IMG-LOGO
Warta

Rp. 297 Miliar untuk Layani Kesehatan Jamaah Haji Sedunia

Rabu 19 Oktober 2011 6:46 WIB
Bagikan:
Rp. 297 Miliar untuk Layani Kesehatan Jamaah Haji Sedunia

Jeddah, NU Online
Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengucurkan dana 119 juta riyal atau Rp. 297 miliar (kurs Rp. 2.500) untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada jamaah haji dari seluruh dunia.<>

Jumlah uang tersebut dikucurkan untuk pembangunan sejumlah fasilitas kesehatan di Masyair. Berupa pembangunan tempat kesehatan 5 juta riyal, selain kesehatan 2 juta riyal, perlengkapan kesehatan intensif 74 juta riyal, dan pembangunan 10 pusat kesehatan di Arafah dan pembangunan tempat untuk tim kesehatan darurat 38 juta riyal.

Total fasilitas kesehatan yang dibangun pada tahun ini adalah 139 pusat esehatan, 14 rumah sakit di Makkah, Masyair, dan jalan-jalan menuju kota suci, total semuanya memiliki kapasitas tempat tidur sebanayk 2.650 ranjang.

Demikian diungkapkan Direktur Urusan Kesehatan Kota Makkah DR Kholid bin Ubaid Dzofar. "Rumah sakit-rumah sakit dan pusat kesehatan itu disediakan untuk pengkaderan para dokter spesialis demi peningkatan pelayanan jamaah haji, atas kerja sama dan koordinasi antara direktorat dengan sektor-sektor kesehatan dan pihak berwenang yang berpartisipasi dalam haji untuk memberikan pelayanan tamu-tamu Allah," kata Ketua Pelaksana Panitia Haji Arab Saudi ini, dikutip dari Koran An-Nadwah, Selasa (18/10).

Kholid mengatakan semua fasilitas tersebut mencakup pemberian pelayanan kesehatan, pencegahan, pengobatan di pos-pos kedatangan: Airport, Pelabuhan, terminal yang meliputi pemeriksaan, perawatan, pengobatan, atau pemberian resep.

Ditambah dengan penyebaran penyuluhan tentang kesehatan, memberitahu jamaah tentang penyakit-penyakit jamaah haji dan umroh melalui media-media bekerjasama dengan kedutaan-kedutaan, perwakilan kesehatan dari luar, memberikan vaksinasi penyakit-penyakit menular dan memberitahukan kepada jamaah haji untuk selalu menggunakan gelang sebagai keterangan kondisi kesehatan yang bersangkutan.

Progam di atas dimaksudkan untuk memberikan perawatan kesehatan melalui pos-pos yang tersebar di berbagai tempat menuju kota-kota haji. Di antara pelayanannya : Pelayanan pencegahan dengan melihat Negara asal kedatangan dari Negara yang pernah terkena wabah, mengecek kelengkapan kesehatan dan memberikan pengobatan atau merujuk ke Rumah Sakit.

 

Redaktur : Syaifullah Amin

Bagikan:
Rabu 19 Oktober 2011 21:31 WIB
NU-Muhammadiyah prediksi Idul Adha bersamaan
NU-Muhammadiyah prediksi Idul Adha bersamaan

Surabaya, NU Online

 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur memprediksi Idul Adha 1432 Hijriah akan jatuh pada tanggal yang bersamaan yakni 6 November 2011.

Wakil Ketua PWNU Jatim H Sholeh Hayat mengatakan Hari Raya Idul Adha 1432 H memang ada peluang besar untuk bersamaan antara NU, Muhamadiyah, dan pemerintah.<>

"Salah satu indikasinya adalah ijtimak akhir Dzulqa`dah terjadi pada hari Kamis 27 Oktober 2011 pada jam sekitar 02.56 WIB sampai dengan 04.11 WIB sesuai hitungan Hisab Khulashoh Al Wafiyah atau Hisab Haqiqi, sedangkan ketinggian hilal terjadi sekitar 6`27 sampai 7`23 derajat," tuturnya.

