IMG-LOGO
Warta

Prabowo Subianto Silaturrahmi ke NU Jatim

Senin 21 November 2011 8:21 WIB
Bagikan:
Prabowo Subianto Silaturrahmi ke NU Jatim

Surabaya, NU Online
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menemui pimpinan wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur di kantor PWNU, Jalan Masjid Al-Akbar Gayungsari, Surabaya, Ahad.

"Kami bertemu dan berdiskusi tentang perkembangan pendidikan, khususnya sekolah-sekolah NU di Jatim. Tidak ada pembicaraan politik," ujar Prabowo Subianto ketika ditemui usai pertemuan.
<>
Prabowo yang didampingi Ketua DPD Partai Gerindra Soepriyatno ditemui langsung oleh Ketua PWNU KH Muttawaqil Alallah beserta pengurus lainnya. Selama hampir satu jam pertemuan berlangsung tertutup.

Namun, mantan Danjen Kopassus tersebut mengaku bahwa kedatangannya ke PWNU untuk "sowan" (berkunjung) dan menjalin hubungan silaturrahmi karena sudah lama tidak pernah bertemu. Ketika disinggung dukungan dari PWNU Jatim tentang upaya pencalonannya sebagai Presiden RI 2014, Prabowo tidak menampiknya.

Hanya saja, ia mengaku bahwa isu calon presiden masih jauh dan akan dibahas lagi pada pertemuan mendatang.

"Saya masih belum mau membahas calon presiden, sebab masih sekitar tiga tahun lagi," tutur dia.

Prabowo juga mengakui bahwa di partainya banyak bertengger orang-orang yang dilatarbelakangi darah "nahdliyin" (sebutan populer warga NU). Sementara itu, Ketua PWNU Jatim KH Muttawaqil Alallah juga mengaku tidak membahas persoalan politik sedikitpun tentang pertemuannya dengan Prabowo.

"Tidak ada pembahasan politik apa-apa. Pembicaraan hanya tentang kesempatan bea siswa bagi siswa-siswi NU yang ingin melanjutkan sekolahnya ke luar negeri," katanya.


Redaktur: Mukafi Niam
Sumber   : Antara

Bagikan:
Senin 21 November 2011 22:1 WIB
Perempuan Kepala Keluarga Umumnya Menderita
Perempuan Kepala Keluarga Umumnya Menderita

Semarang, NU Online
Perempuan  karena keadaan harus menjadi kepala keluarga, umumnya menderita. Ia harus bekerja untuk menafkahi diri dan anak(-anaknya), sekaligus kadang cucu bahkan suaminya. 

Derita mereka, tak hanya soal katerbatasan akses rejeki, tetapi juga nestapa batin sejak berstatus Perempuan Kepala Keluarga (Pekka). Sebab umumnya Pekka adalah wanita yang ditinggal  mati suami tanpa warisan berarti, atau ditinggal minggat suami, atau dicerai suami tanpa tanggungjawab menafkahi. <>

Ada pula Pekka akibat suami cacat fisik atau tak bisa lagi bekerja karena PHK. Bebannya jadi ganda, dan negara tak pernah hadir membantu mengentaskan kesusahannya. 

Demikian simpulan hasil penelitian bertajuk Jejak-Jejak  Perempuan Muslimah Sebagai Pekka yg dilakukan di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur yang dilaksanakan para peneliti muda Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Agama Semarang. Pemaparan hasil riset dilakukan selama dua hari di Aula Balai Litbang Agama Semarang, Jum’at-Sabtu (18-19/11) lalu. 

Dimoderatori pengasuh rubrik Konsultasi Keluarga Harsem Jauharotul Farida, para peneliti yang telah melakukan riset selama satu bulan mempresentasikan temuannya satu persatu dengan analisa kualitatif. 

Menggunakan teknik wawancara dan observasi subyek, para peneliti mengungkap kehidupan kaum Pekka di Keraton Surakarta Hadiningrat, Pekka di desa pertanian tembakau di Parakan Temangung, dan desa pertanian padi di Dander Kabupaten Bojonegoro, serta desa nelayan di Jepara dan Muncar Banyuwangi. 
Juga riset atas Pekka di kawasan industri di Surabaya. Adapun di DIY, yang diteliti adalah Pekka di Mantrijeron Kota Yogyakarta yang rata-rata menggugat cerai karena suaminya selingkuh atau tidak bertanggungjawab kepada keluarga. 

