Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ribuan Jamaah Ikuti Kirab Bedug 2011

Ribuan Jamaah Ikuti Kirab Bedug 2011

Jepara, NU Online
Selasa (16/8) malam, selepas shalat tarawih, ribuan jamaah sudah memadati Jalan Kartini untuk menyemarakkan Kirab Bedug 2011 yang diselenggarakan Masjid Agung “Baitul Makmur” Jepara. Musisi tembang religi, Opick, turut menyemarakkan kegiatan ini.

Saat menyanyikan lagu Tombo Ati, Opik mengajak pengunjung untuk naik ke atas panggung dan membawakan tembang yang terinspirasi dari Kitab “Bidayatul Hidayah” karya Imam Ghazali. Beberapa pengunjung pun naik ke panggung dan menyanyikan penggalan lagu Tombo Ati. Dengan canda-tawa ia meledek para pengunjung yang maju dan menunjukkan kebolehannya. Setelah usai, mereka mendapatkan bingkisan dari sponsor.<>

Lagu lain yang dibawakan Opik adalah Cahaya Hati, Irhamna, Senandung Istighfar, Tombo Ati, Senandung Sedekah, Senandung Rumput Bertasbih, Maha Melihat dan Senandung Alhamdulillah.

Suasana semakin riuh tatkala Opick turun ke jalan untuk mengajak jamaah bersedekah dan hasilnya disumbangkan untuk Panti Asuhan. Uang yang didapatkan sejumlah Rp.7 Juta. Uang diberikan Opick kepada wakil Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi, S.E.

“Marilah kita sambut Zahra, artis cilik dari Jepara,” katanya seraya memanggil penyanyi cilik yang baru berusia delapan tahun. Zahra diajak Opick untuk membawakan tembang Maha Melihat. Sesuai duet para pengunjung memberikan tepuk tangan yang meriah.

Filosofi Bedug

Sebelum Opick manggung, KH.Sholihin Tas’an,SE,M.Hum memberikan taushiyah. Ia mengungkapkan filosofi bedug. Tabuhan yang dimodifikasi dari alat musik gamelan ini berfungsi untuk mengingatkan waktu shalat. “Ketika bedug ditabuh maka pertanda waktu shalat tiba. Maka bergegaslah mengambil air wudhu dan menuju musholla, langgar maupun masjid,” tuturnya.

Fungsi lainnya, tambah Kiai Tas’an, adalah sebagai alat pemersatu. Ditambahkannya, muslim yang datang ke masjid menunaikan shalat tidak dibedakan. Semuanya sama. Semuanya bersatu. “Deng-deng artinya iseh sedeng-iseh sedeng,” jelasnya mengartikan bunyi bedug deng-deng, iseh sedeng, masih muat masjidnya.

Kiai Tas’an melanjutkan, pada saat diberlangsungkan shalat jamaah, kaum alit hingga elit tidak tidak boleh saling mendahului. Semuanya menirukan gerakan shalat sesuai dengan komando Imam. Karenanya, ia berpesan agar bedug selalu ditabuh agar umat Islam selalu bersatu-padu dan tidak saling centang-perentang memikirkan nasibnya sendiri.

Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Syaiful Mustaqim

BNI Mobile