Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ma’had Qudsiyah Kudus Gelar Halaqoh Islam Toleran

Ma’had Qudsiyah Kudus Gelar Halaqoh Islam Toleran

Kudus, NU Online
Dalam rangka menemukan kembali visi kebangsaan dan keislaman, Pengurus Ma’had Qudsiyah Menara Kudus bekerjasama dengan Nurul Maiyyah Indonesia (NMI) menggelar halaqah bertema “Islam Toleran dalam Himpitan Gerakan Islam Trans-Nasional” yang diselenggarakan di Gedung Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Ahad, (11/12).
 
Menurut rencana, sejumlah tokoh akan hadir sebagai narasumber diantaranya Rais PBNU KH Masdar Farid Mas’udi berbicara tentang “Relasi Islam dan NKRI: Bersatu atau Berseteru”. Mantan Jama’ah Islamiyyah Nasir Abbas mengupas “Operasi Jama’ah Islamiyyah: Membongkar Ambisi dan Strategi.”
<>
Selanjutnya Ketua Paguyuban Pemangku Makam Auliya Drs H Em Nadjib Hassan menyampaikan “Transformasi Tradisi Islam Toleran Walisongo dalam Budaya Global ”. Dosen Undip Semarang Dr Hasyim Asy’ari, SH., M.Si membedah soal “Keamanan Negara dalam Bayang-Bayang Terorisme Global” dan salah satu aktivis Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Agus Purwanto berbicara tentang “Islam: Antara yang Formalis dan Transformatif”.
 
Dalam press release-nya, sekretaris panitia Muhammad Kharis mengatakan kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya deradikalisasi dan penguatan pesantren dari pengaruh Islam tran-nasional serta pembentengan dan revitalisasi tradisi untuk penguatan NU di akar bawah.
 
“Selain itu, untuk menggagas kesadaran sikap dan perilaku kewaspadaan sebagai counter terhadap kemungkinan penyusupan Wahabi di lembaga pesantren tradisional dan lingkungan masyarakat.” katanya.
 
Menurut Kharis, sekarang ini ada pemaknaan konsep jihad digunakan pembenaran kaum fundamentalis yang  melahirkan terorisme berkedok agama. Padahal sebetulnya, konsep jihad tersebut sangat santun dan tidak membenarkan tindakan menghalalkan segala cara untuk memetik sebuah kemenangan.

“Apalagi dalam konsepsi fiqh tidak melibatkan warga sipil apalagi anak-anak dan perempuan, Karenanya menjadi wajar, jika fiqh jinayat mengkategorikan aksi terorisme ke dalam bingkai hirabah,” jelasnya.
 
Dalam halaqoh ini, tambah Kharis, diharapkan mampu menyikapi secara kritis dan arif terhadap tudingan maupun kecurigaan kalangan Barat yang menghubungkan Islam dengan terorisme.
 
“Kendati Barat sudah mampu membedakan Islam sebagai agama dan terorisme, namun itu perlu disikapi secara kritis dan arif serta dicari penyelesaiannya secara menyeluruh,” tandasnya.
 
Kharis menjelaskan sebagai muslim perlu mereview kembali komitmen founding fathers bangsa ini yang memproklamasikan berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia sebagai “pintu gerbang” menuju masyarakat adil, makmur, damai dan sejahtera.
 
“Oleh karenanya, halaqoh ini juga sebagai upaya menguatkan integritas ulama pengasuh pesantren, santri, dan masyarakat luas dalam pembangunan stabilitas ketahanan nasional serta memantapkan keberadaan Islam sebagai agama yang toleran dan rahmatal lil alamin,” terang pria yang sehari-hari beraktivitas mendampingi santri-santri Ma’had Qudsiyah Menara Kudus.
 
Dalam acara ini, pihak panitia mengundang sekitar 500 peserta dari perwakilan lembaga swadaya masyatakat, ormas, pondok pesantren, kepala madrasah dan sejumlah komponen masyarakat di Kudus.



Redaktur   : Mukafi Niam
Kontributor: Qomarul Adib

BNI Mobile