Perhitungan itu menurut kitab Badiatul Al Mitsal dan semua hasil hitungan hisab dari 22 sistem/rujukan akan menghasilkan kesimpulan yang sama bahwa 1 Dzulhijah 1432 H akan jatuh pada hari Jumat 28 Oktober 2011.

"Jadi, insya-Allah 10 Dzulhijah 1432 H akan jatuh pada hari Ahad 6 Nopember 2011," ujar anggota Badan Hisab Rukyat Kanwil Kemenag Jatim itu.

Namun, kata koordinator Rukyatul Hilal PWNU Jatim itu, PWNU Jatim akan menunggu hasil Rukyatul Hilal (melihat hilal/rembulan secara kasat mata) yang dilaksanakan pada hari Kamis 27 Oktober bakdal/setelah Maghrib.

Ia menambahkan PWNU Jatim akan melaksanakan Rukyatul Hilal pada belasan lokasi strategis, di antaranya Nambangan, Kenjeran (Surabaya), Ujungpangkah (Gresik), Tanjungkodok (Lamongan), Gebang (Bangkalan), Ambet (Pamekasan), dan sebagainya.

Sementara itu, Sekretaris PWM Jatim H Nadjib Hamid di Surabaya memprediksi terjadinya Idul Adha 1432 H pada waktu yang bersamaan itu didasarkan pada ijtimak (pertemuan bumi dan rembulan dalam satu garis untuk menandai terjadinya pergantian bulan atau terjadinya kalender baru) akhir Dzulqa`dah 1432 H yang terjadi pada hari Kamis 27 Oktober 2011 atau 29 Dzulqa`dah 1432 H.

"Berdasarkan perhitungan dengan sistem Hisab Haqiqi dengan markas Tanjungkodok, Lamongan, insya-Allah Hari Raya Idul Adha 1432 Hijriah akan bareng (bersamaan). Ijtimak akan terjadi antara jam 02.56 WIB hingga 02.57 WIB, sehingga saat matahari terbenam pada hari itu pukul 17.24`38" WIB, maka hilal (rembulan baru) sudah wujud antara 6 derajat, 45`42,76" hingga 6 derajat 55 menit, sehingga tanggal 1 Dzulhijjah 1432 H jatuh pada Jumat 28 Oktober 2011," paparnya.

Karena 1 Dzulhijjah 1432 H jatuh pada 28 Oktober, maka 10 Dzulhijjah 1432 H atau Idul Adha 1432 H akan jatuh pada hari Ahad 6 November 2011. "Insya-Allah, kita akan berlebaran Idul Adha bersamaan," kata komisioner KPU Jatim itu.

 

Redaktur     : Syaifullah Amin

Rabu 19 Oktober 2011 19:2 WIB
Kiai Said: Menteri NU atau Non NU, asal Program Berjalan
Kiai Said: Menteri NU atau Non NU, asal Program Berjalan

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berharap pergantian kabinet ini bisa memperbaiki kinerja pemerintahan SBY yang masih berjalan tiga tahun ke depan.

Ditanya mengenai keterwakilan kader NU, ia menyatakan yang lebih penting bukan apakah ia kader NU atau bukan, tetapi apakah terjadi kerjasama yang baik antara NU dan kementerian tersebut dalam membela dan memberdayakan masyarakat.
<>
“Banyak menteri yang berlatar belakang non NU, tetapi memiliki program kerjasama yang sangat baik dengan kita seperti menteri kesehatan dan menteri kelautan,” katanya.

Beberapa menteri yang memiliki latar belakang NU diantaranya adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini dan dari perombakan kabinet baru, bertambah Djan Farid, menteri Perumahan Rakyat.

Ia sebenarnya berharap agar presiden lebih tegas dalam memilih para menterinya karena perombakan kabinet saat ini terkesan ingin menyenangkan semua fihak, dengan pertimbangan asal daerah atau partai politik sehingga banyak hal terpaksa dikompromikan.

Demikian pula, keberadaan wakil menteri di sejumlah kementerian bisa menimbulkan masalah koordinasi diantara keduanya. “Bisa saja hubungan keduanya tidak harmonis seperti yang terjadi di sejumlah pimpinan daerah antara pimpinan dan wakilnya. Kalau ini terjadi, malah bisa kontraproduktif,” paparnya.

Keberdaan wakil menteri ini mengesankan, deputi dan dirjen di kementerian tersebut tidak maksimal. Sampai saat ini, belum jelas pengeturan wewenang dan tanggung jawab diantara wakil menteri dan para dirjennya.

Penulis: Mukafi Niam

Rabu 19 Oktober 2011 17:16 WIB
Habib Luthfi: Faham Sejarah, Tumbuhkan Rasa Nasionalisme
Habib Luthfi: Faham Sejarah, Tumbuhkan Rasa Nasionalisme

Demak, NU Online
“Jane Nasionalisme iku ono dalile opo ora? (Sesungguhnya nasionalisme itu ada dalilnya apa tidak).?” Demikian pertama kali Ucapan yang disampaikan Habib luthfi bin Yahya Dari Pekalongan saat menyampaikan tausiah di hadapan ribuan jamaah di Demak (15/10).

 Pernyataan ini disampaikan Habib Luhfi pada acara Istighotsah dan Maulidurrasul SAW saat peringatan Hari Ulang Tahun ke 66 TNI di Makodim 0716 Demak yang terselenggara atas kerjasama PCNU, GP Ansor Demak dan TNI.<>

Habib Luthfi merasa rasa nasionalisme pada anak bangsa sekarang mengalami degradasi, sehingga kondisi bangsa tersasa sangat memperihatinkan.

"Apalagi sekarang dengan perilaku kehidupan yang semakin semrawut, akhlaq tidak lagi jadi tumpuan," tutur Habib Luthfi. 

Karenanya, Habib mengajak pada jamaah untuk merefleksi sejarah dan mengenang riwayat para pendiri bangsa. Menurutnya, sejarah adalah salah satu alat untuk bisa membangkitkan rasa nasionalisme yang tinggi.

“Kenalkan sejarah pada anak-anak muda, maka akan muncul rasa nasionalisme dan bisa menghargai para pendiri bangsa, muncul fanatisme pada bangsa” ajaknya.

Habib juga menceritakan sejarah Nabi dengan Piagam Madinah, di mana Nabi dengan menggunakan trik mengalah untuk menang. 

"Keterlibatan Ulama, Kiai seperti Mbah Kholil Bangkalan Madura dan rakyat membaur jadi satu saat merebut kemerdekaan RI, sampai juga pada saat Resolusi Jihad dikumadangkan Rois Akbar Hadrotus Syaih Hasyim Asy’ari untuk melawan kedatangan sekutu yang membonceng NICA serta saat merebut bendera dan bangsa ini," tandas habib Luthfi.

Para anggota Banser dan TNI, lanjut Habib, saling berpinggulan hanya untuk mengibarkan Merah Putih, dan merobek warna biru milik Belanda, yang akhirnya berkibarlah Merah Putih walau di tebus dengan darah dan nyawa para pejuang. Inilah dasar atau dalil yang terangkum dalam sejarah bangsa. 

“Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah SWT, hormat pada merah putih itu bukan syirik. Tapi ungkapan rasa syukur pribadi pada Allah SWT untuk memiliki bangsa indonesia” Katanya.

Diakhir tausiyahnya habib luthfi berpesan pada jamaah untuk mengingatkan kembali setidaknya pada keluarga untuk menghormati pada para pejuang bangsa dan menanamkan sejak dini bangga manjadi bangsa Indonesia.“ Islam itu Rahmatan Lil Alamin, Indonesia tidak mungkin jadi Negara Islam, mari kita saling menghormati,” Pesannya.


Redaktur     : Syaifullah Amin

Kontributor : A. Shiddiq Sugiarto

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG