SAS Center PCINU-Mesir Gelar Workshop Tasawuf, Hadirkan Syeikh Hasan As-Syafii

SAS Center PCINU-Mesir Gelar Workshop Tasawuf, Hadirkan Syeikh Hasan As-Syafii

Kairo, NU Online
Said Aqil Siraj (SAS) Center Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir menggelar Workshop Tasawuf dan Ibn Arabi Jilid I di auditorium Keluarga Mahasiswa Sumatera Selatan (KEMASS) Mesir, Selasa (28/2) lalu. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Kairo dan KEMASS.<>

Workshop ilmiah yang mengambil tema “Relasi Tasawuf dan Ilmu Kalam” menghadirkan Sekjen Organisasi Sufi Dunia dan Ketua Penasehat Ahli Grand Syeikh Al-Azhar, Prof. Dr. Hasan Mahmud As-Syafii, yang sehari sebelumnya terpilih sebagai Ketua Badan Tertinggi Bahasa Arab. Workshop ini dihadiri oleh sekitar 150-an peserta, yang terdiri dari Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) dan mahasiswa dari negara tetangga Malaysia serta warga Mesir sendiri.

Memasuki acara inti, Syeikh Hasan As-Syafi’i, membuka paparannya, “Dalam tema malam ini ada dua titik tekan yang harus diperhatikan: tasawuf dan ilmu kalam,” katanya.

Pembahasan dimulai dari semenjak masa kenabian Muhamad SAW. Bagi sebagian orang, Islam dianggap hanya sebatas menjelaskan hukum-hukum fikih yang kering itu saja. Padahal di sana terdapat pembahasan-pembasan tentang sesuatu yang bersifat ruhani. Mushtafa Hilmi salah satu contoh yang disebutkan oleh Syaikh. Dia berhasil memotret tasawuf di Mesir dengan apik dalam bukunya yang berjudul At-Tasawuf Tsaurah Ruhiah fi al-Islam.

Menurut Syeikh, ajaran seperti tasawuf ada dalam setiap agama dunia. Dalam Kristen diajarkan al-Mahabbah (cinta kasih). Dalam agama Yahudi juga terdapat tuntunan mengenai alam metafisik. Agama-agama samawi itu bertemu dalam satu titik urgen “etika”, yang menjadi bidikan utama tasawuf. Perkembangan gejala agamis adalah fenomena yang tak terhindarkan dimuka bumi dewasa ini.

Syeikh kemudian berpesan “Kalian merupakan duta negara. Jangan hanya mencukupkan diri untuk hadir dalam muhadarah (ruang kuliah) saja karena ilmu itu sangat luas. Baca buku-buku yang berkualitas. Karena mencukupkan diri dalam ruang kuliah tak cukup.”

Syeikh sempat menukil ungkapan Abu Al-Ala’ Afifi, seorang pemikir Mesir yang mendalami karya-karya Ibn Arabi, terkait puncak konsep tauhid ala Ibn Arabi: bila setiap orang muslim menyebut la ila ha illah (tiada Tuhan Selain Allah), kelompok Asy’ari menyebut la fa’ila illa allah (tiada yang menciptakan selain Allah). Maka Syaikh Akbar Ibn Arabi menyebutkan, la maujuda Illa Allah (tak ada yang wujud selain Allah [karena yang lain adalah tajalli Tuhan]). Terma “maujud” mempunyai beberapa takwil, salah satunya tidak ada sesuatu di dunia ini kecuali dzat Tuhan.

Selanjutnya, Syeikh memunculkan sebuah statetemen bahwa ilmu disebut islami bila lahir dari peradaban Islam. Meski terdapat kemiripan dengan konsep dan ajaran agama Kristen dan Yahudi tapi tasawuf masuk ilmu Islam. Ilmu-ilmu Islam mempunyai objek yang sangat luas, termasuk kedokteran.

Kemudian Syeikh melanjutkan pemaparannya dengan sebuah pertanyaan mendasar “Apa definisi tasawuf sesungguhnya? Mengapa di sana terdapat banyak sekali definisi mengenai tasawuf.” Maka menurutnya, cukup dijawab dengan satu kata “As-Shidq” (kejujuran-keteguhan-kebenaran), baik ketika berinteraksi dengan makhluk maupun dengan Sang Khalik.

Menurut Syeikh, tidak ada agama yang diwariskan dengan jaminanan validitas seperti Islam. Ia mutawatir secara lisan dan dikodifikasi dalam bentuk tulisan dari generasi ke generasi. Tugas seorang nabi adalah menerangkan syariat, prakteknya, dan mengantar ruhaniah pengikutnya kepada Tuhan. Keempat khalifah yang menjadi pemimpin kaum Muslimin paska wafatnya Nabi berhasil mengumpulkan tiga elemen dasar Islam itu. Menurut Syeikh, jangan pernah membayangkan aplikasi syariat akan sampai pada pencapaian para khalifah rasyidah karena mereka dididik langsung dalam sebuah madrasah istimewa: tarbiyah nabawiah (pendidikan langsung dari Nabi).

Syeikh menutup kuliahnya dengan sebuah ungkapan singkat “takhallaqu bi akhlaqillah” (berakhlaklah kalian dengan akhlaq Allah). Hingga acara berakhir, Syeikh berhasil memukau para audiens. Kewibawaan dan kehangatan serta senyum Prof. Dr. Hasan Mahmud As-Syafi’i sanggup membuat para peserta tak mampu beranjak kaki meninggalkan ruangan.


Redaktur     : A. Khoirul Anam
Kontributor : Muslihun

BNI Mobile