Abdul Kholiq yang meneliti di Jepara mengungkapkan, nelayan dan perempuan identik dengan kemiskinan. Jika menyebut nelayan perempuan, maka pasti mereka orang miskin. Sebab nelayan adalah dunia lelaki, dalam arti melaut. 

Sedangkan nelayan perempuan adalah orang yang hanya memunguti hewan laut di pingiran pantai seperti Brayo, menjadi buruh gendong garam, atau sekedar menjadi penjaja ikan panggang.

Koeswinarno yang meneliti kehidupan Pekka di Temanggung mengungkapkan, para pria petani tembakau di Parakan suka main perempuan jika hasil panen sukses. Begitu memegang uang banyak, para istri petani jadi menderita karena ditinggal selingkuh atau dicampakkan oleh suami yang mengawini perempuan lain. Akibatnya, angka perceraian dan penyakit AIDS meningkat drastis setiap kali musim panen tembakau tiba.   

Sementara penelitian di Kraton Surakarta Hadiningrat juga menemukan kenyataan, para perempuan yang menjadi abdi dalem di keraton sangat tidak layak hidupnya. Mereka hanya mendapat semacam upah Rp 35 sampai Rp 63 ribu per bulan karena yang dilakukan dinilai sebagai pengabdian kepada raja. 

Penelitian juga dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana hasil Program Pemberdayaan Pekka yang dirintis KOmnas Perempuan.  Sebab menurut data Seknas Pekka tahun 2009, umumnya Pekka berpendidikan rendah, lebih 38 persennya buta huruf dan tidak pernah sekolah. 

Mereka berusia 20-60 tahun dan rata-rata menanggung 1-6 orang dengan pekerjaan di sektor informal semacam buruh, pendapatannya kurang dari Rp 10 ribu per hari. Tercatat 55% Pekka yang diperkirakan 9 juta orang, hidup di bawah garis kemiskinan, dan sepertiganya tidak mendapat akses Jamkesmas maupun BLT.

Kepala Balai Litbang Keagamaan Semarang Arifuddin Ismail menyatakan, Menteri Agama sejak masa Maftuh Basyuni menetapkan, setiap kebijakan Kementrian Agama harus berdasar riset. Jadi, penetilian tersebut merupakan bagian dari bahan untuk membuat kebijakan menteri agama di bidang pembinaan keluarga muslim/muslimah. 

“Penelitian ini merupakan pelaksanaan Rencana Strategis Kementrian Agama tauhn 2010-2014 untuk peningkatan pembinaan dan pemberdayaan keluarga sakinah melalui pengelolaan urusan agama islam dan pembinaan syariah,” tuturnya. 

Beberapa tokoh diminta mengulas hasil riset tersebut. Salah satunya Direktur LRC-KJHAM Evarisan yang memberikan catatan kritis. Dia mengomentari, para peneliti masih memakai bahasa verbal yang bias gender, serta semua peneliti adalah laki-laki. Ia merekomendasikan, Kementrian Agama harus merekrut perempuan dan jumlahnya harus seimbang jika ingin meneliti lagi soal perempuan. 


Redaktur : Syaifullah Amin

Senin 21 November 2011 20:47 WIB
Masjid Agung Assalam Diguncang Teror Bom
Masjid Agung Assalam Diguncang Teror Bom

Lubuklinggau, NU Online
Masjid Agung Assalam, di Jalan Yos Sudarso, Kota Lubuklinggau, diteror paket bom dalam tas ransel warna biru. Kini tas misterius itu sudah dievakuasi Tim Gegana di Mako Brimob Petanang.

Tas ransel biru tersebut pertama kali ditemukan petugas Masjid Agung Assalam bernama Fikri, Sabtu (19/11) malam. Saat itu, ia hendak menutup pintu samping masjid usai melaksanakan ibadah Shalat Isya'.<>

Saat ditemukan, tas merek Alto itu tersandar di tiang penyangga bagian kiri masjid sekitar satu meter dari pintu keluar, tepatnya di barisan belakang tempat shalat untuk perempuan.

Awalnya pengurus masjid menunggu beberapa jam, si pemilik tas misterius itu. Namun tidak juga kunjung datang mengambilnya, sekitar pukul 21.30, pengurus masjid berinisiatif melaporkan temuan tas mencurigakan itu ke Mapolres Kota Lubuklinggau.

”Kami tidak tahu tas itu milik siapa. Sudah ditunggu beberapa jam tapi si pemiliknya tidak kunjung datang. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami kemudian melaporkannya ke polisi,” ujar Fikri.

Begitu mendapat laporan warga ada tas mencurigakan dalam masjid, aparat kepolisian datang di bawah pimpinan Wakapolres Kompol Slamet Waloya dan Kasat Reskrim AKP Akhmad Akbar.

Mereka memeriksa isi tas menggunakan alat metal detektor tanpa membuka dan memindahkannya dari posisi pertama kali ditemukan. Saat diperiksa metal detektor terdengar bunyi mencurigakan. Untuk meminimalisasi hal-hal tidak diinginkan, petugas kemudian menghubungi tim Gegana Brimob Petanang.

Selang beberapa saat kemudian, sembilan anggota tim Gegana Brimob Petanang dipimpin Ipda Ojang langsung mengevakuasi tas ransel tersebut, Ahadu (20/11) dinihari. Rencananya, tas yang diduga berisi paket bom itu akan dimusnahkan hari ini Senin (21/11).

Pantuan di lapangan, puluhan anggota Reskrim, Intel, Samapta Polres Kota Lubuklinggau dan anggota Brimob Petanang terlihat melakukan penjagaan ketat di sekeliling Masjid Agung Assalam selama mengevakuasi bom. Bahkan, beberapa personel dilengkapi senjata lengkap.

Kapolres Kota Lubuklinggau AKBP Chaidir kepada wartawan mengungkapkan, belum diketahui secara pasti isi tas mencurigakan tersebut. "Memang setelah dideteksi menggunakan alat detektor berbunyi. Artinya ada unsur logam di dalamnya," ujarnya.

Namun menurut Kapolres, jika memang terindikasi ada bom di dalam tas bisa jadi sudah meledak.

"Di sini kita tetap harus waspada. Tas itu sudah diamankan di Mako Brimob. Pemusnahan akan dilakukan Senin, namun jamnya masih dikoordinasikan lagi. Kami masih menunggu apakah ada pemilik tas tersebut. Kalau ada pemiliknya silakan menghubungi pihak kepolisian,” pungkas Kapolres. 


Redaktur : Syaifullah Amin

Senin 21 November 2011 19:24 WIB
Jamaah Haji Wafat 380 Orang
Jamaah Haji Wafat 380 Orang

Madinah, NU Online
Jumlah jamaah haji wafat di Saudi saat ini mencapai 380 orang. Demikian catatan Siskohat Kesehatan per Senin (21/11/2011) pukul 06.10 WAS atau 10.10 WIB.
Khusus untuk hari Ahad (20/11), jumlah jamaah wafat ada 11 orang.<>

Mereka adalah:

1. Asmuin (76), asal Boyolali, meninggal di RS Saudi di Makkah.2. Bachrunuddin (62), kloter SUB 32, meninggal di pemondokan di Makkah.3. Gito Mulyono (72), asal Lampung Timur, meninggal di BPHI Makkah.4. Hafiz (57), Jakarta Barat, meninggal di RS Saudi di Makkah.5. KH Masruri Mugni (67), Brebes, meninggal di RS Saudi di Madinah.6. Mursilah (72), Kab Seruyan, meninggal di pemondokan di Madinah.7. Soeharti Soema Harjana (82), Kab Sleman, meninggal di RS Saudi di Makkah8. Soelistyo (69), Kota Surabaya, meninggal di RS Saudi di Makkah.9. Sopiah Rangkuti (50), Mandailing Natal, meninggal di pondokan di Makkah10.Wembuy (77), Kab Konawe Selatan, meninggal di pondokan di Makkah11.Zainun (51), Jepara, meninggal di RS Saudi di Makkah.

Jamaah wafat mayoritas berusia 65 tahun ke atas (54,7%), pria (65,8%), dan berdasar lokasi mayoritas meninggal di Makkah (79,7%).

Penyakit yang diderita mayoritas adalah sistem sirkulasi dan sistem pernafasan. 

 


Redaktur : Syaifullah Amin

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG