. Tetapi tak disebutkan siapa para ustad itu dan dari lembaga apa.

Dia katakan pula, kalimat spanduk itu memang sengaja dibuat yang menggelitik untuk memancing reaksi masyarakat. Hal itu sebagai cara Rabbani untuk menjalin kontak dengan konsumen langsung.

“Memang banyak masyarakat yang menghubungi kami, bertanya maupun protes. Setelah kru kami memberi penjelasan, orang mengerti maksud kami. Ini memang sengaja kami gunakan untuk silatirahmi dengan masyarakat. Walau lewat SMS juga,” terangnya. 

Mengapa harus dengan kalimat begitu?

Abu Syahid berkilah, pihaknya ingin sesuatu yang baru dan unik. Sebab jika menulis selamat meunaikan ibadah puasa, itu sangat biasa dan tak akan mendatangkan pengaruh bagi pemasaran dagangannya.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama Jawa Tengah Inna Hadianala menanggapi, klarifikasi seperti itu tetap kurang pas. Sebab, jika menggunakan logika sama, penjual baju akan menulis spanduk “Pembeli dilarang pake baju”, lalu penjual celana membuat tulisan “Dilarang pake celana”.

“Saya kira maksud belanja pake uang memang benar. Tetapi  logika itu tetap sulit diterima. Sebab, nanti toko baju menulis dilarang pake baju, toko celana menulis dilarang pake celana dan seterusnya. Jadi kami mohon spanduk itu dikoreksi,” tuturnya.

Sementara itu, pengurus Muslimat NU Kota Semarang Siti Jamilah menyatakan, secara hukum syariat maupun hukum nasional pihak Rabbani mungkin tidak bisa disalahkan. Karena tidak ada aturan yang dilanggar. Namun secara etika hal itu tidak baik. Karena mengundang orang berpikir negatif. Apalagi sampai memantik kontroversi.

Dia meminta produsen Rabbani mencopot spanduk tersebut dan menggantinya dengan kalimat lain yang sopan dan tidak menimbulkan persepsi salah.

“Saya anggap itu tidak baik secara etika. Sebaiknya dicopot saja dan diganti dengan kalimat yang sopan dan tidak mengundang opini negatif,” tuturnya.

Berikutnya, pengasuh Ponpes Al-Ishlah Mangkang Kecamatan Tugu Semarang, KH Ahmad Hadlor Ihsan mengatakan, walau dengan alasan guyon atau sensasi iklan, kata-kata semacam itu tetap tidak pantas ditampilkan di muka umum.

Mantan Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang ini menyebutkan, kalimat spanduk Rabbani itu sama dengan orang bilang “Sholat tidak boleh pake sarung”. Maksudnya, orang sholat ya khusyuk dengan gerakan dan bacaan sholat. Kalau dalam keadaan sholat memakai sarung, itu jelas batal sholatnya.

Kalimat guyonan semacam itu tentu hanya boleh diucapkan secara lisan dan di kalangan terbatas yang langsung diberi penjelasan oleh si orang yang mengucapkan. Jika diperlihatkan ke muka umum lewat tulisan, jelas akan menimbulkan dampak yang tidak baik.

“Kalimat dalam spanduk itu tak boleh ditujukan untuk masyarakat umum. Kalaupun mau guyonan, harusnya lewat lisan dan dalam lingkup terbatas,” ucapnya.

Kalangan muda juga menyampaikan protesnya. Sekretaris Umum PMII Jawa Tengah M Muslihan menyampaikan pendapat, bahasa iklan di spanduk Rabbani sangat tidak etis. Karena kalimatnya sangat negatif.

“Pemilihan bahasa iklan haruslah yang santun dan arif. Jangan menghalalkan segala cara untuk mencari uang,” ujar dia.

Minta Maaf

Area Manager Rabbani Jawa Tengah Joko Prihartono ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah mendapat protes keras dari elemen umat Islam di Solo dan Klaten. Ada yang mengancam dan ada yang memaksa menuruntkan spanduk.

Bahkan sore tadi telah muncul berita, Satpol PP Klaten telah mencopot paksa spanduks-spanduk Rabbani tersebut di jalan-jalan karena diprotes masyarakat.

Joko mengaku sudah memberi penjelasan dan spanduk itu hanya kiriman dari kantor pusat Rabbani di Bandung. Tetapi tetap tak bisa diterima. Karena itu dia mohon maaf dan berjanji akan mengusulkan ke kantor pusatnya untuk mengganti kalimat yang baik.

“Kami sudah mendapat protes keras dari elemen umat Islam di Solo dan Klaten. Kami mohon maaf atas kalimat spanduk tersebut. Akan saya usulkan ke kantor pusat untuk diganti,” tuturnya.

Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Ichwan





BNI Mobile